Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Kota

Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

Mukaromatun Nisa
06/02/2026
Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

Banda Neira tampil memukau di Dapur Art Karinah/Foto: Nisa

Saya mengenal lagu Banda Neira dari album keduanya: Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti. Saat mendengarkan lagunya, saya berpikir, hidup memang butuh jeda. Tidak selalu harus berjalan, tidak wajib berlari agar tidak ditinggalkan.

Yang paling patah, justru menjadi yang paling tumbuh. Sepertinya, lagu-lagu Banda Neira memang tercipta untuk perjalanan dan penyembuhan. Dari lagu satu ke lainnya, seperti benang merah yang terus terhubung.

Dan malam itu, Jumat (30/1/2026), langit tidak mendung. Di halaman Dapur Art Karinah, saya bersama ratusan penonton terasa begitu dekat dengan Banda Neira. Ya, malam itu, sekitar pukul 19.00 WIB, adalah malam Konser Intimate Banda Neira.

Saya dengan dua orang teman duduk di kirsi baris agak belakang. Beberapa penonton ada mengisi barisan kursi di kiri panggung, dan sisanya menikmati konser di kanan panggung di naungan joglo kayu jati.

Sekitar pukul 20.00 WIB, Ananda Badudu dan Sasha Iguana memasuki panggung. Tema kostum mereka hijau dan hitam. Nanda dengan poni yang menutup dahinya, tampil dengan kemeja hijau dan celana hitam. Sasha yang berambut pendek sebahu mengenakan baju tanpa lengan warna hijau bermotif bulat putih. Baju itu dipadukan dengan rok hitam.

Nanda membawa gitar dan Sasha membawa biola. Khas Banda Neira. Lagu pertama yang dibawakan band asal Bandung itu adalah Tak Apa Akui Lelah. Pekerja yang masih membawa ransel, siswa dengan seragam pramuka, orang tua dengan balitanya, seorang istri yang hamil, sampai anak muda dengan beragam outfitnya, turut melepas lelah seirama gitar dan biola dimainkan.

Tak apa akui lelah

Mundur sejenak beri waktu tuk diri sendiri

Tak apa ambil jeda

Pun ini semua bukan perkara menang dan kalah

Tidak ada suara lantang, semua bernyanyi pelan. Tidak ada berdiri berdesakan, semua duduk khidmat menikmati lagu-lagu sajian. Tidak ada jingkrak-jingkrak, tepuk tangan lambat dan tubuh ke kanan-kiri mengiringi. Lainnya tersenyum, bahagia, beberapa menitikkan air mata, entah bersedih atau justru menangis haru.

Suasana konser Banda Neira Berjalan Lebih Jauh di Dapur Art Karinah/Foto: Nisa

Selanjutnya Nanda dan Sasha bernyanyi Mimpilah Seliar-liarnya. Umumnya, manusia dituntut memiliki mimpi yang besar, mimpi yang diagungkan kebanyakan orang. Liar menjadi konotasi pelanggaran hukum dan aturan. Namun, di konser itu penonton diperbolehkan bermimpi seliar-liarnya. Bahwa mimpi punya perorangan tanpa penghakiman dan tanpa paksaan.

Mimpilah seliar-liarnya

Mimpi yang mengandung bahaya

Esok pagi kan kita jelang

Kenyataan kan kita taklukkan

Suasana konser Banda Neira Berjalan Lebih Jauh di Dapur Art Karinah/Foto: Nisa

Hujan di Mimpi, Senja di Jakarta yang liriknya diubah di Jalan Kartini (salah satu jalan di Bojonegoro), dan Utarakan menjadi lagu selanjutnya yang disajikan. Kadang Sasha bermain piano dan Nanda tetap dengan gitarnya. Lalu berganti Nanda yang bermain piano, Sasha kembali dengan biolanya.

Waktu terus berjalan. Malam makin larut. Nanda dan Sasha membawakan lagu yang cocok dengan para penulis yang turut hadir. Pun mungkin juga bagi jurnalis dan penikmat-penikmat karya tulis. Lagu itu berjudul Kan Terus Kutulis sampai Nafas Ini Habis. Tentang sebuah proses menulis puisi, mungkin bisa berarti menulis perjalanan, menulis hidup, menulis yang patah dan tumbuh, menulis yang lelah sampai jauh yang membawa pulang.

Kan ku tambah baris

Ku panjangkan bait

Kan terus ku tulis

Sampai nafas ini habis

Tak akan ku berhenti

Sebelum menyanyikan lagu Di Beranda, Sasha bertanya kepada para penonton, adakah yang merantau? Atau adakah orang Bojonegoro tapi kost di Bojonegoro. Perempuan di samping saya turut berbinar. Warga Tuban yang bekerja di Rembang itu hanya bergumam tanpa mengangkat tangan. Baginya, pulang kerja dan motoran ngebut dari Rembang ke Bojonegoro tak terasa saat Nanda dan Sasha bernyanyi untuknya, untuk semua.

Lagu yang hampir semua hafal, didendangkan dengan alunan piano yang panjang oleh Nanda, Sampai Jadi Debu. Tidak hanya menyanyi, penonton juga merekam, mungkin untuk dikenang dan bernyanyi lagi.

“Badai tuan, telah berlalu.”

Tiap orang memiliki badainya masing-masing. Mereka aman, tenang, sampai jadi debu, bukan sampai jadi yang orang lain mau.

Lagu terakhir, dengan pembuka nada panjang pula, membuat hati rasanya berkata “Jangan dulu, aku masih mau bersamamu.” Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti mengalun merdu.

Yang yang patah tumbuh yang hilang berganti

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia sia akan jadi makna

Yang terus berulang suatu saat henti

Yang pernah jatuh kan berdiri lagi

Yang patah tumbuh yang hilang berganti

Namun ternyata, lagu itu bukan penutup. Kata Sasha, masih ada satu lagi lagu sebagai penutup pelipur lara konser malam itu, senada dengan tema tour panggung intim mereka, Berjalan Lebih Jauh.

Berjalan lebih jauh

Menyelam lebih dalam

Jelajah semua warna

Bersama, bersama

Tidak sampai pukul 21.30 WIB konser usai. Rasanya amat sebentar. Namun begitulah, orang datang dan pergi, dan manusia mengalami patah-tumbuh untuk berjalan lebih jauh.

Tags: Banda NeiraBerjalan Lebih Jauh
Previous Post

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

Next Post

Tiba di Jawa Usia 20 Tahun, Raden Rahmat Jadi Wali Keramat di Ampel Denta

KONTEN POPULER

Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

Nonton Konser, Terapi Psikologis Atau Fomo Aja?

15/01/2026
Hidup Adalah Cara Memandang Dunia

Hidup Adalah Cara Memandang Dunia

06/02/2026
29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

09/02/2026
Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

Tradhisi Nisfu Sya’ban lan Megengan, Sawijining Akulturasi Budaya

02/02/2026
Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

05/02/2026
Menonton Nausicaa, Belajar Welas Asih pada Semua Makhluk

Menonton Nausicaa, Belajar Welas Asih pada Semua Makhluk

24/01/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023