Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Timur

Mbah Kramat Dandang: Panyebar Islam di Bojonegoro Timur

Nono Warnono
10/11/2025
Mbah Kramat Dandang: Panyebar Islam Ing Bojonegoro Sisih Wetan

Bangunan Makam Syekh Tohirun/Foto: Dok. Nono Warnono

Menyebut nama Mbah Kramat Dandang yang memiliki nama asli Syeikh Thohirun Al-Mudri bin Al-Qodri, tidak lepas dari usaha dakwah menumbuhkembangkan ajaran Islam di tanah Jawa. Kehadiran Mbah Kramat Dandang ditandai dengan adanya petilasan berupa makam di Dusun Nguluh Desa Gajah Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.

Jarak makam Mbah Kramat Dandang dari pusat pemerintahan Kabupaten Bojonegoro kurang lebih 30 km. Kalau ditempuh dengan kendaraan bermotor butuh waktu antara empat puluh lima menit hingga satu jam lamanya. Sedangkan jika diukur jarak dari Pasar Babat Lamongan menuju lokasi petilasan kurang lebih berjarak 3 kilometer. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor hanya  membutuhkan waktu kurang lebih 5-10 menit.

Lokasi makam Mbah Kramat Dandang memang lebih dekat dengan perbatasan Kabupaten Lamongan sebelah timur, jika dibandingkan dengan  kota Bojonegoro. Hanya berjarak satu kilometer dari tugu perbatasan Bojonegoro-Lamongan, lalu menyusuri jalan makadam satu kilometer arah barat laut Dusun Nguluh Desa Gajah Kecamatan Baureno berada di tengah pesawahan.

Makam Mbah Kramat Dandang juga ditandai tapal batas wilayah  lain, yaitu sebelah utara berbatasan dengan Dusun Sekalang, Desa Kalisari, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Desa Gunungsari Kecamatan Baureno, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Banaran Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan.

Tidak ada sumber literatur yang menulis sejarah kiprahnya Mbah Kramat Dandang di Desa Gajah Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. Sekarang yang jadi penanda sebagai sebuah peninggalan bersejarah hanya berupa petilasan makam Mbah Kramat Dandang di area pesawahan.  Sumber lain yang ada hanya berupa cerita lisan turun temurun dari para sesepuh sejak jaman dulu (tutur tinilar). Cerita rakyat yang sacara lisan sudah diketahui masyarakat Bojonegoro bagian timur dan sekitarnya.

Pagi itu ketika penulis ziarah di dalam petilasan, terlihat bangunan makam yang sudah dipugar oleh Pemerintah Desa Gajah. Masih ada bunga di atas kijing makam, berarti belum lama ada pengunjung lain yang berziarah (nyekar) memanjatkan doa untuk waliullah pendkwah agama Islam di Bojonegoro Timur.

Mbah Jumanto, yang pagi itu mencangkul sawah sebelah selatan makam, ditemui penulis  untuk bercerita terkait makam Mbah Kramat Dandang dengan penuh antusias. Simbah yang sudah sepuh tetapi masih terlihat kuat tersebut tidak keberatan diajak wawancara seputar sejarah adanya makam Mbah Kramat Dandang utau Syekh Thohirun Al-Mudri.

Diceritakan, dulu ada seorang ulama dari Timur Tengah yang beserta pengikutnya hendak berdakwah ajaran Islam di tanah Jawa. Ketika itu di tanah Jawa, kerajaan Majapahit sedang mencapai masa kejayaan ketika diemban oleh raja pertama yang sangat terkenal. Pada akhirnya Mbah Kramat Dandang memilih wilayah dakwah di seputar makamnya saat ini.

Seiring berjalannya waktu, Syekh Thohirun Al-Mudri bin Syekh Abdullah Al-Qodri bertemu dengan Gundari Dewi binti Raden Gajanto. Intensitas seringnya bertemu dalam melakukan dakwah, menjadikan komunikasinya semakin dekat. Lama kelamaan interaksi keduanya diikat dengan  upacara pernikahan, membangun rumah tangga yang damai dan bahagia hingga keduanya wafat.

Ada pertanyaan besr, apakah dijaman itu masyarakat kerajaan Majapahit sudah memeluk agama Islam? Sebab yang diketahui oleh masyarakat pada umumnya, bahwa kerajaan Majapahit itu bercirikan Hindu-Budha. Menurut Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengkajian Musium Nasional, Tri Gangga, mengatakan jika di jaman Majapahit sudah ada alat tukar berwujud uang “kepeng” dan “gobog” dengan kalimat syahadat tulisan hurup Arab. Bisa saja di saat itu uang tadi dipakai sebagai alat tukar dan jimat serta ikhtiar unruk dakwah menyebarkan agama Islam.

Beberapa literatur mengungkapkan sejatinya jaman kerajaan Majapahit agama Islam sudah lama masuk. Agama dari tanah Arab itu diyakini sudah masuk Nusantara di abad ke-7. Artinya ajaran agama Islam sudah ada di tanah Jawa sebelum kerajaan Majapahit berdiri.

Berdakwah Ajaran Islam Dengan Menyamar Sebagai Kundi

Makam Syekh Tohirun di Desa Gajah, Kecamatan Baureno, Bojonegoro/Foto: Dok. Nono Warnono

Diceritakan, perjalanan dakwah waliullah Syekh Tohirun Al-Mudri di jaman itu terasa aneh, sebab dia menyamar sebagai tukang membuat perkakas dapur (jw. kundhi). Perkakas alat memasak tadi (jw.dandang), tidak dijual seperti penjual alat dapur pada umumnya. Tetapi alat tersebut diberikan secara gratis kepada siapa saja yang mau  mengucapkan dua kalimat syahadat. Ashadu allaa ilaa haillallah. Waashadu anna Muhammadar Rasulullah.

Warga masyarakat banyak yang tertarik model pendekatan dakwah yang dilakukan oleh Syekh Tohirun Al-Mudri, sehingga oleh masyarakat dan pengikutnya dijuluki nama sebagai Mbah Kramat Dandang. “Dandang” mengambil istilah dari piranti untuk memasak yang dibuat oleh pengrajin berupa panci besar dari bahan tembaga, kuningan bahkan tanah liat. Istilah “kramat” merujuk dari lokasi atau tempat yang tatkala itu masih dipercaya masyarakat sebagai tempat yang angker. Tidak semua orang pada umumnya berani menjamah tempat tersebut.

Dalam syiar ajaran Islam sejak sebelum dikenal hingga banyak santri-santri dan pengikut setia serta tidak ketinggalan selalu diampingi oleh istrinya  Nyi Ngatipah. Dengan kesetiaannya sang istri mendampingi dakwah ajaran Islam hingga wafat. Begitu juga Syekh Tohirun Al-Mudri atau Mbah Kramat Dandang jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan istrinya. Keduanya dikubur di satu tempat oleh pengikut setianya, kemudian lokasi tersebut dinamakan Makam Mbah Kramat Dandang dan Nyai Gundari Dewi binti Raden Gajanto.

Pada kesempatan berbeda penulis menemui juru kunci makam, Kiai Supriyadi (Ketua PRNU Gajah) yang memiliki catatan silsilah keduanya. Nyai Ngatipah atau Nyai Gundari Dewi binti Raden Gajanto, yang masih keturunan raja Majapahit pertama, Raden Wijaya yang berjuluk Sri Kertajasa Jayawardhana (1293-1309). Sedangkan nasab keturunan Syekh Thohirun Al Mudri keturunan generasi ke- 24 dari silsilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Masih menurut keterangan dari juru kunci makam, untuk melestarikan perjuangan Mbah Kramat Dandang dalam dakwah Islam, sacara rutin masyarakat menyelenggarakan peringatan haul setiap tahun. Syekh Thohirun termasuk salah satu waliullah yang berdakwah mensyiarkan ajaran Islam, yang era itu masih jarang masyarakat yang mengenal ajaran tauhid. Dengan ghirah dakwah yang diikhtiarkan hingga berkembang kemana-mana dan ajaran Islam semakin diterima di tengah masyarakat.

Mendirikan Komplek Makam dan Joglo Gajah

Menurut H.Totok Kasun Nguluh, dia mendapat  amanah dari Kiai Nawawi Jenu Tuban, agar merawat makam dengan baik. Hingga  tahun 2000 lokasi terebut masih ditandai wayangan dan doa bersama. Pascasowan bersama Kiai Iskandar dan kades Wahyudi, mendapat amanah supaya melestarikan makam orang alim tersebut. Dan  Kiai Nawawi pribadi ikut hadir ziarah di lokasi makam dan mulai menandai pembangunan makam (pesarean).

Setelah menyelesaikan   kompleks makam Syekh Thohirun Al-Mudri, kini H.Totok masih terus merampungkan bangunan baru yang diberi nama Joglo Gajah. Lokasi tersebut dahulu menjadi pesanggrahan dan tempat  kumpul Mbah Kramat Dandang dan pengikutnya, yang sekaligus juga menjadi tempat bersemedi.

Saat ditanya penulis tentang asal-usul membangun joglo tadi, H.Totok menyampaikan dirinya sering bermimpi didatangi lelaki sepuh bersorban dan jubah putih yang memberi sasmita adanya tempat keramat yang dijadikan Mbah Kramat Dandang untuk berbagai kegiatan bersama para santri. Lokasi Joglo Gajah berada di selatan Makam Mbah Kramat Dandang yang sebelumnya masih berupa tanah terlantar penuh rerimbunan. Oleh karenanya pascasowan Kiai Nawawi di Jenu Tuban segera dibangun Joglo Gajah tadi hingga sekarang.

Tags: BojonegoroDesa GajahPenyebar IslamSejarah
Previous Post

Review Usai Menonton Film Pangku: Jalan Hidup Hadir Tanpa Ada Pilihan Lain

Next Post

Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

KONTEN POPULER

7 Menu Sarapan Paling Favorit Wong Bojonegoro, Serabeh Ketan hingga Nasi Pecel

7 Menu Sarapan Paling Favorit Wong Bojonegoro, Serabeh Ketan hingga Nasi Pecel

25/11/2025
5 Cagar Alam Geologi Bojonegoro, Kekayaan Bumi yang Jarang Dimiliki Daerah Lain

5 Cagar Alam Geologi Bojonegoro, Kekayaan Bumi yang Jarang Dimiliki Daerah Lain

24/11/2025
Pipin, Diyem, Patmi dan Jamis saat potong batang bawang merah sebagai pekerjaan sampingan ibu-ibu Dusun Kalongan

Melihat Kampung Kalongan dari Dekat, Permukiman Tengah Hutan Jati Bojonegoro

12/11/2025
Gunung Pandan Bojonegoro

Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Pandan, Terapi Alam di Puncak Tertinggi Bojonegoro

14/11/2025
Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

Musik Oklik Bojonegoro, Sejarah Singkat dan Dua Maestronya

11/11/2025
Review Usai Menonton Film Pangku: Jalan Hidup Hadir Tanpa Ada Pilihan Lain

Review Usai Menonton Film Pangku: Jalan Hidup Hadir Tanpa Ada Pilihan Lain

08/11/2025

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023