Pertama kali mendengar kata Kidung, pikiran langsung tertuju pada kisah yang romantis.Begitu pula saat hendak membaca novel Kidung karya Mohammad Sobary.
Terdapat tiga bagian dalam novel. Bagian pertama, disuguhkan sebuah puisi yang berkaitan dengan penjelasan kata Kidung sendiri sebagai judul novel. Tertulis, bahwa hidup ini kidung, semua rupa, warna, suara, rasa, semua kembali menjadi kidung. Alam semesta ini kidung, dan tiap detik alam semesta berkidung, dengan suara rendah dan khidmah. Ternyata kidung tidak hanya seperti bayanganku yang sebatas syair sebagai penghibur.
Novel Kidung membahas mengenai leadership (kepemimpinan) dan bagaimana menjalin sebuah hubungan tergambar dalam dialog-dialog. Ceritanya terasa apik sehingga aku yang baru membaca buku dengan tema seperti ini menjadi penasaran untuk lanjut ke bagian selanjutnya.
“Kepemimpinan tidak hanya soal jabatan, karena jabatan bisa dilamar tapi kepemimpinan tidak, pernah menjabat bukan berarti pernah memimpin. Terkadang dan mungkin di luar kesadaran kita terlalu memamerkan watak kecil, yang merasa mampu menyelesaikan masalah-masalah, mengatasi persoalan-persoalan, dengan ambisi besar dan ego yang besar pula.”
Membaca novel ini memberiku hal baru mengenai pandangan dunia pekerjaan, seperti yang dikatakan Sobary, sang penulis, dalam pengantar yang memancing penasaran “inilah kidung kemitraan, kidung kecil yang nyaring dan simbol sikap gigih, untuk melakukan hanya apa yang mungkin, apa yang mungkin”.
Mohammad Sobary memang sangat produktif dan kreatif. Dia biasa dipanggil kang Sobary, yang lahir di Bantul, DIY pada 7 Agustus 1952. Seorang budayawan yang sering menulis di beberapa surat kabar Indonesia. Dalam sebuah catatan publik, Sobary merupakan mantan pemimpin umum kantor berita Antara dan mantan direktur eksekutif kemitraan bagi pembaruan tata pemerintahan ( partnership for governance reform) berakhir bulan Juli 2009. Sobary menulis beberapa karya buku seperti antara lain Kang Sejo Melihat Tuhan, Tamu Allah, Jejak Guru Bangsa dan beberapa lagi. Dia juga menulis opini dan kolom di surat kabar yang terkenal pada zamannya. Sobary menulis novel ini bersaksi bahwa novel bukan sejarah meskipun ditulis berdasarkan fakta sejarah birokrasi yang dia pimpin. Sejarah sebagai ilmu, menjadi lebih berarti, lebih berbicara ketika ditulis bukan sebagai sejarah melainkan ketika ditulis berbentuk novel seperti ini.
Dalam novel Kidung, kita berkenalan dengan tokoh bernama Man yang menjadi tokoh utama dalam kisah novel. Ia seorang pekerja yang belajar mengenal diri dan dituntut membuat keputusan-keputusan. Man dihadapkan dengan pilihan-pilihan pelik. Dia awalnya bekerja sebagai asisten khusus menteri negara untuk urusan media. Di sisi pilihan lain, Man masih memiliki hak menduduki jabatan sebagai peneliti ilmiah di lembaga penelitian. Di sini Man ada karier dan kesempatan mencapai pangkat tertinggi. Sebaliknya di sisi pilihan yang lainnya lagi, tidak ada karier dan jabatan. Jabatannya berdasarkan kontrak paling lama tiga tahun dan tidak bisa diperpanjang. Tugas Man melakukan reformasi (perubahan), mendukung program-program reformasi pemerintah, dunia bisnis, dan media, Man diminta memanggul tugas sebagai pemimpin.
Man sebelumnya telah memiliki pengalaman-pengalaman di awal masa kariernya, yakni di masa perkuliahan hingga dia pernah aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Melalui bekal tersebut dia memegang landasan-landasan untuk memahami dinamika kehidupan nyata untuk memberi arti penting dinamika tersebut sebagai usaha melakukan perubahan-perubahan sosial yang berarti bagi masyarakat di mana dia bekerja. Man menggunakan hati dan kesigapan hati untuk lebih terbuka belajar kembali sebagai murid kehidupan yang baru. Tanpa perpustakaan, teori-teori, dan setiap yang ditemuinya adalah guru yang memperkaya serta memberi kedalaman wawasan dalam hidupnya.
Buku Kidung karya Mohammad Sobary ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, di mana pengarang mengetahui segalanya tentang tokoh. Menurutku cara bercerita tersebut menjadi kekurangan dalam novel, pembaca khususnya aku sulit membedakan antara yang dibicarakan tokoh atau pengarangnya. Selain itu ada beberapa istilah tertentu yang perlu dicari dulu dalam kamus KBBI. Namun gaya bahasa ceritanya mudah dipahami.
Kutipan favorit dalam Novel Kidung yang membekas, aku catat sebagai berikut
“Di dalam dan memulai kerja kita muliakan harkat manusia, pekerjaan tidak boleh menjadi beban yang memberatkan hati agar kita tidak menabung penyakit hati, pekerjaan harus dilihat sebagai tanggung jawab yang akan membukakan pintu pemahaman tentang makna kerja sebagai usaha memuliakan martabat manusia. Hidup memang memerlukan kelonggaran untuk menilai kembali semua hal yang telah lewat. Segala sesuatu, juga pekerjaan teknis harus dihayati dengan hati dan pikiran jernih agar kita tak merasa hilang ditelan waktu. Kesibukan bukan tujuan.”







