Penulis: Mella Nindya Purnama, Melly Nanda Purnama, Fatimatus Soleha
Mastumapel.com – Sejumlah mahasiswa peserta Jurnalistik Trip #3 mengunjungi Rumah Batik Cussaybienna milik Nurul Kholifah di Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (3/5/2025). Lewat kegiatan ini, mahasiswa menggali lebih dalam cerita inovasi batik ramah lingkungan yang telah dikembangkan Nurul sejak 2009. Para peserta diikuti mahasiswa dari IKIP PGRI Bojonegoro dan Unugiri, serta ditemani oleh Nanang Fahrudin, inisiator program Jurnalistik Trip.
Kepada peserta trip, Nurul bercerita, ia memulai usahanya dengan modal terbatas. Pada 2009, ia membeli mesin jahit bekas seharga Rp 250.000 dan kain perca limbah jahit seharga Rp 150.000. Ia juga “mulung” serabut kelapa di sekitar rumah, dab menemukan pewarna alam pertamanya.
Sejak itu, Nurul bereksperimen untuk melakukan pewarnaan alami dengan berbagai bahan lokal. Diantaranya daun jambu, kulit manggis, dan daun ketapang untuk menciptakan warna alami yang beragam.

Cussaybienna, kata Nurul, adalah salah satu dari sedikit rumah batik ecoprint di Bojonegoro. Tak heran jika rumah batiknya lebih dikenal dengan nama ecoprint. Padahal, ia juga memproduksi batik tulis dan batik cap.
Terkait batik ecoprint, Nurul memaparkan dua teknik utama ecoprint. Pertama adalah teknik ponding, yaitu menempel dan memukul daun kaya tanin pada kain yang telah dimordan dengan tawas untuk membuka pori-pori. Kedua adalah teknik kukus, di mana kain dan daun digulung rapat lalu dikukus selama dua jam untuk menghasilkan motif halus dan tahan lama.
Pada kesempatan tersebut, mahasiswa kemudian praktik langsung menata daun morengo dan pepaya jepang di atas kain katun. Lalu memukul-mukul atau teknik ponding. “Teknik ini mengajarkan kesabaran sekaligus kreativitas,” komentar salah satu mahasiswa IKIP PGRI.
Sejak 2009, Rumah Batik Cussaybienna telah berkembang. Dari rumah batik sederhana, Nurul membentuk perusahaan dan bekerjasama dengan berbagai lembaga pelatihan. Diantaranya Disnaker, Dinas Koperasi Provinsi Jatim, bahkan dari kementerian. Nurul berharap generasi muda terus meneruskan tradisi batik ecoprint sebagai warisan budaya yang dinamis.
Program Jurnalistik Trip #3 ini membuktikan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan menguatkan identitas budaya sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
Penulis merupakan mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro









