Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Sosok

JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

M Tohir
28/04/2026
JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

Malam pukul 7 kisaran tahun 2013, saya pernah sengaja mencegat JFX Hoery di perempatan TPK, Bojonegoro. Saat itu saya tahu bahwa setiap malam Selasa Mbah Hoery (begitu ia disapa) menjadi narasumber tetap di acara Istana Ngudi Kaweruh atau disingkat INK, sebuah program di radio Istana FM. Sebuah acara tentang sejarah kampung-kampung di Bojonegoro di mana pendengar bisa berdialog secara interaktif dan konsultasi tentang sejarah desa masing-masing.

Kalau tidak diantar jemput oleh kawannya, Harry ‘Guru’ Noegroho (aktivis kepurbakalaan dan pendiri Museum 13 yang kini sedang sakit), Mbah Hoery berangkat pulang dengan ngebis. Rumahnya di Padangan bisa ditempuh dengan bus. Saat berangkat dia naik bus Ngawi-Bojonegoro pada sore hari. Tapi saat pulang ke Padangan bus trayek itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya dia naik bus Surabaya-Purwodadi pada sekitar 11 malam. Di jam itulah beliau pulang. Itu dilakoninya selama puluhan tahun, dari tahun 1999 hingga 2020 tepatnya saat pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu. Sekarang acara itu masih ada. Tapi sepertinya sudah bergeser. Bukan lagi tentang sejarah, melainkan tentang cerita-cerita makhluk halus.

Pada kisaran 2013 itu saya tinggal di rumah kontrakan yang saya dan kawan-kawan sebut sebagai Rumah Baca!, markas Komunitas Sindikat Baca. Letaknya tak jauh dari Istana FM, tempat Mbah Hoery siaran. Beberepa kali kami papasan saat beliau berangkat menuju Istana FM dengan berjalan kaki. Atau pulangnya. Beberapa kali saya hanya membiarkannya berjalan sendiri. Namun satu – tiga kali saya sengaja mencegatnya, menunggu sambil makan nasi kucing di Warung Sukidjan, tak jauh dari titik turun bus Mbah Hoery. Saya berlagak tidak sengaja bertemu padahal sengaja menunggunya.

Meski hanya memboceng beliau di motorku yang shock-nya mati, saya sudah senang sekali. Itu sudah cukup menyuntikkan spirit kepadaku sekaligus tamparan positif bahwa yang kami anak-anak muda lakukan di gerakan literasi itu tak ada apa-apanya dibanding beliau.

Mungkin yang saya lakukan itu adalah hal yang konyol. Tapi buat saya itu penting. Seperti sebuah mistikum. Itu sama rasanya seperti saat saya bertemu Seno Gumira Ajidarma pada suatu waktu saat “pemilik senja” itu sedang ada suatu kegiatan di Jombang. Di pertemuan itu, sembari meminta tanda tangan pada bukunya yang saya beli, Seno menatap saya.

Itu pula yang saya dapat saat mengunjungi Mbah Hoery di rumahnya beberapa hari lalu, Sabtu 25 April, dalam program Jurnalistik Trip #4 yang digelar Mastumapel. Program ini mempertemukan peserta dengan tokoh, peristiwa atau tempat tertentu untuk menggali semangat dan mengabarkannya ke publik. Jurnalistik Trip sebelumnya ke kebun kopi di Sumberrejo, petani milenial di Kapas, dan pengusaha batik ecoprint di Trucuk. Kali ini ke penulis sastra Jawa, JFX. Hoery.

Di tengah perjalanan, sempat lamunan saya sosok Mbah Hoery sebagai lelaki tua pensiunan yang duduk di kursi malas sambil melamun dan meromantisasi masa lalu. Tapi tentu saja itu lintasan bayangan yang sesat. Mbah Hoery layaknya tokoh Santiago dalam The Old Man and the Sea karya Hemingway.

Bagaimana tidak, begitu masuk ruang tamu rumahnya, sebuah layar komputer di di atas meja kerja menampilkan sebuah halaman desain sampul buku. Masih menyala terang, pertanda belum lama diotak-atik. Kedatangan kami menghentikan apa yang dia kerjakan.

“Ini sedang mengerjakan buku, sampulnya yang bikin Ekwanto (pelukis dari Kalitidu),” kata Mbah Hoery menjelaskan.

Hingga kini Mbah Hoery telah menulis 22 judul buku tunggal. Ditambah file yang terpampang sampulnya di komputer itu, akan jadi 23. Rencana judulnya Pamoring Kawula Gusti, sebuah kumpulan geguritan (puisi dalam bahasa Jawa). Disebut buku tunggal karena, selain menulis buku sendiri, Mbah Hoery kerap juga menulis secara bersama penulis lain. Jika itu dihitung, malah tak terbilang jumlahnya. Baik cerkak maupun geguritan atau yang lainnya.

Tentu saja itu bukan yang terakhir. Sepertinya selama nyawa masih dikandung badan dan energinya masih memadai, Mbah Hoery tak akan berhenti berkarya. Sebagaimana ia mengaku menolak pada batas usia.

“Umurku lagi wolung puluh siji,” katanya.

Mbah Hoery menjelaskan, dengan mengatakan “lagi”, bukan “wis” itu menunjukkan sikapnya yang menolak tunduk pada usia. Tentu saja itu bukan sikap yang jumawa. Karena itu juga sebagai pengharapan Mbah Hoery pada Sang Pemberi Hidup untuk terus memberikan tambahan umur. Tentu itu kabar yang menggembirakan. Umur panjang bagi orang baik adalah berkah. Napas perjuangan seorang pemelihara sastra Jawa di Bojonegoro masih panjang.

Sepanjang kira-kira satu jam berkunjung, Mbah Hoery menceritakan banyak hal. Mulai dari awal mula dia menulis, kebiasaannya membaca, pertemuannya dengan tokoh-tokoh hebat, dunia pendidikan, prosesnya berkarya, riwayatnya yang pernah jadi anggota DPRD, kerja pengarsipannya dan lain-lain.

Mbah Hoery saat ini masih aktif di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro atau PSJB, meski bukan lagi sebagai ketua. PSJB sendiri merupakan sebuah komunitas di Bojonegoro yang secara konsisten memelihara, meneliti dan mengembangkan bahasa Jawa. Dari tahun 1980 an hingga kini. Dalam waktu dekat ini PSJB juga hendak menggelar sarasehan sastra Jawa dengan melibatkan 100 peserta. Mbah Hoery mengatakan kegiatan tersebut didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Mbah Hoery bukan orang yang muluk-muluk. Nyatanya, jalan menulis sastra berbahasa Jawa dijalaninya bukan karena motif yang menjulang ke langit. “Karena saya orang Jawa. Orang Jawa ya berbahasa Jawa,” kata dia.

—–

M Tohir, perancang sampul buku penerbit NUNTERA

Tags: BojonegoroJFX HoeryPenulisSastra Jawa
Previous Post

JFX Hoery, Mutiara di Ujung Barat Bojonegoro 

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

08/04/2026
Bojonegoro Book Party Pertemukan Para Pembaca Buku di Taman Lokomotif

Bojonegoro Book Party Pertemukan Para Pembaca Buku di Taman Lokomotif

12/04/2026
7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga  Cara Melihat Semesta

7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga Cara Melihat Semesta

08/04/2026
Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

21/04/2026
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

07/04/2026
JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

JFX Hoery: Umurku Lagi Wolung Puluh Siji

28/04/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023