Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bisnis

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Nanang Fahrudin
21/05/2026
Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Tan Tjian Liem membuat kerupuk pada 1929. Awalnya putih saja. Tapi, insting bisnisnya mengatakan kerupuk produksinya perlu banyak warna. Jadilah kerupuk merah, hijau, kuning. Lantaran lokasinya dekat Klenteng Hok Swie Bio di Jalan Jaksa Agung Suprapto Bojonegoro, seiring waktu dikenal Kerupuk Klenteng atau Kerupuk Abang Ijo.


***

Bangunan berusia lebih 100 tahun itu masih berdiri kokoh. Melihat desain arsitekturnya, bangunan itu menggambarkan arsitektur Belanda. Boleh jadi inilah peninggalan kebudayaan Indies era kolonial Belanda. Pagar besi menjadi pembatas teras rumah, sedang pintu dan jendela berukuran besar dengan pengaman teralis besi. Tembok cukup tebal.

Sisi timur rumah, terdapat lorong pendek menuju bangunan kayu yang dibagi menjadi beberapa “ruang”. Mulai pencetakan, oven, hingga penggorengan. Ya, di sinilah Kerupuk Klenteng diproduksi. Tepat di di belakang rumah utama, ada ruang terbuka yang dikelilingi bangunan kamar-kamar kecil. Ada pohon besar di tengahnya.

Kami, peserta Jurnalistik Trip, duduk melingkar di bawah pohon besar itu, Sabtu (16/5/2026) siang. Mengelilingi meja kotak sederhana. Kami mendengarkan Anton Indarno bercerita tentang Kerupuk Klenteng, tentang bisnis keluarga yang sudah turun temurun. Anton berbagi “rahasia” resep bisnis yang membuat Kerupuk Klenteng bertahan selama 97 tahun. Hampir seabad.

Anton Indarno adalah penerus generasi ke-4 dari keluarga Tan Tjian Liem. Ia meneruskan bisnis yang dibangun canggahnya. “Saya awalnya di bidang fotografi di Surabaya. Tapi, kemudian ketika ayah saya sudah tua dan sakit, saya kembali ke Bojonegoro untuk mengurus bisnis ini,” katanya.

Jatuh bangun bisnis keluarga ini diceritakannya dalam suasana penuh tawa riang. Sesekali, peserta Jurnalistik Trip yang berasal dari latar belakang berbeda-beda, mengajukan pertanyaan ke Anton. Obrolan makin gayeng ditemani aneka jajanan, mulai bikang hingga lemper. Anton

Menurut Anton, Kerupuk Klenteng bermula dari Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio yang awalnya mempunyai toko di sebelah pasar Kota Bojonegoro, menjalankan bisnis kelontong, tapi bisnis ini tidak lanjut. Tan Tjian Liem bersama dua temannya kemudian pergi ke Sidoarjo mencari keberuntungan dengan membangun bisnis kerupuk. Tapi juga tidak bertahan lama dan akhirnya tutup. Dua temannya pulang, sedang Tan tetap bertahan di Sidoarjo. “Tan berusaha bangkit dan mendirikan usaha kain batik. Tapi juga tidak lama, dan tutup,” ceritanya.

Usaha tutup bukan lantas membuatnya putus asa. Sepulang dari Sidoarjo, ia memutuskan membuat kerupuk di Bojonegoro. Diperkirakan awal membuat kerupuk bulan Maret 1929. Lokasinya berada di Jalan Jaksa Agung Suprapto yang sampai sekarang masih menjadi tempat produksi.

“Awalnya kerupuk warnanya putih saja, lalu dievaluasi kok daya tarik kurang, jadi akhirnya warna merah kuning hijau. Karena letaknya dekat klenteng, akhirnya jadi terkenal kerupuk klenteng. Tapi ada juga yang menyebut kerupuk abang ijo,” tutur Anton.

Anton mulai memegang kendali bisnis kerupuk, sejak 2010. Berbagai inovasi dilakukan, diantaranya memodernisasi alat produksi hingga mengkarabi penjualan berbasis digital. Tak heran jika pada 2024 Kerupuk Klenteng ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Jawa Timur. “Bojonegoro sebelumnya ada koleksi ledre,” terangnya.

*

Pada trip kali ini, para peserta tak sekedar mendengarkan cerita, akan tetapi juga melihat langsung proses produksi kerupuk. Pengalaman melihat bagaimana proses produksi Kerupuk Klenteng inilah yang menjadikan momen ini berbeda. Bagi kami, trip ini memberi banyak cerita tentang ketekunan, keuletan, dan kerja keras dalam membangun bisnis keluarga.

Sebagaimana kami, para pembeli juga bebas melihat secara langsung produksi. Karena, pembeli langsung datang di “dapur” dan memang di situlah transaksinya. Tidak ada etalase toko terpisah. Semua menyatu dalam dapur besar tersebut. Sehingga, pembeli dengan leluasa melihat proses mulai pencetakan, penjemuran, pengukusan, penggorengan, hingga proses sortir dan pengepakan. Semua transparan dan tidak ada yang ditutupi. Sisi kesehatan sangat diperhatikan oleh Anton.

Satu persatu tahapan proses produksi kerupuk ditunjukkan oleh Anton. Kerupuk klenteng yang warna warni dan punya cita rasa khas ini ternyata memiliki rentetena proses yang panjang. Mulai mencetak adonan, mengukus, merapikan, menjemur, menggoreng dua kali, hingga akhirnya dipacking dan siap dijual. Dari warna warni Kerupuk Klenteng yang sedap dipandang, menyimpan cerita panjang.

Para peserta Jurnalistik Trip begitu antusias melihat langsung proses produksi. Mereka terkadang bercanda dengan para pekerja yang rata-rata sudah puluhan tahun bekerja. Antar pekerja sudah seperti keluarga. Sehingga tak heran jika “pabrik” Kerupuk Klenteng ini benar-benar seperti usaha keluarga besar.

“Total ada 12 karyawan yang bekerja di sini. Tapi juga ada beberapa pekerja yang musiman. Jadi kalau tidak sedang menggarap sawah, dia akan bekerja di sini. Tapi kalau pas ada kerjaan di sawah, dia berhenti sementara,” tuturnya.

Siang mulai terik, para peserta Jurnalistik Trip berpamitan, sambil membawa pulang Kerupuk Klenteng rasa asli yang sudah ada sejak 1929. Membawa pulang juga sejarah, cerita, dan keuletannya.

Tags: Anton IndarnoBojonegoroKerupuk KlentengKulinerSejarah
Previous Post

Aku, Kerupuk Klenteng, dan Cerita Rasa

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

JFX Hoery, Merawat Sastra Jawa dengan Karya dan Perpustakaan di Rumahnya

JFX Hoery, Merawat Sastra Jawa dengan Karya dan Perpustakaan di Rumahnya

26/04/2026
Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

Baca SERUNI, Suguhan Terbaru Perpustakaan dan UKMP Griya Cendekia Unugiri  

16/05/2026
Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

Warna Warni Rasa Kerupuk Klenteng

21/05/2026
Peringati WPFD 2026, AJI Bojonegoro Gelar Diskusi Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik

Peringati WPFD 2026, AJI Bojonegoro Gelar Diskusi Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik

04/05/2026
Aku, Kerupuk Klenteng, dan Cerita Rasa

Aku, Kerupuk Klenteng, dan Cerita Rasa

20/05/2026
Bertemu JFX Hoery: Menimba Ilmu, Membawa Pulang Bahagia

Bertemu JFX Hoery: Menimba Ilmu, Membawa Pulang Bahagia

12/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023