Dulu, semasa sekolah, mengunjungi perpustakaan bersama teman-teman menjadi kesenangan sekaligus kesempatan melihat buku. Di buku-buku itu, saya bisa melihat gambar-gambar dan memilih-milih buku mana yang menarik hati. Meski ketika sudah mendapat bukunya, saya mulai membaca namun tidak sampai selesai.
Selepas sekolah, saya tak tahu benar bagaimana proses membaca buku. Hingga kemudian, saya mencoba mengawali membaca lagi dari beberapa buku sastra. Satu buku selesai, ingin coba membaca buku lain. Kegiatan ini ternyata berdampak di kehidupan sehari-hari, menjadi kebiasaan membaca hal-hal sederhana seperti cara penyajian di bungkus makanan, membaca dengan cermat pesan-pesan di WhatsApp. Pada intinya sih, saya belajar lebih teliti. Buku sastra yang saya baca tersebut meliputi novel, kumpulan cerpen dan terkadang puisi.
Dan ketika sekarang zaman sudah serba canggih, dan sebab kurangnya literasi, menjadikan saya tidak begitu memperhatikan bahwa gadget tidak hanya untuk media sosial saja. Melainkan ada banyak hal yang lebih positif lain yang bisa dilakukan melalui gadget. Termasuk membaca.
Salah satu buku sastra yang telah saya baca dan menarik hati berjudul Canting karya Arswendo Atmowiloto. Buku ini merupakan roman keluarga dengan nuansa kehidupan jawa. Sebuah cerita kehidupan priayi, dan tentang dunia perbatikan. Canting menjadi simbol budaya yang tersisih dan kalah, terbanting oleh perubahan zaman.
Sebelumnya sebagai seorang Jawa, tak pernah saya terpikirkan kehidupan para priayi, ataupun seorang yang tinggal di keraton, ataupun mengenal budaya-budaya Jawa secara cermat. Saya hanya pasif dengan keadaan sekeliling saja.
Dari membaca Canting, saya belajar bahwa hidup itu bukan tentang diri sendiri, masih ada banyak makhluk tuhan lain di luar sana. Melalui pengalaman dan cerita yang ditampilkan dalam Canting, kemudian menambah semangat dalam hidup. Seperti yang ditampilkan buku Canting, di mana tokoh Pak Bei, Bu Bei, Ni, serta kakak-kakaknya dalam menghadapi masalah. Menghadapi budaya yang sakit adalah tidak dengan menjerit, tidak dengan mengibarkan bendera.
Dalam Canting, diceritakan bagaimana dinamika dalam keluarga. Yang kemudian memberikan pandangan saya tentang bagaimana hubungan dalam keluarga. Saya merasa senang ketika membaca percakapan antar tokohnya. Hingga perubahan sikap para tokoh ketika menghadapi masalah. Saya seakan-akan berada di tengah-tengah ceritanya.
Selain novel Canting, saya membaca beberapa cerpen dengan cerita-cerita yang bagi saya mengejutkan. Dari perkara sederhana hingga menjadi cerita menyenangkan. Melalui hal ini saya belajar mengenal emosi, bagaimana itu senang, sedih, kecewa, membuka cara pandang dengan lebih luas, dan belajar berteman dengan ketidakpastian. Bahwa terkadang apa yang seharusnya terjadi sesuai pikiran kita tidak pasti akan terjadi. Karena terpenting kita terus berusaha.
Membaca buku adalah rekreasi. Mengetahui sudut dunia luar dari membaca. Mari kita belajar bersama salah satunya dengan membaca sastra. Memang terkadang pembiasaan membaca perlu dipaksa, dan semoga dari keterpaksaan itu ada keberkahan.









