Harmoni dengan banjir adalah kata-kata yang lumayan dikenal di Kabupaten Bojonegoro. Kata-kata ini banyak dikampanyekan oleh Bupati Bojonegoro Suyoto atau biasa dikenal dengan panggilan Kang Yoto yang menjabat dua periode (2008-2018), untuk memberi semangat warga korban banjir.
Hal ini bermula dari fakta bahwa banjir melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro setiap tahun. Ada siklus banjir yang sudah sangat dikenal Masyarakat. Siklus itu kemudian memunculkan berbagai kearifan lokal. Salah satunya memunculkan “harmoni dengan banjir”.
Kabupaten Bojonegoro memiliki dua siklus banjir. Yakni banjir luapan Sungai Bengawan Solo di wilayah utara membentang dari wilayah Kecamatan Margomulyo hingga Baureno. Kedua adalah banjir banding di wilayah selatan, mulai Kecamatan Sekar, Gondang, hingga Dander.
Meski masyarakat Bojonegoro sudah terbiasa dengan banjir, bukan berarti terbebas dari potensi gangguan psikologis, atau biasa disebut gangguan Post-Traumatic Stress Disorders. Mengutip pendapat Cordova et al. (2005) bahwa 80% orang dengan gangguan Post-Traumatic Stress Disorders, akibat bencana alam akan mengalami gangguan psikologis, seperti depresi, insomnia, anxiety, subtance abuse, dan lain-lain. Gejala memang tak langsung muncul, tapi bisa muncul dalam waktu rentang panjang. Sehingga, pasca banjir tetap memerlukan treatment tepat agar gangguan psikologis dapat diminimalkan.
Riset Resiliansi
Sebuah riset menarik dilakukan oleh Nurul Hartini, dari Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tentang Resiliansi Warga di Wilayah Rawan Banjir di Bojonegoro. Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 30, No. 2, tahun 2017.
Nurul Hartini, merujuk pendapat Dugan & Coles (1991) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas untuk pulih dan bangkit kembali dari kekecewaan, hambatan, dan kemunduran. Sedang menurut Alvord & Grados (2005) esiliensi adalah keterampilan, atribut, dan kemampuan yang memungkinkan individu untuk beradaptasi dengan penderitaan, kesulitan, dan tantangan.
Nurul melihat untuk bisa Kembali pulih dan bangkit kembali pasca banjir, perlu ada intervensi untuk menekankan pada pemberdayaan komunitas (Empowering Community) di masyarakat. Karena keberadaan para relawan, pendamping atau siapapun di luar masyarakat sifatnya sementara. Sedang pemberdayaan masyarakat sendiri bersifat keberlanjutan.
Hasil penelitian
Merujuk pada konsep resiliensi, warga Bojonegoro mampu bertahan dan mengembangkan wilayahnya untuk bangkit dari bencana banjir. Hal ini bisa mengatasi gangguan psikologis. Akan tetapi, bertahan dan mengatasi gangguan psikologis ini, jika banjir tidak di atas 14 hari. Artinya, jika lebih dari 14 hari banjir, masih berpotensi besar mendatangkan gangguan psikologis.
Konsep “I Can”, “I Have”, “Hardiness”, dan Gotong Royong
Nurul melihat masyarakat Bojonegoro mempunyai potensi positif untuk bangkit dari bencana banjir. Konsep hidup yang dipegang warga korban banjir Bojonegoro adalah sikap kerja keras dan gotong royong. Mereka yakin bahwa “i can”. Mereka yakin akan mampu bangkit dan menganggap bencana banjir akan mampu diatasi.
Selain itu, konsep kedua adalah “i have”. Yakni warga Bojonegoro yang merasa memiliki pemimpin dan tokoh masyarakat setempat yang benar-benar bersama mereka. Kebersamaan warga dan pemimpin lokal menjadi penting untuk memperkuat kebersamaan.
Konsep ketiga adalah “hardiness” atau sikap pantang menyerah. Warga dan masyarakat Bojonegoro sebagian besar memiliki semangat ini dan melahirkan perilaku kontrol dan komitmen untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan. Sikap ini dapat kita jumpai dari perilaku warga korban banjir, yang mereka tetap berperilaku sewajarnya sehari-hari, meski agak terganggu. Seperti pedagang masih santai menggelar dagangan, warga hilir mudik menyeberangi sungai, dan lainnya.
Konsep keempat adalah “gotong royong”. Masyarakat Bojonegoro mengajarkan kegotongroyongan kepada anak-anak sebagai bagian dalam pembelajaran hidup. Kegotongroyongan ini menjadi akar kekuatan pemberdayaan masyarakat Bojonegoro untuk beresiliensi terhadap bencana banjir.
Demikian hasil kajian psikologi Nurul Hartini terkait dengan kemampuan untuk pulih dan bangkit kembali dari bencana banjir. Hasil kajian ini menjadi penting bagi masyarakat Bojonegoro serta Pemkab Bojonegoro untuk penanganan banjir yang tepat. Jangan sampai banjir meninggalkan trauma bagi psikologi anak-anak dan orang dewasa di kemudian hari.









