Siang yang cerah Sabtu (3/5/2025) menemani kami, peserta Jurnalistrik Trip #3 menuju lokasi produksi batik ecoprint milik Nurul Kholifah (44) di Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Untuk menuju ke sana, saya dan 9 peserta lainnya, melintasi rute kota Bojonegoro, melewati jembatan Sosrodilogo, dan menyusuri jalan cor beton menuju Desa Guyangan.
Sepanjang perjalanan dengan motor, angin semili terasa menepuki kulit. Butuh waktu kurang lebih sekitar 13 menit dari Jembatan Sosrodilogo untuk sampai lokasi. Lokasi batik ecoprint milik Nurul Kholifah ini berada perkampungan padat. Sesampai di lokasi, kami disuguhi pemandangan model kain batik berbagai motif dan warna-warna yang terlihat indah dan memikat.
Nurul menggunakan brand Cussaybina. Sehingga, ia lebih dikenal dengan nama Nurul Cussaybienna. Tidak hanya memproduksi batik ecoprint, ia juga memproduksi batik tulis dan batik cap.
Di ruangan rumahnya yang sekaligus menjadi galery, Nurul menceritakan kisahnya. Ia memulai usaha batik pada tahun 2008. Salah satu yang menarik dari batik Nurul Cussaybienna adalah penggunaan bahan pewarna alami yang ada di sekitar dan ramah lingkungan. Usaha ini berawal dari profesinya sebagai penjahit. Ia punya ide mengumpulkan limbah perca batik yang kemudian ditata sedemikian rupa menjadi aneka produk. Seperti sarung bantal, tas, dan lainnya.
Hasil produksinya ditawarkan kepada ibu-ibu yang menunggu anak-anaknya di sekolah. Dari sinilah ia kemudian terus memproduksi aneka batik. Dan hingga sekarang, ia menjadi bagian di Dekranasda Kabupaten Bojonegoro serta tergabung di asosiasi pengrajin batik tingkat kabupaten, provinsi dan nasional.
“Di Dekranasda para pelaku UMKM kumpul, di sana kebanyakan para pengrajin batik. Saya ikut nimbrung hingga ketularan ilmu batik, kemudian belajar batik dan memproduksi batik, salah satunya saya dulu pernah membuat motif batik jembatan Sosrodilogo. Cuma kebanyakan masyarakat mengenal saya bergerak di bidang ecoprint,” ceritanya. Maklum, di Bojonegoro hanya ada tiga pengrajin batik yang tetap konsisten bikin batik ecoprint, dan ia salah satunya.
Ada 6 orang yang membantu dalam proses pembatikan Nurul, yang salah satunya merupakan lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB). Teman-teman SLB bertugas dalam proses mengeblat dan mencanting. “Di hari Sabtu dan Minggu mereka libur. Sedangkan bagian menjahit dan membatik dikerjakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah” tutur Nurul.
Nurul mematok harga batik tulis yang menggunakan warna alami dengan harga minimal Rp 550 ribu. Ada juga di harga Rp 1 -2 juta sesuai tingkat kesulitan. Batik dengan pewarnaan alami diakui Nurul memang lebih tinggi tingkat kesulitannya, sehingga harga lebih mahal. Sedang untuk batik cap dengan pewarna pabrik dipatok harga Rp 85 -200 ribu.
Warna Batik Awet hingga 10 Tahun

Soal pewarnaan alami, Nurul sudah hafal di luar kepala bagaimana menghasilkan warna-warna sesuai keinginan. “Untuk menghasilkan warna kuning soft bisa dengan daun mangga, warna kuning dengan daun Ketapang, kuning cerah dengan kunyit. Untuk mendapatkan warna orange dengan campuran serabut kelapa dan daun ketapang,” terangnya dengan lancar menjelaskan perpaduan warna-warna batik.
Meski menggunakan bahan alami, tidak lantas warnanya mudah hilang. Jika dijaga dengan perawatan khusus, maka ketahanan batik pewarna alami sama dengan batik pada umumnya. “Bisa sampai 10 tahun. Asal dijemur di halaman rumah yang teduh,” terangnya.
Jurnalistik Trip #3 kali ini makin asyik, karena kami bisa ikut mencoba membuat batik ecoprint. Beberapa peserta, diantara kami, mencoba memukul-mukul daun di kain yang kemudian menghasilkan motif daun yang memikat. Teknik ini disebut teknik pounding. Kami menggunakan alat semacam palu yang terbuat dari kayu untuk memukulnya. “Cara mukulnya jangan terlalu keras dan pelan, tapi sedang saja,” ucapnya mencontohkan.
Di sela-sela kami mencoba ecoprint, Nurul mengamati dan sesekali membetulkan apa yang kami lakukan. Menurut dia, daun yang baik digunakan untuk ecoprint adalah daun yang bertanin tinggi seperti daun Jati, Jambu, Cemara, Ketapang, Mahoni. Untuk berbagai jenis daun bisa digunakan untuk jenis batik cap. Sedangkan kain yang digunakan adalah kain batik atau kain bahan alami seperti katun.
“Batik ecoprint itu tidak bisa disamai motifnya, karena motif dari daun tidak mungkin sama,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa potong kain batik ecoprint dengan perpaduan warna yang unik kepada kami.
Membuat batik ecoprint rata-rata membutuhkan aktu 4-5 hari. Proses membuat karya seni batik ini diawali dengan perebusan kain dengan tawas, kemudian didiamkan semalaman lalu dicuci dan dikeringkan yang selanjutnya baru dimotif. Cara lain juga ada yang dikukus selama minimal dua jam, kemudian dikeringkan di tempat yang teduh, terakhir didiamkan selama 5 hari.
Tidak kalah menarik, selain pewarnaan alami, Nurul membuat batik tulis dengan motif-motif yang memiliki cerita, sehingga menjadi nilai tambah batik. Selain motif jembatan Sosrodilogo yang pernah dibuat, Nurul juga pernah buat motif sumur minyak tradisional di Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro. Pemesan tak hanya dari lokal Bojonegoro, tapi juga luar kota, mulai Surabaya, Yogyakarta hingga Bandung. “Saya setiap ada yang identik dengan Bojonegoro, apalagi ada kisahnya langsung saya gambar,” katanya.
Nurul mengingatkan kita, betapa selama ini alam semesta telah menyediakan semua. Namun terkadang kita kurang menyadarinya. Memproduksi batik ecoprint juga mengingatkan kita untuk lebih mencintai dan melestarikan batik sebagai simbol identitas. Dari keterbatasan tidak layak menjadi penghambat melainkan bisa menciptakan sebuah kreativitas yang bermanfaat bahkan menguntungkan.









