Pagi itu, sekitar pukul 08.07 WIB Sabtu (25/4/2026), aku bersiap mengunjungi dan bersilaturahim ke salah satu penulis legendaris di Padangan, Bojonegoro. Ini adalah kegiatan Jurnalistik Trip yang digelar Mastumapel. Aku berangkat sendiri menggunakan motor, yang nantinya bergabung dengan romongan Pak Nanang. Sebelumnya aku tidak tau dimana letak rumah yang akan dituju, lalu aku memutuskan bertemu di pertigaan pasar Purwosari.
Rumah yang kami tuju begitu berbeda. Penuh dengan tumpukan buku, piagam penghargaan terpajang di dinding, foto-foto waktu muda, dan komputer yang menyala di atas meja menampilkan gambar sampul buku yang masih dalam proses finishing.
“Monggo pinarak,” ujar pria tua yang memakai udheng (pengikat kepala khas jawa) yang melingkar di kepalanya dan memakai kaos merah yang menyambut kedatangan kita sambil menjabat tangan kita satu persatu. Beliaulah JFX Hoery, penulis legendaris yang kita tuju hari ini.
Setelah semua masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan, Pak Nanang mulai membuka percakapan. “Kedatangan kami ini, ingin mendengar kisah inspiratif dan ingin meneladani semangat Bapak,”. Mendengar itu Pak Hoery tersenyum dan kemudian memulai menceritakan pengalaman-pengalaman beliau.
Pak Hoery merupakan Seorang penulis sastra legendaris yang yang sangat menginspirasi. Beliau lahir pada tahun 1945. “Saya baru berumur 81 tahun,” katanya. “Setiap kali saya ditanya soal umur, saya selalu menjawab baru berumur 81 tahun. Karena kalau saya jawab sudah berumur 81 tahun seakan-akan saya membatasi umur saya,” lanjutnya sambil tersenyum memperlihakan giginya yang mulai jarang.
Kegemarannya menulis diawali dengan kegemarannya membaca, dan mendengar cerita. “Dahulu ketika saya duduk di bangku SMP, saya suka mendengar cerita dari guru saya. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, guru saya selalu membaca cerita, dan dari situ menjadikan saya ingin menulis cerita seperti yang saya dengar dari guru saya,” jelasnya.
Dengan kegemarannya menulis, beliau menghasilkan banyak sekali karya, Total karyanya yakni 22 buku yang terdiri dari gurit, cerkak, crita rakyat, dan puisi, yang semuanya menggunakan bahasa jawa. Karya pertamanya ada di majalah dinding waktu sekolah SMP.
Cerita terus berlanjut, ruangan terasa hening menyisakan suara Pak Hoery yang menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Setiap kali Pak Hoery bercerita, aku sangat kagum. “Kok ada ya orang hebat seperti beliau,” gumamku dalam hati. Sepanjang Pak Hoery bercerita rasanya aku ikut bangga, dengan segala prestasi dan karya yang beliau ciptakan. Beliau mendapatkan banyak sekali penghargaan tingkat lokal maupun nasional. Cerita yang begitu runtut dan mudah dipahami membuat kita terasa masuk dalam cerita tersebut.
Suara kendaraan berhenti di depan rumah. Tampaknya, Pak Hoery juga menunggu tamu lain, yang ternyata tamu dari anaknya. Kami pun diajak ke lantai dua. Pak Hoery kemudian melanjutkan cerita di lantai dua yang merupakan perpustakaan peribadinya. Sesampainya di lantai dua kita di sambut oleh deretan buku, beberapa wayang, dan majalah-majalah lawas yang terawat dan tersusun rapi di rak buku tersebut. Kami mulai mengelilingi perpustakaan kecil tersebut. Yang memiliki tiga ruangan yang didominasi oleh buku-buku, majalah dan barang-barang bersejarah. Melihat buku-buku yang sangat terawatt, menandakan sayangnya Pak Hoery terhadap buku-buku yang dimilikinya.
Beliaupun melanjutkan ceritanya yang sempat terpotong di ruang bawah tadi. Di saat merasakan kebosanan, Pak Hoery malah memilih membaca buku.“Saya kalau lagi bosan biasanya baca-baca buku. Kalau bangun tidur pun saya langsung cari buku untuk dibaca dari karya saya sendiri maupun karya orang lain. Tapi biasanya juga ngerawat tanaman di depan rumah itu,” jawabnya sambil tersenyum.
Lagi-lagi aku kagum dengan beliau, di usia yang sudah tua beliau tetap konsisten dengan buku-buku koleksinya dan masih produktif menulis sampai sekarang.
Ketika berkeliling dan melihat deretan buku-buku, mataku tertuju pada buku-buku tebal yang berderet rapi berdasarkan tahunnya. Punggung buku tersebut bertuliskan kode angka yang sulit ku mengerti. “Pak ini maksudnya apa?,” tanyaku pada teman rombongan. “Itu majalah zaman dahulu” jawabnya singkat. “Tapi kok tebel banget ya? Terus kode ini kode apa?” tanyaku penasaran sambil menunjuk kode di buku tersebut. “Itu aslinya tipis mbak, tapi Pak Hoery suka mengumpulkan majalah-majalah itu dari beberapa edisi pertahunnya. DL itu Djaka Lodang, nama majalah zaman dahulu,” jawabnya panjang lebar.
Di rak tersebut berjajar banyak sekali majalah yang serupa dari beberapa majalah lawas seperti Mekarsari, Djoko Lodang, Jaya Baya, dan lainnya yang belum sempat aku cari tau arti dari kodenya. Majalah tersebut tersusun rapi dari tahun 1978 sampai 2025, mungkin beberapa majalah lawas tersebut sekarang sudah tidak terbit lagi. Selain majalah, Pak Hoery juga mengoleksi novel, cerpen,cerita rakyat dan buku-buku lain.
“Monggo pak dijamin,” suara anaknya yang membawakan kue bikang dan pukis yang disuguhkan di atas meja. “Monggo-monggo, dihabiskan. Saya di sini hanya dua orang dengan istri saya. nanti siapa yang makan kalau enggak dihabiskan,” tambah Pak Hoery. Hari itu, kebetulan anak Pak Hoery berkunjung membawa kue. Kami pun memakan kue tersebut sambil terus mendengar kisah-kisah Pak Hoery yang menarik tersebut.
Percakapan semakin hangat dan menarik, sampai kita tidak sadar adzan duhur berkumandang. Kami pun berpamitan. Pak Hoery membuka lemari tua di belakang, dan menyodorkan beberapa buku warna putih bertuliskan “pasewakan”. Aku kaget, campur senang sekali mendapat karya beliau. “Ini dibawa pulang, buat kenang-kenangan dari sini” ujar Pak Hoery. Kami pun berterimakasih dan berfoto untuk kebutuhan dokumentasi, lalu ke bawah untuk melnjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di lantai bawah, tak lupa kami meminta tanda tangan beliau di buku baru tersebut. Dan berpamitan untuk pulang.
__
Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya








