Bojonegoro punya dua kuliner lokal yang diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBi). Yakni Ledre dan Kerupuk Klenteng. Sebagai bagian dari upaya menapaki jejak rasa Kerupuk Klenteng, Jurnalistik Trip #5 Mastumapel digelar dengan tujuan lokasi “pabrik”-nya, Sabtu (16/5/2026) lalu.

Peserta Jurnalistik Trip #5 ini beragam latar belakang. Ada pelajar, mahasiswa, guru, dosen, penyiar radio hingga jurnalis. Kami para peserta melakukan wawancara langsung dengan Anton Indarno, generasi keempat Tan Tjian Liem sang inovator kerupuk. Anton memegang kendali produksi Kerupuk Klenteng sejak 2010.
Kami duduk melingkar di bawah pohon mangga, di tengah rumah peninggalan Tan Tjian Liem di Jl. Jaksa Agung Suprapto. Pabrik kerupuk ini tepat di timur rumah utama. Lokasi produksi kerupuk ini amat sibuk dengan 12 karyawan.
Kerupuk Klenteng sudah ada sejak 1929. Anton sebagai generasi keempat merawat bisnis ini dengan ketekunan. Tak mudah memang, apalagi profesi sebelumnya adalah fotografer di Surabaya. Tapi, ia terus belajar untuk berinovasi dalam bidang kuliner. Banyak hal telah dilakukannya, mulai meremajakan alat hingga penjualan online.
Proses Panjang Produksi Kerupuk
Usai berbincang di bawah pohon mangga, kami diajak Anton berkeliling melihat langsung proses pembuatan kerupuk dan menyapa para karyawan yang sudah berpuluh tahun bekerja di sana. Bahkan sejak pabrik masih dijalankan orangtua dari Anton.

Di mesin percetakan, seorang laki-laki mengoperasikannya. Satu lagi menata kerupuk itu di atas widik, semacam nampan dari anyaman bambu berbentuk persegi panjang. Widik-widik itu ditumpuk. Lalu oleh karyawan lain, seorang perempuan paruh baya, kerupuk-kerupuk di widik itu dikukus. Proses pengukusan juga menggunakan mesin. Mesin itu berbentuk persegi, tinggi dengan pintu lebar. Menurut Anton, mesin-mesin itu baru ada ketika ia memegang pabrik.
“Dulu masih manual semuanya, termasuk ngukus ini. Jadi karyawan mainnya insting, oh ini suhunya sudah sesuai, sudah matang, harus segera diangkat,” cerita laki-laki berkacamata tersebut.

Setelah dikukus, kerupuk-kerupuk dijemur di bawah terik matahari. Jika matahari terang dan panas, butuh sekitar 3 jam agar kerupuk kering. Namun, jika musim penghujan, butuh sekitar 1-3 hari. Meski begitu, Anton juga menyiapkan oven untuk mengeringkan kerupuk.
Usai dijemur, agar kandungan air benar-benar menyusut, kerupuk juga melalui proses pengeringan menggunakan pengapian manual. Kerupuk-kerupuk tersebut dijajar di atas bara api dalam tungku besar persegi, setinggi mesin pengukusan.
Setelah kering sempurna, kerupuk yang masih menempel satu sama lain dipatahkan menggunakan mesin. Setelah dipatahkan dengan mesin, kerupuk mentah masih harus dirapikan manual dengan cara digunting oleh tiga karyawan.

Baru setelah rapi, kerupuk digoreng di tungku tradisional berbahan bakar kayu dan sekam. Kerupuk melalui 2 kali proses penggorengan. Pertama menggunakan minyak dengan tingkat panas sedang. Kedua dengan minyak panas hingga 250°c. Usai digoreng, kerupuk siap disortir dan dijual.
Mesin-mesin produksi, kata Anton, didapat dengan pesan khusus kepada mekanik. Ia mengaku melakukan beberapa ujicoba hingga mendapatkan mesin yang sesuai.
“Jadi mesin ini juga mengalami ujicoba. Saya pingin desain seperti ini, fungsinya seperti ini. Saya jelaskan ke mekanik. Dibuat, saya coba, ada yang kurang diperbaiki. Semua mesin sudah menggunakan stainless. Jadi semua sudah dilapisi stainless agar aman,” ungkap Anton.
Patenkan Merek
Hal pertama yang dilakukan Anton ketika memutuskan untuk fokus meneruksna bisnis keluarga adalah mematenkan mereknya sekaligus mengurus keperluan dagang lainnya seperti sertifikasi halal.
Menurut Anton, kerupuk klenteng awalnya berasal dari penyebutan para pelanggan di zaman kakek buyutnya. Karena rumah tinggal sekaligus produksinya berada di timur Klenteng Hok Swie Bio, para pelanggan menyebut kerupuk yang dijual di samping klenteng dan akhirnya lahirlah nama kerupuk klenteng.
“Beli kerupuk di mana? Oh itu loh di samping klenteng. Terus akhirnya mereka menyebut kerupuk klenteng,” ujar Anton.
Kerupuk klenteng di generasi kedua, yakni nenek Anton, dijual per teban. Satu teban berisi 5 pcs kerupuk klenteng. Lalu di generasi ketiga, yakni ayah dari Anton, kerupuk klenteng dijual dengan timbangan atau per kilogram. Lantas di generasi Anton, ia berinovasi menciptakan 3 jenis kemasan yang semua sudah food grade.
Kemasan reguler menggunakan kantong kresek putih dan ditali menggunakan rafia yang dijual paling sedikit kemasan 1/4kg dengan harga 15k.
“Kresek putih tidak semuanya food grade. Jadi dicek dulu di lab, kandungannya apakah aman untuk makanan. Setelah oke baru kita pakai,” terang Anton. Anton juga mencetak label di kemasan reguler.
Tingkat atasnya reguler ada Top Cemerlang yang melalui proses penyortiran satu kali untuk mendapatkan kualitas kerupuk yang lebih baik dari kerupuk reguler. Kemasan ini menggunakan bahan aluminium foil dan dibungkus totebag warna hijau. Kerupuk menggunakan kemasan top cemerlang bisa bertahan selama 90 hari, cocok untuk oleh-oleh luar pulau.

Sedangkan Kerupuk Klenteng yang disortir dua kali masuk dalam kemasan top premium. Kemasan ini mampu melindungi kerupuk selama 30 hari. Cocok untuk oleh-oleh luar kota.
“Dulu ada orang Montong-Tuban yang kalau datang bisa kulak sampai satu kwintal,” cerita Anton mengingat salah satu reseller bapaknya.
Seiring berjalannya waktu, reseller kerupuk klenteng tidak semasif zaman bapaknya. Meski begitu, reseller tetap ada, tapi lebih banyak yang beli langsung di pabrik dan melalui online.
Anton bercerita sudah lama menjalankan pemasaran melalui online. Namun, ia terkendala oleh volume kerupuk klenteng. Ia berharap, pemerintah mungkin bisa membantu dalam subsidi ongkir untuk pelaku UMKM.
“Siapa tahu pemerintah bisa memberikan support, dukungan ke UMKM yang produknya seperti kerupuk dan kena volume. Dibantu pemerintah untuk menyediakan satu struk atau apa yang lebih murah (untuk pengiriman online),” harap Anton.
Selama ini, ia mengirim Kerupuk Klenteng menggunakan Pandu Logistik jika masih di area Jawa Timur. Jika di luar Jawa Timur dan masih di pulau Jawa, menggunakan ekspedisi kereta Herona Express. Jika di luar pulau Jawa, ia menggunakan JNT Cargo.
Menjaga Hubungan dengan Karyawan dan Pelanggan
Menurut Anton, promosi paling ampuh adalah rekomendasi dari pelanggan. “Pelanggan cerita ke temannya, kerupuk ini loh enak. Jadi seringnya orang beli karena rekomendasi,” kata Anton.
Oleh sebab itu, ia menjaga hubungan baik kepada para pelanggan dengan terus memberikan pelayanan prima. Ia percaya, promosi dari mulut ke mulut lebih meyakinkan calon pelanggan baru.
Selain itu, Anton juga merawat hubungan baik dengan para karyawan. Salah satu penggorek kerupuk yang sudah bekerja lebih dari 40 tahun mengaku krasan bekerja di depan perapian yang panas. “Sudah nyaman soalnya dapat uang,” selorohnya diiringi tawa.
Karyawan yang sudah bekerja sejak generasi bapak Anton itu mengaku diperlakukan baik hingga sekarang. “Bosnya sayang sama karyawan. Jadi kita ya sayang sama bosnya, saling sayang,” ungkapnya.
Tidak hanya pemilik dan pemimpin yang melakukan regenerasi, karyawan di pabrik kerupuk klenteng juga melakukan regenerasi. Beberapa karyawan sekarang adalah anak dari karyawan sebelumnya.
Saat ini, Anton bercita-cita memiliki Laboratorium Research and Development (RnD) untuk pabrik kerupuknya. Ia berharap, bisa lebih baik melakukan penelitian untuk menjaga kualitas produksi dan terus berinovasi. “Kalau misak supplayer baru, kita bisa langsung ujicoba bahannya. Apakah sesuai dengan SOP kita atau tidak, jika sesuai bisa kita coba dulu beli berapa gitu,” terang Anton.
Menurutnya, supplier boleh berganti, tapi kualitas bahan harus sama agar rasa asli kerupuk klenteng tetap terjaga. Dalam produksinya, kerupuk klenteng memang tidak menggunakan pemekar dan pengawet sehingga melahirkan rasa yang gurih alami.
Kerupuk Klenteng Menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Pada 2024, kerupuk klenteng resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Anton mengaku melalui proses yang panjang mulai dari penulisan sejarah dan perjalanan kerupuk klenteng menjadi buku. Banyak akademisi yang terlibat dalam proses tersebut hingga akhirnya kerupuk klenteng ditetapkan sebagai WBTBI.
Dari proses yang panjang itu, sekarang pabrik Kerupuk Klenteng tidak hanya sebagai produsen kerupuk, tapi juga tempat penelitian, wisata dan tour pendidikan. “Sudah ada 4 penelitian yang dilakukan mahasiswa di sini,” ujar Anton.
Ia juga baru saja kedatangan satu bus rombongan pariwisata dan sering kedatakan rombongan pelajar. Anton menutup perjumpaan itu dengan memberikan tips berbisnis menurutnya. Bagi Anton, dalam hal apapun, diusahakan agar tidak mudah menyerah.
“Bukan hanya di bidang bisnis saja, tapi dalam hal apapun usahakan jangan mudah menyerah. Lalu mau mengikuti perubahan zaman dan suka membuat sesuatu yang baru (berinovasi),” pungkasnya.









