Saya mengenal lagu Banda Neira dari album keduanya: Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti. Saat mendengarkan lagunya, saya berpikir, hidup memang butuh jeda. Tidak selalu harus berjalan, tidak wajib berlari agar tidak ditinggalkan.
Yang paling patah, justru menjadi yang paling tumbuh. Sepertinya, lagu-lagu Banda Neira memang tercipta untuk perjalanan dan penyembuhan. Dari lagu satu ke lainnya, seperti benang merah yang terus terhubung.
Dan malam itu, Jumat (30/1/2026), langit tidak mendung. Di halaman Dapur Art Karinah, saya bersama ratusan penonton terasa begitu dekat dengan Banda Neira. Ya, malam itu, sekitar pukul 19.00 WIB, adalah malam Konser Intimate Banda Neira.
Saya dengan dua orang teman duduk di kirsi baris agak belakang. Beberapa penonton ada mengisi barisan kursi di kiri panggung, dan sisanya menikmati konser di kanan panggung di naungan joglo kayu jati.
Sekitar pukul 20.00 WIB, Ananda Badudu dan Sasha Iguana memasuki panggung. Tema kostum mereka hijau dan hitam. Nanda dengan poni yang menutup dahinya, tampil dengan kemeja hijau dan celana hitam. Sasha yang berambut pendek sebahu mengenakan baju tanpa lengan warna hijau bermotif bulat putih. Baju itu dipadukan dengan rok hitam.
Nanda membawa gitar dan Sasha membawa biola. Khas Banda Neira. Lagu pertama yang dibawakan band asal Bandung itu adalah Tak Apa Akui Lelah. Pekerja yang masih membawa ransel, siswa dengan seragam pramuka, orang tua dengan balitanya, seorang istri yang hamil, sampai anak muda dengan beragam outfitnya, turut melepas lelah seirama gitar dan biola dimainkan.
Tak apa akui lelah
Mundur sejenak beri waktu tuk diri sendiri
Tak apa ambil jeda
Pun ini semua bukan perkara menang dan kalah
Tidak ada suara lantang, semua bernyanyi pelan. Tidak ada berdiri berdesakan, semua duduk khidmat menikmati lagu-lagu sajian. Tidak ada jingkrak-jingkrak, tepuk tangan lambat dan tubuh ke kanan-kiri mengiringi. Lainnya tersenyum, bahagia, beberapa menitikkan air mata, entah bersedih atau justru menangis haru.

Selanjutnya Nanda dan Sasha bernyanyi Mimpilah Seliar-liarnya. Umumnya, manusia dituntut memiliki mimpi yang besar, mimpi yang diagungkan kebanyakan orang. Liar menjadi konotasi pelanggaran hukum dan aturan. Namun, di konser itu penonton diperbolehkan bermimpi seliar-liarnya. Bahwa mimpi punya perorangan tanpa penghakiman dan tanpa paksaan.
Mimpilah seliar-liarnya
Mimpi yang mengandung bahaya
Esok pagi kan kita jelang
Kenyataan kan kita taklukkan

Hujan di Mimpi, Senja di Jakarta yang liriknya diubah di Jalan Kartini (salah satu jalan di Bojonegoro), dan Utarakan menjadi lagu selanjutnya yang disajikan. Kadang Sasha bermain piano dan Nanda tetap dengan gitarnya. Lalu berganti Nanda yang bermain piano, Sasha kembali dengan biolanya.
Waktu terus berjalan. Malam makin larut. Nanda dan Sasha membawakan lagu yang cocok dengan para penulis yang turut hadir. Pun mungkin juga bagi jurnalis dan penikmat-penikmat karya tulis. Lagu itu berjudul Kan Terus Kutulis sampai Nafas Ini Habis. Tentang sebuah proses menulis puisi, mungkin bisa berarti menulis perjalanan, menulis hidup, menulis yang patah dan tumbuh, menulis yang lelah sampai jauh yang membawa pulang.
Kan ku tambah baris
Ku panjangkan bait
Kan terus ku tulis
Sampai nafas ini habis
Tak akan ku berhenti
Sebelum menyanyikan lagu Di Beranda, Sasha bertanya kepada para penonton, adakah yang merantau? Atau adakah orang Bojonegoro tapi kost di Bojonegoro. Perempuan di samping saya turut berbinar. Warga Tuban yang bekerja di Rembang itu hanya bergumam tanpa mengangkat tangan. Baginya, pulang kerja dan motoran ngebut dari Rembang ke Bojonegoro tak terasa saat Nanda dan Sasha bernyanyi untuknya, untuk semua.
Lagu yang hampir semua hafal, didendangkan dengan alunan piano yang panjang oleh Nanda, Sampai Jadi Debu. Tidak hanya menyanyi, penonton juga merekam, mungkin untuk dikenang dan bernyanyi lagi.
“Badai tuan, telah berlalu.”
Tiap orang memiliki badainya masing-masing. Mereka aman, tenang, sampai jadi debu, bukan sampai jadi yang orang lain mau.
Lagu terakhir, dengan pembuka nada panjang pula, membuat hati rasanya berkata “Jangan dulu, aku masih mau bersamamu.” Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti mengalun merdu.
Yang yang patah tumbuh yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh yang hilang berganti
Namun ternyata, lagu itu bukan penutup. Kata Sasha, masih ada satu lagi lagu sebagai penutup pelipur lara konser malam itu, senada dengan tema tour panggung intim mereka, Berjalan Lebih Jauh.
Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama
Tidak sampai pukul 21.30 WIB konser usai. Rasanya amat sebentar. Namun begitulah, orang datang dan pergi, dan manusia mengalami patah-tumbuh untuk berjalan lebih jauh.








