Program pembibitan mangrove di Mangrove Center Sedayulawas (MCS), di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan berdampak langsung pada nelayan dan masyarakat sekitar. Selain untuk menjaga lingkungan, program ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi para siswa sekitar lokasi pembibitan.
Seperti yang dilakukan oleh para siswa SMA Islam Terpadu Al Azhar Brondong, Lamongan. Mereka terjun ke lokasi dan ikut melakukan praktik pembibitan mangrove di MCS, Sabtu (10/07/2024). Sebanyak 15 siswa dari kelas X dan XI bergabung dengan para nelayan dan belajar langsung tentang proses pembibitan. Pihak sekolah menamai program ini dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil’alaamin (P5RA) dari rangkain pembelejaran Adiwiyata.
MCS merupakan tempat pembibitan dan penanaman mangrove yang melibatkan kerja sama antara Lembaga Informasi dan Komunikasi Masyarakat Banyuurip Bangkit (Lima 2B) dengan Rukun Nelayan (RN) Sedayulawas yang diawasi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Amanah Brondong Lamongan. Pembibitan mangrove yang berjalan dari tahun 2023 tersebut terletak di tanah Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS) Lamongan. Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI).
“Kegiatan itu bentuk kolaborasi dengan semua pihak termasuk dunia pendidikan untuk menjaga dan merawat kelestarian pesisir laut, khususnya di Kabupaten Lamongan,” terang Mugito Citrapati, Ketua Lima 2B.
Tempat pembibitan dan penanaman mangrove ini didesain menjadi laboratorium mangrove bagi siswa atau khalayak umum. Juga menjadi penunjang ekonomi bagi para nelayan dengan penjualan bibit ke berbagai kota serta pengolahan buah mangrove menjadi sirup dan brownies.
Kepala sekolah SMA Islam Terpadu Al Azhar Brondong, Wiji Bahari, saat mendampingi siswa dalam kegiatan P5RA ini. Ia memperkenalkan siswa dengan Agus Santoso dan Fatkhur Rohman, dua orang anggota RN Sedayulawas.
Menurut Wiji, banyaknya pabrik di sekitar Sedayulawas dan kendaraan bermesin, membuat polusi semakin meningkat. Ini menjadi salah satu alasan pelatihan pembibitan dilakukan. “Agar para siswa memiliki rasa suka dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” tuturnya.
Sebelum praktik pembibitan, para siswa juga diberi kesempatan untuk belajar langsung dengan para anggota RN tersebut. Salah satu siswa M. Ahlan Geofani bertanya terkait manfaat mangrove. “Kalau banyak tanaman mangrove, maka oksigennya semakin banyak dan bersih,” kata Fatkhur Rohman, anggota RN Sedayulawas.
Ia juga menjelaskan bahwa mangrove juga menunjang kehidupan biota laut, mencegah erosi dan abrasi, serta bisa dijadikan olahan pangan. Para siswa pun begitu antusias bertanya. “Apa saja jenis mangrove di sini?,” tanya Aini Nur Safina dari kelas X.
“Jenisnya hampir 100. Kalau yang pentung-pentungan namanya Rizophora Mucronata. Kalau yang dibuat olahan sirup dan roti ini namanya Bogem,” terang Agus yang setiap hari merawat pembibitan mangrove.
Agus kemudian menjelaskan bahwa melakukan pembibitan, penanaman dan membangun ekowisata mangrove dilakukan para nelayan dengan penuh perjuangan. Tujuannya adalah, saat generasi seperti dirinya sudah tua, maka anak-anak generasi setelahnya bisa melanjutkan menanam bibit mangrove dan akan diteruskan oleh generasi berikutnya lagi. “Saya sangat senang bisa berlajar bersama dengan anak-anak. Semoga anak-anak peduli pada pohon mangrove,” terangnya.
Dalam program ini, para siswa terlibat langsung dalam proses pembibitan. Mereka antusias memasukkan media tanam ke polibag dan menanam bibit mangrove jenis Rizophora Mucronata. Mereka juga penuh semangat meletakkan bibit masing-masing di tempat pembibitan (nursery).
“Saya sangat senang mengikuti proses pembibitan mangrove karena dapat ilmu yang manfaatnya luar biasa. Semoga dengan adanya penanaman mangrove kami dapat terhindar dari bencana banjir,” ujar Della Aunur Rohmah, siswa lainnya.
***

Pada hari yang sama, Sabtu (10/08/2024), tim Lima 2B sebagai pendamping teknis pembibitan dan penanaman mangrove juga melakukan monitoring di MCS. Monitoring bertujuan memastikan kegiataan yang dilaksanakan sudah tepat sasaran, sesuai rencana, serta mengidentifikasi masalah yang timbul agar dapat langsung diatasi.
“Monitoring berkunjung langsung ini dilakukan setiap dua minggu sekali, tapi tim kami selalu berkomunikasi instens dengan Rukun Nelayan di masing-masing wilayah,” ujar Pristi Anjartami, dari tim Lima 2B.
Alumni Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang ini menjelaskan, selain berkoordinasi dengan nelayan, kali ini juga untuk memberikan sible atau mesin pengairan kepada Heni Fikawati, Kelapa Desa Sedayulawas. Mesin tersebut untuk membantu aktivitas penyiraman pembibitan dan penanaman mangrove.
Dengan pengairan yang cukup, diharapkan pembibitan bisa berjalan normal. Nantinya Kabupaten Lamongan memiliki sentra mangrove yang berdikari, mulai dari pembibitan hingga aneka olahan hasil mangrove. Apalagi mangrove mampu menyimpan karbon sebanyak 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis daratan untuk memitigasi perubahan iklim.
MCS, lanjut Pristi, didesain bisa merawat alam dan memperbanyak mangrove untuk menjadi rumah bagi biota pesisir. MCS juga akan menjadi sumber pangan dan perekonomian masyarakat sekitar melalui penjualan bibit, pengolahan buah mangrove menjadi sirup dan brownies.
“Tujuan pembibitan untuk menyiapkan dan menyediakan bibit mangrove siap tanam serta mewujudkan wisata edukasi tentang mangrove termasuk segala potensinya,” ujar Mugito Citrapati menambahi.

Meski belum sepenuhnya menjadi wisata edukasi, lanjut dia, MCS telah beberapa kali dijadikan tempat pembelajaran Adiwiyata dalam bentuk praktik pembibitan mangrove. Diantaranya para siswa MI Unggulan Al Azhar dan SMA Islam Terpadu Al Azhar.
Fauzi, ketua RN Sedayulawas merasa sangat senang dengan adanya MCS ini. “Saya berharap RN selalu diberikan dukungan untuk terus maju dan berkembang, baik untuk melestarikan lingkungan atau meningkatkan ekonomi sebagai nelayan,” harapnya.
Sementara itu, Agus Santoso, salah satu anggota RN Sedayulawas yang setiap hari merawat 10.000 bibit mangrove merasa beruntung bisa melakukan kegiatan lain selain melaut dan membuat jaring kepiting atau bubu. Ia juga sering membersamai para siswa belajar pembibitan. Karena ketelatenannya lah monitoring berjalan lancar.
Program pembibitan dan penanaman mangrove sendiri mulai dilakukan awal 2023. Waktu itu, Lima 2B bermitra dengan EMCL berkolaborasi dengan RN Sedayulawas dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) untuk mengawal program penghijauan di wilayah kerja migas Tuban-Lamongan.
Setelah dilakukan pemetaan wilayah dengan melihat sedimentasi yang cocok untuk tanaman mangrove, dilakukan sosialisasi kepada para nelayan Sedayulawas dan dimulai pembibitan 14.000 pohon. Pada Mei 2024, Lima 2B kembali mengadakan pembibitan sebanyak 10.000 pohon mangrove.
Pada 6 Mei 2024, Lima 2B memperluas dampaknya dengan mengadakan pelatihan pembuatan olahan mangrove. Para ibu-ibu dari RN Sedayulawas dilibatkan secara langsung. Mereka mencoba mengolah buah mangrove menjadi sirup dan brownies.[nf]









