Kabupaten Bojonegoro terkenal akan minyak dan gas bumi (migas), tentu itu sudah diketahui banyak orang. Namun, bagaimana gerakan literasi di Bojonegoro? Tema ini masih jarang didiskusikan di ruang-ruang publik.
Tapi, tidak didiskusikan bukan berarti gerakan literasi Bojonegoro sunyi tanpa gerak. Karena nyatanya, gelombang-gelombang literasi tetap bergerak, meski timbul tenggelam. Bak gelombang air laut yang datang susul menyusul dan tak pernah berhenti. Ada saja angin yang mendorongnya ke pantai.
Baru-baru ini, di awal tahun 2025, sebuah zine diterbitkan oleh perpustakaan Jenggala. Zine merupakan media alternatif yang diterbitkan oleh perorangan atau kelompok kecil orang. Zine boleh dibilang majalah versi simpelnya. Pada zine terbitan Jenggala vol #1 ini diberi judul “Bencana Kue Oligarki, Berebut Kue Kekuasaan”. Judul besarnya cukup menggoda. Pemimpin Redaksi zine ini adalah Rudi Reading, yang kini tercatat sebagai mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro.
Dalam pengantarnya disebutkan “..kami berikhtiar untuk merangkul penulis muda Bojonegoro untuk belajar menulis dan berkarya.” Juga disebutkan “menulis adalah senjata untuk melawan, selain itu menulis merupakan kerja-kerja kebudayaan dalam merumat tradisi lisan yang masih bermukim di muara.” Zine ini tebal 56 halaman dengan menampilkan banyak jenis tulisan. Mulai esai, resensi, prosa, hingga komik. Bagi anda yang hendak membacanya, harus mengeluarkan uang Rp 20.000.

Kehadiran zine ini cukup mengobati kehausan para pembaca untuk menikmati bacaan yang disajikan lewat kertas, bukan versi elektronik. Karena bagaimanapun, bagi pembaca yang menyukai aroma kertas, memegang bahan bacaan berupa kertas, berbeda dengan bacaan yang diperoleh lewat gadget.
Ketika memegang zine ini, ingatan saya langsung melompat ke majalah Atas Angin yang diterbitkan oleh Komunitas Atas Angin. Atas Angin juga hadir teruntuk gerakan literasi Bojonegoro. Salah satu terbitan Atas Angin vol 7 tahun 2015, misalnya, mengambil judul besar “Seni Lukis Bojonegoro dari Masa ke Masa”. Pada edisi ini juga dihadirkan wawancara khusus dengan Remy Sylado, seorang sastrawan terkemuka. Sayang, majalah Atas Angin, kini sudah tidak terbit lagi.
Dan jauh sebelumnya, juga pernah muncul buletin bernama Baca!. Buletin Baca! diterbitkan oleh Sindikat Baca dengan tagline: boleh gaya asal suka baca. Baca! hadir dengan format hitam putih dengan kertas hvs. Salah satu nomornya di edisi khusus berjudul Satu Tahun Baca! Bernafas (tahun 2010) menghadirkan banyak tulisan. Diantaranya tulisan Suyoto yang saat itu menjabat Bupati Bojonegoro. Baca! dikelola oleh Anas AG (almarhum) dan saya.
Buku Baru Terbitan Nuntera

Saya selalu bergembira dan kagum dengan langkah nyata gerakan literasi. Dan salah satu karya penulis Bojonegoro baru saja terbit, ikut mewarnai gerakan literasi di Bojonegoro. Karya itu berupa buku novel karangan Didik Wahyudi. Sebelumnya, Didik telah menelurkan karya novel pertamanya berjudul Kembali ke Desa.
Kali ini novelnya berjudul “Kisah Perjalanan Dua Lelaki Patah Hati”. Novel mengisahkan perjalanan dua lelaki yang terobsesi dengan masa lampau, lebih tepatnya peninggalan-peninggalan Majapahit. Uniknya, peninggalan ini tak hanya berupa fisik, melainkan peninggalan dalam bentuk keterampilan. Seperti keterampilan kanuragan, ahli racun, hingga ahli senjata. Dua laki-laki itu terus memburu informan-informan yang bisa menguak misteri tersebut. Buku ini diterbitkan oleh Nuntera pada Januari 2025.
Sebelumnya Nuntera telah beberapa kali menerbitkan buku sejarah, di antaranya Tarikh Padangan; Ensiklopedia dan Historiografi Ulama Padangan Bojonegoro Abad XIV – XX M karya Ahmad Wahyu Rizkiawan. Buku cukup banyak membuka cakrawala betapa Bojonegoro memiliki tokoh-tokoh literasi di masa lampau, yakni dengan karya-karya manuskrip yang cukup banyak. Sebelumnya lagi, Nuntera juga telah menerbitkan Bodjonegoro Tempo Doeloe (Nanang Fahrudin, dkk), Buruh Perkebunan Tembakau Bojonegoro 1860-1939 (Siti Mahmudah), dan buku-buku lain.
Di luar buku-buku nuntera, di luar zine Jenggala, dan di luar majalah Atas Angin, serta di luar Baca! Sindikat Baca, tentu masih banyak gerak-gerak literasi yang tak pernah berhenti. Sejumlah forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) misalnya, terus bergerak di komunitasnya masing-masing. Begitu juga dengan penerbit-penerbit buku selain Nuntera, juga banyak menerbitkan buku-buku karya penulis Bojonegoro.
Maka, kita perlu berseru panjang umur literasi Bojonegoro!









