Kerupuk Klenteng bukan hal baru buatku. Sejak kecil, kerupuk ini sering hadir di keluargaku sebagai santapan pelengkap sehari-hari ataupun dalam acara tertentu seperti Yasinan atau Tahlilan. Ibuku membelinya dari toko dekat rumah. Aku tak punya ketertarikan untuk bertanya dari mana asal dan bagaimana kerupuk ini dibuat. Ketidaktertarikanku saat itu mungkin karena rasanya yang bagiku kurang bersahabat. Aku lebih suka kerupuk-kerupuk lainnya yang memiliki rasa ikan, bawang, dan semacamnya.
Baru pada tahun 2018, saat ikut dalam proyek buku Bodjonegoro Tempo Doeloe, aku jadi tahu lebih jauh kerupuk yang familiar sejak kecil itu. Artikel hasil liputan dalam buku itu membahas secara menarik sejarah kerupuk ini dalam judul Secuil Cerita Kerupuk Klenteng Berdiri Sejak 1929. Ternyata kerupuk ini memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Sejak itu aku jadi sering beli sendiri ke tempatnya untuk kumakan sendiri di rumah maupun buat oleh-oleh kerabat yang datang dari luar kota. Mengetahui akan kisah panjang kerupuk ini membuat cita rasanya makin mantap.
Ketika pertama kali aku membawanya ke rumah dengan kemasan yang ada logonya, ibuku kaget. Ibuku baru tahu kemasan itu. Ibuku lebih peka dalam merasakan makanan, saat memakannya, bilang bahwa rasanya beda dengan yang biasa dia beli. Lebih enak katanya. Aku jadi berpikir apa yang biasa dibeli ibuku sebelumnya itu bukan dari produsen yang sama. Bisa jadi itu tembakan Kerupuk Klenteng Rasa Asli ini.
Hingga akhirnya aku antusias ke lokasi kerupuk saat kesempatan itu datang. Yakni ketika Mastumapel menyelenggarakan program Jurnalistik Trip #5 ke Kerupuk Klenteng Rasa Asli pada Sabtu, 16 Mei 2026 lalu. Aku yang sedang berada di Surabaya sejak Kamis, pada Sabtu pagi pukul enam buru-buru pulang ke Bojonegoro untuk ikut serta. Sesampai Bojonegoro pukul 9 aku langsung bergabung dengan rombongan. Bersama-sama kami berangkat motoran menuju lokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 132.
Papan besar logo perusahaan berdiri menyapa di gerbang. Memasuki area pabrik, di tembok bangunan ada tempelan logo serupa, di sampingnya logo halal, peringatan pemalsuan produk Kerupuk Klenteng, serta sebuah papan petunjuk arah ke pabrik atau ke rumah. Jelas tujuan kami adalah ke rumah.
Tak lama kemudian kami disambut dengan hangat oleh Anton Indarno, penerus generasi keempat usaha Kerupuk Klenteng. Kami melewati lorong sempit antara rumah dan pabrik. Di sepanjang tepian jalan sempit itu ada papan ucapan berukuran besar dari beberapa tokoh atas ditetapkannya Kerupuk Klenteng sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) oleh Kementerian Kebuduyaan Republik Indonesia.
Anton mempersilakan kami duduk mengelilingi meja yang telah disediakan di teras belakang rumah beraksitektur Belanda. Panas matahari menyengat, tetapi angin berembus ritmis. Di meja disediakan camilan dan air minum kemasan.
Wajah dan tangan anton terlihat basah oleh keringat. Barangkali dia baru saja meninggalkan kesibukannya. Pekerjaan membuat kerupuk jelas identik dengan panas. Meski berkeringat, Anton tidak menunjukkan ekspresi capek. Justeru dia sangat antusias menyambut kami. Bicaranya tegas bertenaga diiringi senyum.

Kepada kami, Anton tidak secara tegas mengaku sebagai pemilik, manajer, atau jabatan penting lainnya selayaknya perusahaan umumnya. “Kalau di bisnis tradisional ya gitu. Pemilik ya pengelola,” kata Anton disusul tawa.
Sembari memegang dua buku, Anton menceritakan perjalanan kerupuk klenteng yang berdiri pada 1929 hingga sekarang dipegangnya. “Secara lengkap sebenarnya sudah ada di buku ini, mulai dari kerupuk apa sampai sejarah secara runrut dan lengkap,” katanya sembari menunjukkan buku Gurih Alami Kerupuk Klenteng Rasa Asli (Brangwetan, 2023).
Bisnis keluarga ini dirintis oleh Tan Tjian Liem dan sang istri Oei Hay Nio, yang merupakan kakek dan nenek buyut Anton. Dulu mereka memiliki toko kelontong di dekat pasar kota yang mungkin dikarenakan kesalahan manajemen kemudian tutup. Tan kemudian belajar membuat kerupuk di Sidoarjo bersama dua orang temannya. Setelah dirasa mampu, mereka mulai berbisnis kerupuk sendiri. Bisnis kerupuk itu tak bertahan lama karena tidak menguntungkan bahkan cenderung rugi sampai akhirnya tutup. Dua rekannya memilih pulang kampung. Tan tak menyerah, sempat membuka usaha kain batik, tapi lagi-lagi tidak menguntungkan. Kemudian Tan pulang ke Bojonegoro.
Setelah memikirkan secara matang hendak berbisnis apa, pada 18 Maret 1929, Tan dan Oei kembali menekuni bisnis kerupuk yang mampu bertahan hingga saat ini. Anton sendiri adalah generasi keempat keluarga Tan.
Kerupuk abang ijo ini awalnya berwarna putih, tapi dirasa kurang menarik bagi pembeli. Pembeli kurang antusias. Akhirnya kerupuk ini dikasih warna hijau, merah dan kuning seperti sekarang ini. Karena berwarna-warna ini orang menyebutnya Kerupuk Abang Ijo. Adapun sebutan kerupuk klenteng itu karena lokasi pabrik berada tak jauh dari Klenteng atau Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Swie Bio Bojonegoro.
Jenis kerupuk buatan Anton ini adalah kerupuk asli. Dalam artian belum ada campuran rasa-rasa seperti bawang, ikan, terasi dan lain sebagainya. Resepnya masih sama dengan awal mula dibuat pada 97 tahun yang lalu.
“Kerupuk legendaris khas Bojonegoro yang resepnya diciptakan oleh Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio pada tahun 1929 yang memilik rasa gurih alami dan proses produksinya tidak menggunakan bahan kimia baik pemekar, pengeras, dan lain sebagainya,” kata Anton mendefiniskan produk kerupuknya dengan sekali tarikan napas.
Bisnis ini bertahan dari generasi ke generasi dengan baik hingga di tangan Anton. Tan Tjien Liem dan Oei Hay Nio sebagai generasi pertama sudah pasti fokus pada pembangunan bisnis, meletakkan landasan produksi dan resep-resepnya.
Kemudian generasi kedua fokus pada bagaimana menciptakan pelayanan yang semestinya, manajemen keuangan yang tertata, serta penjualan yang baik. “Waktu itu kalau menjual pakai teban. Satu teban lima biji. Jadi kalau orang beli lima teban, berarti lima kali lima. Kemasannya pakai sulur, koran, dan sebagainya,” jelas Anton.
Generasi ketiga, orang tua Anton, penjualannya dengan timbangan dan kemasan mulai memakai plastik. Di generasi ini banyak reseller dalam penjualannya daripada yang membeli langsung.
Anton sendiri mulai memegang bisnis keluarga ini pada tahun 2010. Di tahun itu dia masih di Surabaya sebagai fotografer. Dia belum memegang kendali secara penuh, masih bolak-balik Surabaya-Bojonegoro karena sang ayah mulai sakit-sakitan. Lambat laun profesinya sebagai fotografer di Surabaya dia tinggalkan dan mulai fokus di kerupuk.
Anton bekerja keras mengembangkan bisnis lebih modern dan tertata. Dia mematenkan merek, membuat logo serta memastikan produk kerupuk aman dan sehat untuk konsumsi. Kerupuk Klenteng di era Anton ini dipastikan kualitasnya dengan uji laboratorium di Sucufindo. Selain kerupuknya, kemasan harus dipastikan aman. Bukan asal kresek warna putih. Kresek kemasan Kerupuk Klenteng ada sertifikatnya, namanya MSDS atau Material Safety Data Sheet. Jadi sudah food grade.
Anton menunjukkan aneka varian kemasan Kerupuk Klenteng yang ditawarkan perusahannya. Ada yang reguler mulai ukuran seperempat hingga satu kilogram. Semua dikemas dalam plastik kresek warna putih dengan logo Kerupuk Klenteng. Khusus kemasan satu kilogram, ada tambahan tulisan informasi Warisan Budaya Tak Benda. Semua itu masuk kategori reguler.
Selain yang reguler ada yang kemasan Top. Ini terobosan baru yang dilakukan Anton. Dia menangkap peluang bahwa untuk keperluan arisan, gathering, rapat, dirasa kurang pantas dengan kemasan kresek ditali rafia. Karena itu dia berinisiatif membuat kemasan baru yang dia sebut Top.
Kemasan Top ini pun ada dua macam, Top Premium dan Top Cemerlang. Keduanya melewati penyortiran yang top, melebihi sortiran yang reguler. Sementara yang reguler sendiri memiliki sortiran kategori satu, dua dan tiga. Jadi bisa dibilang dua kemasan Top ini level sortirnya di atas yang nomor satu kategori reguler.
Untuk yang Top Premium kemasannya plastik putih lebih tebal dengan klip penutup atau ziplock. Kerupuk di kemasan ini adalah yang paling bagus dengan daya tahan hingga 30 hari. Kalau orang menginginkan kerupuk dengan kualitas paling bagus, akan direkondasikan yang ini.
Kemudian untuk Top Cemerlang kemasannya berupa bungkus rapat bahan aluminium foil. Bungkusan itu dimasukkan dalam tas spunbond. Jenis Top Cemerlang ini tahan sampai 90 hari, meski kualitas kerupuknya tidak sebagus Top Premium. “Bagus dipakai oleh-oleh perjalanan jauh. Tahan lama untuk ke luar pulau. Mau dibawa ke Ambon misalnya, saya arahkan ke yang Cemerlang,” katanya.
Terlepas aneka ragam pilihan kemasan yang ada, yang paling penting buat Anton adalah kualitas kerupuknya. Anton menjaga betul resep dari tahun 1929. Benar-benar asli sejak berdiri hingga sekarang. Anton sendiri yang memastikan atau melakukan kontrol kualitasnya.
“Kadang ya masih dibantu ibu saya. Ibu saya kan yang lebih lama, dari pada saya. Kadang masih kurang gini, kurang gitu,” katanya.
Di generasi Anton, reseller tidak sebanyak seperti zaman orang tuanya. Seiring dengan berkembangnya zaman, dengan adanya medsos dan kemudahan lainnya, sekarang banyak yang membeli secara langsung dengan datang ke pabrik.
Saat ini Kerupuk Klenteng Rasa Asli sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak tahun 2024 lalu, diteken oleh Menteri Kebudayaan Fadly Zon. Prosesnya tak mudah. Harus ada risetnya. Karena itulah keberadaan buku Gurih Alami Kerupuk Klenteng Rasa Asli (Brangwetan, 2023) sangat penting. Buku itu membahas secara detail dan lengkap tentang perjalanan Kerupuk Klenteng Rasa Asli dari berbagai sisi. Bahkan buku ini juga membahas asal-usul kerupuk dan mengapa kerupuk merupakan produk budaya yang penting tanah air.
“Proses penulisannya ini serius, penulisnya riset ke mana-mana, bertanya tentang sejarah kerupuk pada profesor di UNS hingga ke UGM,” kata Anton.
Setelah cerita tentang lika-liku bisnis kerupuk yang ditekuninya, Anton mengajak kami melihat-lihat proses produksi. Mulai dari pembuatan adonan yang memakai mesin, pengukusan, pengeringan, pengovenan, penggorengan, penyortiran, hingga pengemasan.
Para pekerja mengenakan kaus bergambar logo Kerupuk Klenteng. Para pekerja ini juga memiliki kisah sendiri yang tak kalah unik. Banyak di antara mereka yang memiliki hubungan keluarga. Mereka bekerja sejak kecil hingga terlibat cinta lokasi sampai kemudian menikah.
Iseng aku bertanya kepada karyawan bagian penggorengan, bagaimana dia bisa bertahun-tahun bekerja dalam kondisi panas seperti itu. Dengan terkekeh dia menjawab bahwa itu sudah biasa. “Juragane baik. Kami dirumat dengan baik,” katanya sumringah.

Di meja sortir ukuran 3 x 4 meter, Anton menunjukkan aneka hasil penggorengan. Ada yang sempurna, ada yang tidak ngembang tidak sempurna, bahkan ada yang remuk. Sembari memegang kerupuk yang tidak ngembang sempurna, Anton mengatakan bahwa itu merupakan bukti kerupuk Klenteng itu tanpa ada bahan kimia atau obat. Sebetulnya kalau mau pakai obat, kata Anton, hal seperti ini tidak akan terjadi.
“Sebenarnya kalau mau saya kasih obat tiga sendok saja untuk satu kuintal, hasilnya akan ngembang sempurna semua seperti ini,” katanya sembari menunjukkan kerupuk kategori Top. “Untuk apa saya menipu konsumen. Sudah 97 tahun akan nggak dianggap orang itu. Lebih baik saya katakan apa adanya ke konsumen,” lanjutnya.
Setelah berkelililing ke tempat produksi kerupuk, kami diajak masuk rumah keluarga Anton. Rumah arsitektur Belanda itu terasa adem meski tanpa AC atau kipas angin. Panasnya udara Bojonegoro tak terasa di dalam rumah ini. Di sebuah ruangan yang juga digunakan untuk sembahyang, foto keluarga berjejer rapi di tembok mulai dari Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio, kedua anaknya, hingga delapan cucunya.
Dua jam lebih tak terasa kegiatan ini berjalan. Banyak cerita dan inspirasi yang kami gali. Di akhir pertemuan Anton meneguhkan prinsipnya dalam menekuni hidup. “Intinya kerja keras jangan lelah dan terus berusaha,” katanya.
Sebelum selesai kami foto bersama. Kami pulang masing-masing membawa kerupuk kemasan setengah kilogram yang masih hangat.
___
M Tohir, perancang sampul buku penerbit NUNTERA









