Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Selatan

Melihat Kampung Kalongan dari Dekat, Permukiman Tengah Hutan Jati Bojonegoro

Mukaromatun Nisa
12/11/2025
Pipin, Diyem, Patmi dan Jamis saat potong batang bawang merah sebagai pekerjaan sampingan ibu-ibu Dusun Kalongan

Pipin, Diyem, Patmi dan Jamis saat potong batang bawang merah sebagai pekerjaan sampingan ibu-ibu Dusun Kalongan/Foto: Nisa

Jika dilihat dari jauh, rumah-rumah yang berjejer itu tampak seperti sebuah lingkaran di antara pepohonan hutan. Dan ketika mendekat, baru tampak jelas rumah-rumah warga dengan bangunan khas pedesaan. Pohon banyak tumbuh di sana sini.

Di akhir Juli 2025 lalu, saya dan teman-teman Kelompok 54 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) berkunjung. Kampung itu bernama Kalongan, salah satu dusun di Desa Karangmangu, Kecamatan Ngambon, Kabupaten Bojonegoro.

Kalongan dihuni oleh sekitar 140 keluarga. Jika ditempuh dari pusat pemerintahan desa (balai desa), membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit. Kami harus keluar dulu dari Desa Karangmangu, melewati Desa Ngambon, kemudian Desa Setren-Ngasem, lurus terus di antara rerimbunan daun jati hingga bertemu pertigaan. Kami mengambil arah kanan, masih lurus terus hingga bertemu gapura bertuliskan Dusun Ngglambangan Desa Setren Kecamatan Ngasem. Di atas gapura itu, ada papan kayu kecil warna putih bertuliskan Ngglambangan/Kalongan.

Kami masuk di jalan yang semakin asri itu, berkelok dan bagus. Hingga bertemu pertigaan, kami mengambil arah kanan. Dari pertigaan ini, jalan menyempit, berbatu, terjal dan berpotensi terjadi adegan nyungsep dan kecelakaan lainnya.

Setelah melewati jembatan Sungai Gandong, ada jalan menanjak yang terjal, berbatu dan curam. Kami menikmati jalan ini sepanjang menuju Dusun Kalongan, tentu dengan hati-hati.

Di depan, bukit-bukit berjajar indah, jalan meliuk menghiasi tumpukan hijau itu. Rumah-rumah warga mulai nampak, benar-benar permukiman di tengah hutan.

Kami melewati jembatan kedua yang berkarat, berlubang dan berbunyi klotak-klotak saat dilewati. Jalan semakin menyempit, tentu masih dihiasi bongkahan batu dan paving di sana-sini, berlubang dan bikin jantung makin berdebar.

Tanaman jagung yang masih pendek dan hijau menjadi suguhan mengagumkan bagi kami. Beberapa warga setempat tampak merawat jagung yang masih kecil itu, beberapa orang mengupas singkong di depan rumah untuk dijemur untuk diproses membuat gaplek. Harga gaplek di pengepul Rp 2.500 perkilogram.

Pemukiman Warga Dusun Kalongan Desa Karangmangu Kecamatan Ngambon Kabupaten Bojonegoro
Pemukiman Warga Dusun Kalongan Desa Karangmangu Kecamatan Ngambon Kabupaten Bojonegoro/Foto: Nisa

Sejarah Kalongan: Tidak Pernah Diceritakan

Widno adalah salah satu guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Karangmangu yang mengajar sejak tahun 2003. Kepada kami, ia bercerita sedikit tentang Kalongan. Menurut dia, Kalongan berawal dari hutan belantara tanpa penduduk. Saat itu, Ngglambangan yang posisinya berdampingan dengan Kalongan menjadi pos Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perhutani).

Orang-orang Perhutani, menurut Widno, membuka hutan dan menjadikannya tempat tinggal hingga beranak-pinak dan kini dikenal sebagai Dusun Kalongan.

Jika menilik data administrasi, menurut Darkin, warga asli Karangmangu yang pernah menjabat sebagai carik atau sekretaris desa, kehadiran Kalongan ada sejak Karangmangu juga ada yakni sekitar tahun 1921.

“Sebenarnya (adanya Kalongan) sudah lama. Cuman kan dulu tidak ada pencatatan. Masuk administrasi itu baru sekitar 1921,” terang Darkin saat berbincang di halaman rumahnya yang dijadikan Posko Kelompok 54 KKN Unugiri.

Darkin
Darkin (duduk di kursi, berkopyah, berbaju putih, dan bercelana hitam) bersama istri, cucu dan anggota KKN 54 Unugiri/Foto: Tim Dekdok KKN 54 Unugiri

Nama Kalongan sendiri, menurut Darkin tidak pernah tercatat dalam sejarah, juga tidak pernah diceritakan. Ia pun tidak begitu tahu kenapa dinamakan Kalongan. “Sejak dulu, tidak pernah ada yang menceritakan sejarahnya, juga tidak pernah ditulis,” terang laki-laki berusia 65 tahun itu.

“Kalongan entah bisa berarti kalong yang bermakna berkurang atau kalong kelelawar itu. Tidak ada yang tahu,” tambah Darkin.

Sedangkan menurut Sutiono, kamituwo atau Kepala Dusun Kalongan, yang mengetahui sejarah asal Kalongan adalah kakeknya dari ibu atau buyut yang saat ini sudah meninggal. Tidak ada cerita yang ditinggalkan.

Sutiono lahir pada tahun 1982. Ketika itu, listrik belum bisa masuk ke Kalongan. Warga menggunakan ublik (lampu minyak tanah) sebagai penerangan. Baru tahun 2000, listrik masuk Kalongan. Itupun warga menyambung listrik dari Karangmangu secara pribadi menggunakan kabel panjang. Untuk satu saluran, dibagi tujuh rumah.

Saat itu kabel-kabel listrik masih tidak beraturan, sehingga berisiko warga tersengat aliran listrik jika kurang hati-hati. Praktis listrik hanya untuk lampu penerangan saja. Jika ingin menyalakan pompa air, warga harus bergantian karena listriknya tidak kuat. Baru pada tahun 2021, listrik sepenuhnya bisa masuk di Kalongan.

Namun, tidak begitu dengan sinyal telepon seluler. Beberapa orang memilih untuk memasang wifi demi bisa berkomunikasi dengan sanak saudara maupun dalam hal pekerjaan.

Sutiono
Sutiono, Kepala Dusun Kalongan/Foto: Nisa

Potret Keseharian Warga Kalongan

Kalongan yang jauh dari apa-apa, membuat warganya beraktivitas hanya dalam area dusun tersebut. Menurut Sutiono, rata-rata warga Kalongan bekerja sebagai petani, baik yang punya ladang sendiri maupun sewa ke Perhutani atau membuka ladang baru untuk ditanami. Masyarakat setempat menyebutnya bawon.

Setiap satu hektar per tahun, warga membayar sewa 800.000 kepada Perhutani. Ladang-ladang itu ditanami padi dalam sekali selama setahun, ditanami jagung dua kali dan singkong satu kali.

Mata pencaharian utama warga yang mayoritas Islam itu bersumber dari hasil panen tiga tanaman tersebut. Sebelum matahari terbit, warga pergi ke ladang, yang lokasinya tak jauh dari rumah.

Jika singkong yang ditanam di galengan atau pembatas antar ladang dan jalan sudah panen, orang-orang akan mengupas singkong di depan rumah. Menjemurnya langsung di tanah, di terpal maupun di widik. Gaplek tersebut dikeringkan selama kurang-lebih satu minggu. Kemudian disetorkan ke Suyitno selaku pengepul gaplek dan jagung.

Akses pasar yang jauh dan jalan yang tidak bersahabat, membuat warga setempat cukup terbantu dengan kehadiran Suyitno sebagai pengepul.

Menurut Suyitno, setidaknya, minimal satu orang menyetorkan gaplek sebanyak satu ton dan paling banyak 8 ton. Gaplek tersebut dibeli Suyitno dengan harga Rp 2.500 perkilonya.

“Kemudian saya setorkan kepada orang untuk disetorkan ke prabik tepung dengan harga 2.600 per kilonya,” terangnya.

Suyitno sendiri tidak membatasi minimal penjualan gaplek. “Berapapun jumlah gaplek dari warga, meski satu kilo, jika dijual tetap saya beli,” jelasnya.

Gaplek
Gaplek, salah satu mata pencaharian warga Dusun Kalongan/Foto: Nisa

Musim panen singkong sendiri terjadi di bulan Juli-September. Biasanya awal tahun masyarakat sudah mulai menanam singkong. Lantas panen di bulan keempat dan kelima. Sementara untuk harga jagung sendiri, ia beli dari warga per kilonya Rp 3.500-3.800. Tidak hanya membeli hasil panen, Suyitno juga sering memberikan pinjaman berupa benih dan pupuk jagung untuk warga. Dibayar ketika panen sudah tiba.

Jika panen gagal, Suyitno merelakan benih dan pupuknya dibayar pada panen berikutnya. Tentu ia pernah juga tertipu, tapi berjalannya panen akhir-akhir ini, semua lancar. “Kalau saat ini alhamdulillah orangnya amanah semua,” ucap laki-laki yang sudah menjadi pengepul gaplek dan jagung selama lebih dari 10 tahun itu.

Sedangkan hasil panen padi, dijadikan sebagai bahan pangan sendiri oleh warga Kalongan. Sangat jarang orang yang menjual hasil panen padi.

Suyitno
Suyitno, pengepul hasil panen (padi, jagung dan gaplek) warga Dusun Kalongan/Foto: Nisa

Ibu-Ibu Tukang Potong Batang Bawang Merah

Selain menjual tiga hasil panen di atas, ada sekelompok ibu-ibu yang bekerja sampingan sebagai tukang potong batang bawang merah. Siang itu, tiga ibu-ibu dan satu perempuan tua duduk di depan rumah di antara gunungan bawang merah pada Senin (5/8/2025).

Mereka Bernama Pipin (28), Diyem (45), Patmi (45), dan Jamis (sekitar 80).

“Nggak tahu umur berapa, wong orang dulu. Paling sekitar 80 tahun lebih,” ungkap Jamis tersenyum saat ditanya usianya. Kerutan di wajahnya menandakan betapa ia sering tersenyum kepada siapapun.

Meski sudah tua, Jamis yang hidup sendirian dan apa-apa serba sendiri itu masih semangat bekerja. Pritil atau pekerjaan potong batang bawang merah semangat dilakoninya demi gaji seribu rupiah per kilo bawang merah.

“Nok omah dewean, masak yo dewe, anake wis omah-omah (di rumah sendiri, masak ya sendiri, anaknya sudah berkeluarga),” cerita Jamis.

Punggungnya yang tak sekuat saat muda, ternyata masih sanggup digunakan duduk seharian untuk pritil dengan gaji rata-rata Rp 30 ribu perhari dan paling banyak Rp 50 ribu. Tergantung berapa banyak bawang merah yang dihasilkan Jamis.

Rahasia tetap semangat dan segar di usia senja menurut dia makan nasi tiwul (nasi yang dicampuri singkong) dengan sayur lodeh dan pindang. “Tidak makan seblak,” katanya tersenyum.

“Nganti umur semene aku rung ngerasakno seblak (sampai umur segini aku belum pernah merasakan seblak),” ujar Jamis.

Menurut Diyem yang duduk di sebelah Jamis, mereka biasanya pritil dari pagi hari sampai stok bawang merahnya habis. Terkadang, jam 8 malam pekerjaan itu baru selesai.

“Jika diminta lembur ya lembur kita, lumayan buat tambah uang belanja,” kata Diyem.

Bawang merah yang dikulak oleh bosnya mereka dari Nganjuk itu, setelah dipritil akan dijual di pasar kota Bojonegoro.

Para ibu-ibu ini begitu terbiasa dengan pekerjaannya. Apa yang mereka lakukan seperti bukan beban, melainkan suatu hal biasa dan enteng. Pekerjaan yang menurut mereka menjadikan badan dan baju menjadi bau bawang merah yang sulit hilang, dan punggung menjadi pegal itu dilakoni dengan canda tawa. “Ngeneki geger nganti ra kober lurus (kayak gini punggung tidak sempat diluruskan),” ujar Patmi.

Bekerja secara berkelompok dan bisa berbincang ngalor-ngidul itulah yang menjadi hiburan bagi para ibu-ibu. “Kalau ada tontonan itu ke Ngasem, ke Ngambon, lewat jalan jelek itu,” kata Pipin.

“Kalongan itu wis terkenal nok ndi-ndi. Angger enek wong rene buwoh, Kalongan dalane uwelek (Kalongan itu sudah terkenal di mana-mana. Setiap ada orang yang kondangan, mereka selalu bilang Kalongan jalannya juwelek),” sahut Diyem penuh tawa.

Patmi juga memberi sahutan, jika hujan melanda, jalanan menjadi berlumpur dan sulit dilewati. Sulitnya akses, membuat para warga berbelanja ke Pasar Ngambon setiap tiga hari sekali. Hanya ada satu penjual sayur keliling, itupun lewat ketika matahari sudah hampir di atas kepala.

“Lak gak onok duwik ya gak nok pasar, mangan sak onone (jika tidak ada uang ya tidak ke pasar, makan seadanya),” ungkap Patmi.

Di antara terbatasnya fasilitas, masyarakat Kalongan tetap enjoy menikmati aktivitas sehari-hari: bertani, membuat gaplek, pritil dan sesekali keluar dusun untuk menonton pertunjukan seperti wayang dan karnaval. Hidup di tengah hutan, tetap mereka lakoni dengan tenang. Sebab memang mereka lahir dan besar di sana, di antara rerimbunan hutan jati, hijaunya bukit-bukit, segarnya oksigen yang murni, dan sungai gandong yang kering di musim kemarau.

Tags: bojonegoroselatandusun tengah hutankalongan
Previous Post

Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

Next Post

7 Wisata Bojonegoro Bernuansa Sejarah, Ada Apa Saja?  

KONTEN POPULER

Review Usai Menonton Film Pangku: Jalan Hidup Hadir Tanpa Ada Pilihan Lain

Review Usai Menonton Film Pangku: Jalan Hidup Hadir Tanpa Ada Pilihan Lain

08/11/2025
Gunung Pandan Bojonegoro

Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Pandan, Terapi Alam di Puncak Tertinggi Bojonegoro

14/11/2025
Manfaatkan Media Sosial untuk Pemasaran, Jamilatun Nisak Terus Kembangkan Bisnis Rajut

Manfaatkan Media Sosial untuk Pemasaran, Jamilatun Nisak Terus Kembangkan Bisnis Rajut

08/11/2025
7 Menu Sarapan Paling Favorit Wong Bojonegoro, Serabeh Ketan hingga Nasi Pecel

7 Menu Sarapan Paling Favorit Wong Bojonegoro, Serabeh Ketan hingga Nasi Pecel

25/11/2025
Pipin, Diyem, Patmi dan Jamis saat potong batang bawang merah sebagai pekerjaan sampingan ibu-ibu Dusun Kalongan

Melihat Kampung Kalongan dari Dekat, Permukiman Tengah Hutan Jati Bojonegoro

12/11/2025
Rekomendasi 7 Buku tentang Bojonegoro yang Wajib Anda Baca

Rekomendasi 7 Buku tentang Bojonegoro yang Wajib Anda Baca

03/11/2025

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023