Enjoy dengan apa yang dilakukan, membuat Jamilatun Nisak (23) betah berlama-lama dengan rajutnya. “Kayak nggak ada rasa jenuh sama sekali,” ucapnya dengan senyum.
Perempuan asal Desa Bancer, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro ini memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan pesanan rajut, menyalurkan hobi yang ternyata menjadi peluang usaha yang menguntungkan.
Perempuan yang sekarang berdomisili di Banyuwangi ini bercerita perjalanan bisnis rajutnya yang dimulai sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Mila, begitu panggilan akrabnya memulai bisnis rajut, berawal dari keinginannya karena melihat tas rajut milik temannya, akhirnya meminta ibunya untuk mengajari cara merajut. Hal itu disambut ibunya dengan mengajarinya merajut dengan pola-pola sederhana.
“Pertama kali banget, waktu SD aku lihat temanku dibikinkan tas kecil buat tempat HP sama ibunya. Dari situ aku pengen dan minta diajari,” kata Mila ketika diwawancarai pada Minggu (02/11/2025).
Ibunya, waktu itu sering bikin rajut tutup kendi. Ia pun belajar membuat. Bermula dari satu pola rajut itu, dia mencoba-coba berinovasi sendiri bikin rajutan, meskipun waktu itu hasilnya masih belum baik.
“Ketika SMP, aku lihat temanku ada yang menggunakan tas rajut motif Instagram gitu, lucu. Aku mikir, pengen buat. Tapi, waktu itu belum kenal sama YouTube jadi berinovasi sendiri dari satu pola yang aku bisa, namun hasilnya tidak sesuai ekspektasi, cuma jadi tas bulat,” ungkap Mila tersenyum mengenang.
Teman Adalah Pembeli Pertama

Akhirnya, ketika mulai duduk di bangku SMA, perempuan dengan gigi gingsul ini pertama kali melihat tutorial di YouTube. Dari sini dia mulai mencoba merajut kembali. Dan dari situ, mulailah merajut menjadi hobinya.
“Pertama kali aku lihat di YouTube itu ada tutorial tas rajut motif kerang. Dari situ iseng-iseng merajut lagi. Ada temanku yang lihat dan langsung minta bikinkan tas rajut, nanti akan dibelinya. Akhirnya percobaan rajut pertama aku jual ke temanku itu,” katanya.
Selama SMA, Mila berada di pondok pesantren. Dari satu pesanan pertama temannya tersebut, rajut Mila menyebar di pondok pesantren dengan cerita mulut ke mulut. Di pondok pesantrennya terdapat anak SMP dan SMA yang diakui Mila menjadi peluang untuk mempromosikan hasil rajutnya. Dan benar, pesanan satu persatu mulai berdatangan. Dia mencoba mencari referensi pola rajut baru dan menawarkan kepada teman-temannya. Dia mengaku merasa senang dan terharu ketika tawarannya diterima dan diapresiasi dengan baik, bahwa hasil rajutannya bagus.
“Sejak saat itu aku menekuni hobiku ini, tiap minggu aku catat orderan (pesanan) dan belanja bahan-bahan di toko benang. Aku selalu memanfaatkan waktu di sela kesibukan di pondok buat mengerjakan orderan. Ke mana-mana selalu bawa benang rajut, jarum rajut, dan kantong kresek kecil,” jelas perempuan 23 tahun ini.
Setelah lulus di pondok pesantren, Mila melanjutkan pendidikannya hingga sekarang telah bekerja. Usaha bisnis rajutnya semakin berkembang. Dia menambahkan nama produk (brand) dalam rajutannya.
Mila merajut beberapa jenis rajutan, seperti tas, dompet, strap masker, headband (ikat kepala), boneka, dan amigurumi. Dia juga membuka custom (dibuat sesuai pesanan. Bagi Anda yang penasaran, bisa cek di Instagram @handycraft.bymila.
Cari Referensi Tren Rajut dari Media Sosial

Ide pola rajut datang dari melihat sosial media. Mila biasanya mencari referensi dari sosial media terutama Tiktok, diantaranya mencari pola rajut apa yang lagi booming. Lalu, ia akan mencari tutorialnya di YouTube. Sedangkan lama waktu yang dibutuhkan dalam membuat satu produk rajut adalah tergantung jenis benang dan kerumitan pola rajutnya.
Usaha bisnis rajut Mila masih dikelola sendiri olehnya. Dia sebenarnya memiliki pekerjaan utama, dan di sela-sela bekeja itulah ia mengerjakan pesanan rajut.
“Untuk kualitas bahan, aku belajar dari sosmed tentang jenis-jenis benang rajut dan kecocokan dengan rajutan yang ingin aku kerjakan. Jadi, beda jenis produk rajutan beda pula benang yang digunakan” tutur Mila.
Kini hasil rajutannya dipasarkan secara online dan offline. Mila membuat konten dari hasil rajutnya yang kemudian diposting di WhatsApp, Tiktok, Instagram dan Shopee. “Respon pasar sejauh ini alhamdulillah positif, dari produk-produk baru yang aku launching (kenalkan) banyak yang tertarik dan pesan” tuturnya. Produk rajut amigurumi yang sering dicari.
Dijelaskan Mila, produk rajut yang paling sulit adalah sesuai bahan yang digunakan, dicontohkannya adalah benang macrame karena sifat benangnya yang keras. Di sisi lain yang menjadi tantangan menurutnya adalah mengatur waktu, dengan pekerjaannya yang sistem full time, mempengaruhi produktivitas rajutnya.
Salah satu impian Mila adalah dia berharap, bisa berkesempatan mengembangkan bisnis rajut lebih luas dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Dalam menjalankan usaha bisnis kreatif, diakui Mila, peran keluarga, teman-teman dan lingkungannya menjadi sangat penting. Karena menjadi motivasi tersendiri baginya.
Dia berpesan kepada anak muda khususnya yang tertarik berbisnis, supaya selalu semangat. “Semangat terus! Manfaatkan teknologi sebaik mungkin buat ngembangin bisnis kalian! Jangan lupa perluas relasi dan dari sana bakal banyak yang kenal!,” pungkasnya.








