Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Crita

Kajian Psikologi Cara Warga Bojonegoro Pulih dan Bangkit Lagi dari Bencana Banjir  

Kajar Alit Djati
25/12/2024
Kajian Psikologi Cara Warga Bojonegoro Pulih dan Bangkit Lagi dari Bencana Banjir  

Warga Bojonegoro saat membersihkan rumah pasca banjir 2009/Sumber: BPBD Bojonegoro

Harmoni dengan banjir adalah kata-kata yang lumayan dikenal di Kabupaten Bojonegoro. Kata-kata ini banyak dikampanyekan oleh Bupati Bojonegoro Suyoto atau biasa dikenal dengan panggilan Kang Yoto yang menjabat dua periode (2008-2018), untuk memberi semangat warga korban banjir.

Hal ini bermula dari fakta bahwa banjir melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro setiap tahun. Ada siklus banjir yang sudah sangat dikenal Masyarakat. Siklus itu kemudian memunculkan berbagai kearifan lokal. Salah satunya memunculkan “harmoni dengan banjir”.

Kabupaten Bojonegoro memiliki dua siklus banjir. Yakni banjir luapan Sungai Bengawan Solo di wilayah utara membentang dari wilayah Kecamatan Margomulyo hingga Baureno. Kedua adalah banjir banding di wilayah selatan, mulai Kecamatan Sekar, Gondang, hingga Dander.

Meski masyarakat Bojonegoro sudah terbiasa dengan banjir, bukan berarti terbebas dari potensi gangguan psikologis, atau biasa disebut gangguan Post-Traumatic Stress Disorders. Mengutip pendapat Cordova et al. (2005) bahwa 80% orang dengan gangguan Post-Traumatic Stress Disorders, akibat bencana alam akan mengalami gangguan psikologis, seperti depresi, insomnia, anxiety, subtance abuse, dan lain-lain. Gejala memang tak langsung muncul, tapi bisa muncul dalam waktu rentang panjang. Sehingga, pasca banjir tetap memerlukan treatment tepat agar gangguan psikologis dapat diminimalkan.

Riset Resiliansi

Sebuah riset menarik dilakukan oleh Nurul Hartini, dari Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tentang Resiliansi Warga di Wilayah Rawan Banjir di Bojonegoro. Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 30, No. 2, tahun 2017.

Nurul Hartini, merujuk pendapat Dugan & Coles (1991) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas untuk pulih dan bangkit kembali dari kekecewaan, hambatan, dan kemunduran. Sedang menurut Alvord & Grados (2005) esiliensi adalah keterampilan, atribut, dan kemampuan yang memungkinkan individu untuk beradaptasi dengan penderitaan, kesulitan, dan tantangan.

Nurul melihat untuk bisa Kembali pulih dan bangkit kembali pasca banjir, perlu ada intervensi untuk menekankan pada pemberdayaan komunitas (Empowering Community) di masyarakat.  Karena keberadaan para relawan, pendamping atau siapapun di luar masyarakat sifatnya sementara. Sedang pemberdayaan masyarakat sendiri bersifat keberlanjutan.

Hasil penelitian

Merujuk pada konsep resiliensi, warga Bojonegoro mampu bertahan dan mengembangkan wilayahnya untuk bangkit dari bencana banjir. Hal ini bisa mengatasi gangguan psikologis. Akan tetapi, bertahan dan mengatasi gangguan psikologis ini, jika banjir tidak di atas 14 hari. Artinya, jika lebih dari 14 hari banjir, masih berpotensi besar mendatangkan gangguan psikologis.

Konsep “I Can”, “I Have”, “Hardiness”, dan Gotong Royong

Nurul melihat masyarakat Bojonegoro mempunyai potensi positif untuk bangkit dari bencana banjir. Konsep hidup yang dipegang warga korban banjir Bojonegoro adalah sikap kerja keras dan gotong royong. Mereka yakin bahwa “i can”.  Mereka yakin akan mampu bangkit dan menganggap bencana banjir akan mampu diatasi.

Selain itu, konsep kedua adalah “i have”. Yakni warga Bojonegoro yang merasa memiliki pemimpin dan tokoh masyarakat setempat yang benar-benar bersama mereka. Kebersamaan warga dan pemimpin lokal menjadi penting untuk memperkuat kebersamaan.

Konsep ketiga adalah “hardiness” atau sikap pantang menyerah. Warga dan masyarakat Bojonegoro sebagian besar memiliki semangat ini dan melahirkan perilaku kontrol dan komitmen untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan. Sikap ini dapat kita jumpai dari perilaku warga korban banjir, yang mereka tetap berperilaku sewajarnya sehari-hari, meski agak terganggu. Seperti pedagang masih santai menggelar dagangan, warga hilir mudik menyeberangi sungai, dan lainnya.

Konsep keempat adalah “gotong royong”. Masyarakat Bojonegoro mengajarkan kegotongroyongan kepada anak-anak sebagai bagian dalam pembelajaran hidup. Kegotongroyongan ini menjadi akar kekuatan pemberdayaan masyarakat Bojonegoro untuk beresiliensi terhadap bencana banjir.

Demikian hasil kajian psikologi Nurul Hartini terkait dengan kemampuan untuk pulih dan bangkit kembali dari bencana banjir. Hasil kajian ini menjadi penting bagi masyarakat Bojonegoro serta Pemkab Bojonegoro untuk penanganan banjir yang tepat. Jangan sampai banjir meninggalkan trauma bagi psikologi anak-anak dan orang dewasa di kemudian hari.

Tags: banjirBojonegoroKajian Psikologiresiliensi
Previous Post

Bojonegoro Butuh Web Map untuk Penanganan Banjir?

Next Post

DULU ADA: Koran Masuk Desa Dimulai pada Pelita III Tahun 1979

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

16/04/2026
Trip Menjelajah Bumi Margomulyo dan Ngangsu Kawruh di Festival Samin #9 2025

7 Destinasi Wisata di Kecamatan Margomulyo-Bojonegoro, Gerbang Wilayah Perbatasan Ngawi

26/03/2026
Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

25/03/2026
7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga  Cara Melihat Semesta

7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga Cara Melihat Semesta

08/04/2026
AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

AJI, KPI, dan GMNI Bojonegoro Gelar Aksi Damai Peringati Hari Kartini di Depan Kantor DPRD

21/04/2026
Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

26/03/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023