Garis senyumnya masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Ketika itu, beliau adalah guru di MI Salafiyah Prambontergayang, Soko, Tuban. Dan saya salah satu muridnya. Kini, di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, senyum itu tetap memancarkan semangat.
Mitos profesi guru menjadikan seseorang awet muda sepertinya benar adanya. Serasa masih sama ketika beliau mengajar saya sepuluh tahun silam di MI Salafiyah. Bahkan uban yang tumbuh di kepalanya tampak tidak bertambah. Padahal, saya merasa sudah sangat lama melewati masa anak-anak.
Pak Yazid, begitu biasa saya dan teman-teman menyapa. Nama lengkapnya Yazid Mar’i. Siang itu, Kamis (1/5/2025), sehari menjelang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), saya bertemu dengan Pak Yazid. Beliau datang dengan sumringah di Warung Kopi Copitalist Jl. Pondok Pinang Sukorejo Bojonegoro, di mana kami janjian bersua.
Sambil menyeruput kopi, Pak Yazid mencoba berlayar ke ingatan dua puluh tahun silam, ketika tahun 2005, beliau mulai mengajar di MI Salafiyah. Beliau bercerita sambil pandangannya menerawang, mencoba mereka ulang semua kejadian.
“Saya disambut hangat, dan perbedaan itu tidak ada. Justru ini menyenangkan dan menjadi tantangan baru. Nyatanya tidak ada perdebatan apapun,” ungkapnya. Perbedaan yang dimaksud adalah organisasinya berbeda dengan para pendidik atay tenaga kependidikan di lembaga MI Salafiyah. Pertama kali bertemu kepala sekolah, beliau dengan jujur bahwa latar belakang organisasinya adalah biru, bukan hijau. Maklum, pada masa itu, perbedaan dua ormas besar di Indonesia tersebut sampai ke akar rumput. Beda dengan kondisi saat ini yang lebih mengedepankan kebersamaan.
Meski mengaku menjadi guru bukan passionnya, Pak Yazid menikmati aktivitas berangkat jam 6 pagi dan pulang pukul 2 siang dari Perumahan Pacul Permai Bojonegoro menuju MI Salafiyah di Soko, Tuban. Gaji pertamanya untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar Rp 350.000. Sedangkan harga bensin kala itu Rp 5.000 per liternya. “Lima ribu itu cukup untuk pulang-pergi,” terangnya.
Menempuh jarak sekitar 13 km dengan jalan yang tidak semulus sekarang, Pak Yazid menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk perjalanan. Meski begitu, ia tidak pernah terlambat. Justru datang lebih awal dari kebanyakan guru yang rumahnya dekat. Baginya, berangkat lebih awal dan tiba tepat waktu bukanlah beban. Melainkan sebuah kewajiban yang wajar. Bahkan, sebelum berangkat, Pak Yazid masih menyempatkan membantu istri menyapu dan mencuci.
Jika dihitung saat ini, Pak Yazid telah mengajar selama 29 tahun. Yakni sejak tahun 1991. Awal karir gurunya dimulai di MI Mafatihul Huda Sugihwaras Bojonegoro. Lalu pada tahun 2005 mendaftar ASN di Kabupaten Tuban dan lolos. Lantas mengajar di MI Salafiyah dan meninggalkan gaji Rp 1 juta di MI Mafatihul Huda. Hingga saat ini, ia hanya menjadi guru di MI Salafiyah.
Baginya, jarak jauh terasa dekat ketika nyaman. Beliau begitu nyaman menjalani profesinya sebagai guru di MI Salafiyah. Dalam obrolan kami siang itu, beberapa nama siswa, teman saya, disebut-sebut semacam bernostalgia. “Sebenarnya tidak ada siswa bodoh atau nakal. Semua anak memiliki kecerdasannya masing-masing,” katanya.
Pak Yazid tidak sekadar mengajar, tapi selalu berusaha menumbuhkan karater anak agar menjadi manusia yang manusia. Jika ada siswa yang membutuhkan perlakuan khusus, beliau pantang membentak, apalagi di depan banyak orang.
Baginya, jika ada suatu permasalahan, akan berpikir bagaimana solusinya. Beliau terbiasa ikut ngobrol di lingkungan siswa, mendatangi rumahnya, memperlakukan siswa sesuai kebutuhannya. Dan pada akhirnya tidak ada siswa yang nakal.
“Hingga sekarang, ibu si A (nyebut nama) ketika dagang sayur dan lewat di sekolah, selalu memberikan jajan pasar sebagai ungkapan terima kasih sebab anaknya berhasil menjadi baik,” ceritanya.
Menurut Pak Yazid, guru tidak hanya harus menguasai materi, tetapi harus bisa memahami psikologi siswa, kebutuhan siswa dan bagaimana cara menumbuhkan karakter siswa. Sejak dulu, beliau tidak bisa diam jika menemukan ketimpangan. Namun lebih suka mencoba mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi dalam dunia belajar-mengajar.
Pak Yazid bercerita, dirinya tidak pernah lelah, suntuk maupun bosan. Baginya, semua itu karena panggilan, dan merasa bertanggungjawab untuk selalu menjadi guru yang memahami siswanya. Menjadi seseorang yang selalu membawa perubahan.
Ia mengingat kembali masa awal memulai karir di MI Salafiyah. Madrasah yang dulu selalu menjadi pilihan akhir setelah Sekolah Dasar (SD). Dengan pengalaman dan jejaring di dunia politik yang merupakan passionnya, ia mengumpulkan ide-ide untuk pembangunan sekolah tersebut.
Sekolah yang temboknya masih bata merah, sempit dan lantai dari keramik hitam ala tempo dulu perlahan mulai menjadi tempat yang layak dan nyaman. Para siswa mulai dibina mengikuti perlombaan dan terus menyabet juara baik tingkai kabupaten, provinsi maupun nasional.
“Jadi guru bagi saya harus menekankan jujur dalam hal apapun. Saya kalau nggak jujur wis sugih, loh,” ucapnya diselingi tawa.
“Saya pernah bawa uang satu miliar, tiga miliar, pernah. Dana-dana yang didapat bisa saja saya ambil satu sampai tiga juta, dan itu tidak akan menjadi masalah karena saya yang mengurus semuanya. Namun, saya mencari uang tidak dengan cara seperti itu, karena itu untuk pendidikan,” tuturnya.
Cerita-cerita itu mengingatkan saya bagaimana ekspresinya ketika baru memasuki kelas, salam dengan sumringah, mengajar dengan luwes dan santai, serta yang paling penting menyenangkan. Energi positif yang dibawa serasa menular pada semua siswa satu kelas. Mungkin itu menjadi alasan mengapa kondisi psikis guru menjadi penting sebelum ia mulai mengajar.
Terus Memahami Siswa dan Berinovasi
Zaman yang terus mengalami perubahan, membuat Pak Yazid harus lebih ekstra memahami para siswa di era sekarang. Menurutnya, ada perbedaan yang signifikan antara siswa dulu dan sekarang, semangat belajar yang menurun.
Sekali lagi, begitu kata Pak Yazid, menjadi guru bukan hanya soal mengajar. Ia menciptakan inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan. Seperti paper ball and plan plan yang digunakan dalam pembelajaran memahami bahwa bentuk bisa mengubah volume dan arah benda.
“Judulnya saja yang Bahasa Inggris, tapi sebenarnya tuh berangkat dari hal yang sederhana,” kata bapak tiga anak itu.
Pak Yazid bercerita bahwa konsep itu sangat sederhana. Beliau menyiapkan kertas yang diberi soal. Nanti siapa yang menangkap, dia yang yang harus menjawab. Lalu ketika kertas itu diremas saja, dilempar kena tembok akan mengubah bentuk dan arah gerak suatu benda.
Siswa sering diminta menulis pengalamannya atau kenangannya. Baginya, itu salah satu cara menumbuhkan minat literasi siswa. Tulisan anak-anak adalah tulisan paling murni tanpa rekayasa.
Menulis adalah manivestasi dari otak. Jika seseorang tidak menulis, maka bisa jadi otaknya tidak berisi apa-apa.
Aktif di Kegiatan Sosial
Menilik kesibukan administrasi guru sekarang, guru dianggap pekerjaan yang sibuk sehingga tidak bisa melakukan aktivitas lain. Namun, bagi Pak Yazid yang masih aktif di berbagai kegiatan dan organisasi sosial, pekerjaan guru bisa diselesaikan dalam waktu satu jam.
Beliau lantas bercerita tentang kesehariannya kini. Sesampai di rumah pukul 15.00 WIB. Aktivitasnya selalu padat dengan menjadi narasumber diskusi, tergabung dalam pengurus desa, menulis buku, mengurus beberapa organisasi sosial hingga melukis dan merawat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Podo Nderes di samping rumahnya.
Semua dilaluinya dengan senyum yang sama, yang sumringah dan semangat membara. Sebab baginya, dirinya sudah melewati banyak hal yang pahit. Seperti harus berusaha sendiri untuk pendidikannya, bersepeda dari Kecamatan Balen hingga kota Bojonegoro untuk sekolah, membayar SPP sekolah dari honor cerpen yang tayang di koran, mencari beasiswa untuk kuliah dan lain-lain.
Harapan di Hari Pendidikan Nasional
Di Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei, Pak Yazid berharap, pendidikan tidak lagi dikamuflase, tidak lagi digunakan untuk kepentingan beberapa pihak, namun lebih menanamkan pendidikan yang jujur.
“Melihat wajah pendidikan sekarang, di luarnya terlihat bagus, tapi di dalam hancur, semoga tidak lagi dikamuflase,” harapnya.
Pak Yazid juga mengungkapkan bahwa untuk menjadi guru yang ideal, guru harus lebih dulu membuat para siswa nyaman. Sesulit apapun materinya, jika siswa suka dengan gurunya, maka pembelajaran akan terasa menyenangkan.
Waktu terasa begitu cepat. Tiba-tiba saja sudah pukul setengah tiga sore. Mungkin jika Pak Yazid tidak ada agenda selanjutnya, kami masih terus mengobrol. Membahas masa pendidikan dulu juga sekarang. Bagaimana anak-anak belajar dengan riang dan sesekali mengeluh karena beban tugas yang tidak seberapa itu. Pak Yazid terus mendidik, dan waktu kian berlalu.
Berikut karya-karya Yazid Mar’i
- Antologi Esai Menyirami Tanaman Masa Depan: Yasuke Institute, Yogyakarta (2017)
- Membaca Indonesia dari Bojonegoro: Pangan Press, Lamongan (2017)
- Meniti Jalanmu: Ladang Kata, Yogyakarta (2017)
- Kumpulan Cerpen Bersamamu ke Surga: Pustaka Media Guru, Jakarta (2017)
- Kumpulan Cerpen Simponi Umar Bakeri (2017)
- Kumpulan Puisi Ibu (2017)
- Kumpulan Esai Mengapa Guru Mengeluh (2017)
- Kumpulan Cerpen Kisah Marveolus Pembelajaran: Praktek Mandiri (2017)
- Novel Guru Gila: Praktek Mandiri (2019)
- Novel Taqdir, Cinta dan Kekuasaan: Deepublish, Yogyakarta (2020)
- Antologi Cerpen 300 Kata Tanpa Dia (2021)
- Kumpulan Cerpen The Power of Love (2021)
- Antologi Cerpen Hidayah Cinta: Iqro Semesta Pers, Jombang (2022)
- The Values as Local Wisdom: Deepublish, Yogyakarta (2023)
- Mengasah Jiwa Moderat di Tengah Masyarakat Multikultural: Ladang Kata, Yogyakarta (2024)









