Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro menggelar diskusi Merawat Kemerdekaan Pers untuk Publik, Senin (4/5/2026). Kegiatan dalam rangka memperingati World Press Freedom Day (WPFD) 3 Mei tersebut bertempat di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R Srawung Makmur Trucuk, Bojonegoro.
Acara yang dimulai pukul 13.30 WIB tersebut dihadiri Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Tuban dan Bojonegoro, beberapa aktivis, dan masyarakat sipil sebanyak 37 orang.
“Pers itu berpihak pada masyakarat sipil, bukan pada pemerintah,” kata Ketua AJI Bojonegoro, M. Suaeb sebagai salah satu pemantik membuka diskusi dengan menekankan bahwa pilar utama pers adalah keberpihakan dan membela publik. Diskusi tersebut dipandu oleh pengurus AJI bidang Advokasi, Yusab Alfa Z.
Suaeb juga menyoroti fenomena wartawan ke desa dan meminta amplop sebagai jaminan agar tidak menulis yang jelek-jelek. Menurutnya, itu bukan kerja-kerja jurnalistik yang sesuai dengan kode etik. “Jika minta amplop, jangan disangoni,” ujarnya.
Ia juga menuturkan bahwa bahwa sebenarnya menulis tidak melulu soal berita. Karena banyak jenis tulisan. Sehingga, bagi mahasiswa atau masyarakat yang memiliki background keilmuan bidang agama, bisa menulis artikel sesuai bidang keilmuannya. “Semisal membahas lingkungan, dalil Al Qurannya ini, hadistnya ini, menurut ulama begini,” ungkapnya.

Dedi Mahdi A., pemantik lainnya menyoroti bahwa berita tidak bisa diproduksi sekadarnya. Karena berita mempunyai nilai dan legalitas. Selain itu Ketua AJI Bojonegoro periode sebelumnya ini, juga memaparkan bahwa yang dilindungi UU tidak hanya produk media saja, akan tetapi pada prinsipnya adalah melindungi kebebasan.
“Selama prinsipnya kebebasan berpendapat dan dilakukan sesuai kaidah-kaidah jurnalistik, itu bisa dilindungi,” terangnya.
Dedi juga menambahkan bahwa adanya WPFD ini adalah untuk menyuarakan kebebasan pers. Ia menyebut, berdirinya AJI adalah karena kebebasan, dan pers mahasiswa menjadi bagian dari itu sehingga kampus tidak boleh melakukan tindakan yang sewenang-wenang melukai persma.
“Di kampus persma tidak bisa mendapatkan perlawanan yang semena-mena dari kampus, dari rektor,” terangnya.

Sementara itu Bhagas Dani P., pemantik lainnya memaparkan soal keamanan jurnalis. Sekretaris AJI Bojonegoro tersebut menekankan bahwa tidak ada berita seharga nyawa. “Kerja jurnalistik itu pilihan. Ada tidak adanya teror (juga risiko lainnya) adalah keniscayaan,” ungkapnya.
Menurutnya, jurnalis perlu tahu cara menjaga diri, cata mengevakuasi diri saat liputan berbahaya danperlu tahu soal keamanaan digital.
“Teman-teman bisa buat dua akun email, verifikasi dua langkah untuk HP, menggunakan aplikasi aman seperti signal ketika liputan,” paparnya.
Ia juga memberikan opsi lain untuk komunitas yang membuat zine berisi isu-isu sensitif yang menjadi perlawanan media arus besar dengan informasi yang tidak berpihak pada publik.
“Teman-teman bisa menggunakan nama samaran atau alias untuk keamanan. Namun, jika perlu branding dan liputan lapangan yang diangkat tidak sensitif, tidak apa-apa memakai nama asli,” ujarnya.

Diskusi tersebut ditutup pukul 15.45 WIB dengan foto bersama dan menyerukan jargon salam kebebasan pers.









