“Bahasa Jawa itu bahasa rasa,” kata JFX Hoery ketika ditanya mengapa begitu menyukai Sastra Jawa.
Kami berkunjung ke rumah maestro sastra Jawa itu di Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro dalam rangka Jurnalistik Trip Mastumapel #4 edisi sowan penulis pada Sabtu (25/4/2026). Rombongan kami tidak banyak, hanya tujuh orang. Tapi penuh kebersamaan.
Bahasa Jawa, menurut Hoery punya tingkatan yang mempengaruhi perasaan. Semisal ketika seseorang itu marah, kata ndasmu yang dilontarkan menjadi kata yang paling mewakili perasaannya. Berbeda dengan bahasa lain ketika diucapkan.
“Akan berbeda ketika ngomongnya kepalamu. Kan tidak ada perasaannya,” papar Hoery. Meski begitu, beberapa karya Hoery juga ada yang berbahasa Indonesia.
Usianya sekrang 81 tahun, namun peraih penghargaan Rancage ini selalu bersemangat ketika ada seseorang yang ingin mengunjunginya atau mengundangnya. Baginya, ia baru menginjak usia 81 tahun, bukan “sudah” 81 tahun.
“Jika ada yang tanya umur, saya menjawab lagi (baru) 81. Sebagai pengharapan juga rasa syukur,” ungkapnya.
Diskusi, berbagi cerita dan bertemu banyak orang seperti bertemu dengan peserta Jurnalistik Trip #4 Mastumapel itu menjadi terapi bagi Hoery.
“Dhawah sami sami. Rawuh panjenengan sami dados terapi kula. Nyuwun pangapunten mbokbilih panampi kula kirang mranani,” ujar Hoery di akhir perjumpaan kami.
Ia juga memberikan buku Pasewakan kepada setiap orang. Sebagai oleh-oleh katanya. Padahal kami datang hanya membawa badan saja, dengan buku catatan.









