Suasana tenang begitu terasa setelah kami masuk halaman rumah lama gaya arsitek Belanda. sebuah papan nama besar bertuliskan “Kerupuk Klenteng Rasa Asli” terbaca jelas. Tak jauh dari bangunan itu, berdiri megah tempat ibadah Tri Dharma, Klenteng Hok Swie Bio Bojonegoro. Pagi itu, Sabtu (16/5/2026) beberapa pembeli tampak keluar masuk bergantian, menenteng kantong plastik putih berlogo merah ikonik.
Bagi masyarakat Bojonegoro, kudapan renyah ini bukan sekadar teman makan soto atau pendamping nasi. Ia adalah lembaran sejarah yang terus bertahan menembus zaman. Saya sendiri punya cerita persinggungan dengan Kerupuk Klenteng. Yakni lima tahun lalu dalam sebuah podcast dariNOL. Kangen terobati berkat inisiatif Jurnalistik Trip yang dimotori oleh Mastupamel.com. Kami berkesempatan ngobrol lagi di rumah lawas bercat putih dengan corak hijau itu, lalu disambut hangat oleh sang pemilik generasi keempat, Anton Indarno.
Sambil menyuguhkan air mineral dan jajanan di atas meja kayu yang bersahaja, pria yang akrab disapa Mas Anton ini mulai mengurai jalinan kisah usaha keluarganya yang telah dirintis sejak tahun 1929 oleh kakek buyutnya, Tan Tjian Liem. Cukup lama, resep legendaris itu dirawat dengan penuh ketekunan.
Namun, di balik renyahnya sebuah kerupuk, ada satu teka-teki yang terus mengusik benak saya. Apa sebenarnya rahasia pola pikir (mindset) para pengusaha Tionghoa sehingga mampu membangun fondasi bisnis yang begitu kokoh dan tak runtuh digerus waktu?
Ketika pertanyaan itu saya ajukan, Mas Anton tersenyum tipis. Jawabannya singkat namun sarat makna: “Jangan mudah menyerah dan terbukalah dengan hal baru.”
Kalimat itu mungkin terdengar klise di telinga awam, namun di tangan keluarga ini, ia adalah pegangan hidup. Dari generasi ke generasi, Kerupuk Klenteng menghadapi ombak situasi dan kondisi zaman yang berbeda. Krisis ekonomi, perubahan peta politik, hingga pergeseran selera pasar telah mereka lalui dengan kepala tegak.
“Tantangannya selalu berganti, dan semua bisa terlewati hanya karena konsistensi dalam mewujudkan tujuan awal. Sebagai pengusaha, kita dituntut adaptif terhadap kondisi apa pun. Membuka diri dan menerima hal baru, bahkan tidak hanya dalam urusan bisnis, melainkan di segala aspek, termasuk pendidikan,” ungkap pria yang dahulu sempat menggeluti dunia fotografi di Kota Surabaya ini.
Fleksibel dalam berpikir ini tidak hanya diterapkan Mas Anton dalam mengelola lini produksi, tetapi juga menembus pola hidup keluarga, terutama dalam mendidik anak-anaknya. Berbeda dengan sudut pandang lama di mana anak wajib meneruskan tongkat estafet usaha orang tua tanpa tawar-menawar, Mas Anton justru membebaskan penuh masa depan anak-anaknya sesuai dengan minat dan potensi masing-masing.
Anak sulungnya kini tengah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, menyelami dunia modern lewat jurusan Food Science, sementara anak keduanya masih duduk di bangku SMP.
“Saya bebaskan mereka sekolah apa saja sesuai kemauan, tetapi tetap dalam kontrol penuh. Kalau nilainya bagus, silakan lanjut. Karena menyukai sesuatu saja tidak cukup, harus dibuktikan dengan tanggung jawab dan hasil nilai yang baik,” tegasnya beralasan.
Sentuhan Ibu dan Kesetiaan hingga Empat Dekade
Obrolan kami kian menghangat ketika sosok wanita senja berjalan perlahan mendekati meja. Ia adalah ibunda Mas Anton. Dengan keramahan yang tulus, sang ibu mempersilahkan kami melongok langsung ke dapur produksi di bagian belakang rumah.
Di sinilah rahasia keaslian rasa itu terjaga. Di era modern di mana banyak industri menyerahkan pengawasan sepenuhnya kepada mesin atau buruh upahan, Mas Anton bersama sang ibu justru bertindak langsung sebagai benteng terakhir penjamin mutu (quality control). Setiap potong kerupuk yang keluar dipastikan memenuhi standar rasa yang sama seperti yang dinikmati warga Bojonegoro berpuluh-puluh tahun lalu.
Keunikan lain yang kami temukan adalah ikatan kekeluargaan yang begitu kental di ruang produksi. Manajemen Kerupuk Klenteng dikelola dengan sistem yang terstruktur namun tetap humanis. Dari sekitar 12 karyawan tetap yang bekerja setiap hari, beberapa di antaranya ternyata telah mengabdi lebih dari 40 tahun. Jam terbang yang tinggi ini melahirkan SDM yang sangat terampil secara alami.
“Mereka mengaku nyaman bekerja di sini karena sudah kami anggap seperti keluarga sendiri,” kata Mas Anton dengan nada bangga.
Ketika permintaan pasar sedang melonjak, Mas Anton memberdayakan warga sekitar yang berprofesi sebagai petani untuk bekerja paruh waktu (freelance). Sinergi lokal inilah yang membuat roda bisnis bergerak harmonis dan menghidupkan ekonomi lingkungan sekitar.
Sains, Mekanisasi, dan Warisan Budaya
Untuk mengejar target produksi yang kini mencapai 2 hingga 3 kuintal per hari, sentuhan modernisasi memang tak bisa dihindari. Uniknya, alat mekanis yang digunakan di pabrik ini lahir dari buah pemikiran kreatif Mas Anton sendiri. Berbekal logika berpikir yang sistematis, ia merancang konsep alatnya, lalu meminta pihak teknisi untuk mengeksekusinya.
“Tentu tidak langsung sempurna. Beberapa alat buatan kami ini butuh waktu untuk uji coba dan terus disempurnakan,” kenangnya sembari menunjukkan mesin buatannya yang mengedepankan kualitas dan food grade.
Langkah adaptif ini kian menemukan momentumnya setelah Kerupuk Klenteng Bojonegoro resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBi) oleh Kementerian Kebudayaan. Pengakuan ini membuat Mas Anton mulai menata ulang strategi bisnisnya ke level yang lebih tinggi. Kini, ia tengah sibuk meremajakan desain kemasan, mengelompokkan jenis produk, serta membidik target pasar yang lebih spesifik berdasarkan kelas konsumen.
Meski strategi modern mulai disuntikkan, ada satu prinsip penjualan klasik yang tetap dipertahankan, sistem ritel langsung di tempat. Hingga hari ini, pembeli harus datang langsung ke lokasi untuk bertransaksi. Sebuah keputusan yang sengaja dirawat agar konsumen bisa merasakan langsung pengalaman (experience) melihat kerupuk digoreng dan dikemas hangat-hangat.
Konsep kemitraan jarak jauh atau reseller pun belum dibuka secara luas karena mahalnya biaya distribusi logistik. Maklum, kerupuk adalah komoditas yang dihitung berdasarkan volume ruang (quantity/kubikasi), bukan berat kiloan, sehingga ongkos kirimnya kerap kali kurang ramah di kantong.
Dan…..matahari sudah sampai ubun-ubun saat kami bersama peserta lain berpamitan dari rumah masa kolonial itu. Kami pulang tidak hanya membawa buah tangan sekantong kerupuk yang renyah, melainkan sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah warisan lama bisa tegak berdiri melintasi zaman. bukan dengan menolak arus kebaruan, melainkan merangkulnya tanpa pernah kehilangan jati diri.
___
Penulis adalah penyiar radio dan host chanel dariNOL









