Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Kota

Sawang Sinawang, Ketika Karya Seni Rupa Bersanding Secangkir Kopi  

Dhadang SB
16/03/2025
Sawang Sinawang, Ketika Karya Seni Rupa Bersanding Secangkir Kopi  

Hujan mengiringi gelaran pameran seni rupa bertema ‘Sawang Sinawang’ yang berlangsung di warung kopi dan perpustakaan yang berbasis komunitas Ndalem Garudeyan. Lokasinya berada di Jl. KH Moch Rosyid RT 01 RW 01 Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Pameran seni rupa ‘Sawang Sinawang’ menyediakan waktu yang tidak seperti pada umumnya, yakni satu bulan penuh menjelang awal puasa Ramadhan, 24 Februari dan akan berakhir pada  12 April 2025.

Pameran ini menyajikan 30 karya berukuran kecil dengan mayoritas menggunakan medium kanvas ukuran 40 x 50 cm dan memilih cat sebagai material visualisasinya.

Fathurrahman Yakub aka Ayik aka Fathorraya dan Ekopeye, dua seniman Bojonegoro cukup matang dan konsisten dalam menjalani proses berkesenian pada medium seni rupa. Ayik merupakan pemilik warung kopi Ndalem Garudeyan dengan background otodidak memulai proses berkesenian pada tahun 1998 di usia SMP di Bojonegoro. Kemudian meneruskan studi formal dan otodidak seni rupa di sanggar seni di Kalimantan dan Bali. Karya-karya Ayik Ndalem Garudeyan banyak membongkar tema feminisme dan konspirasi. Begitu katanya, saat ditanya di kediamannya yang juga sebagai tempat usaha serta lokasi pameran.

Dengan teknik seni lukis yang eksploratif dengan bermain tekstur dan alat yang tidak hanya kuas, Ayik terbilang cukup mendalam dan fokus mengungkap dan menyajikan bentuk figur realistik perempuan sebagai cara untuk bercerita pada 15 karyanya. Seperti bentuk salah satu karyanya, figur semar bersayap bulu putih menenteng buku tebal Madilog pada tangan kanannya. Kita bisa membayangkan bagaimana Ayik cukup sibuk menkonversi cerita ke dalam bentuk/visual untuk kepentingannya dalam bertutur. Ini cukup semiotis. Ayik juga aktif berhimpun dengan komintas baca di Bojonegoro

Ekopeye dan Fathorraya menerima kunjungan siswa SMPN 5 Bojonegoro

***

Ekopeye. Itulah nama bekennya yang memulai karier berkesenian pada studi akademis 1992 di IKIP Surabaya. Kemudian 1993 pindah studi dan jurusan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta minat utama Seni Patung. Pada 15 karya berukuran kecilnya nampak sekali sisa studi patung selama bertahun-tahun di ISI Yogyakarta. Goresannya tegas, jelas dan lugas pada saputan kuas dan aksen-aksen pada kanvas yang penuh corak warna pada bentuk anak-anak atau lebih dikenal dengan naif.

Ekopeye banyak mengunggah figur-figur imajiner yang lebih deformatif secara bentuk. Bisa jadi karena memang selama sepulang dari Yogyakarta cukup lama menggawangi sanggar seni lukis anak-anak. Tema-tema sosial Eko cukup kental dan kompleks karena memang ia  cukup rajin berkelindan pada komunitas yang tidak hanya seni rupa, namun juga teater dan musik. Sampai hari ini pun Eko masih setia memimpin kelompok Pasar Keroncong di kampungnya, Ngroworejo. Dengan modal sosial yang kuat Eko memindahkan cerita ke dalam visual yang sekilas penuh keceriaan namun cukup rentan dengan konflik.

Kedua seniman, Ayik Ndalem Garudeyan dan Ekopeye cukup kuat dan berhasil mengunggah visualisasi yang naratif ke dalam satu kemasan pameran ‘Sawang Sinawang’ yang berlangsung cukup lama. Secara penyajian, mereka berdua cukup terkonsep karena memang membaca ruang display dan psikologi ruang untuk disesuaikan mulai dari ukuran karya dan teknik penyajian agar tidak terlalu berjubel namun nyaman ketika menikmatinya.

Dan yang lebih prinsip lagi, penyajian pameran dengan warung bisa saling mengisi dan tidak saling mengganggu. Ayik dan Eko tidak terlalu risau dengan belum adanya tempat pameran yang mapan dan representatif di Bojonegoro. Mereka berdua cukup eksploratif dalam memilih tempat pameran. Dengan warung kopi sebagai media penyaji karya/pameran ternyata memang sangat bisa mendekatkan diri antara pameran seni rupa dengan UMKM seperti yang sering terjadi di Bojonegoro. Di mana seni tari, teater, musik memang telah menjadi sarana pendukung UMKM. Mereka berdua seperti menggugat diri mereka sendiri untuk tetap berkarya dan kondusif dalam penyajian.

Tags: BojonegoroCameron Seni RupaPelukisSawang SinawangSenimanWarkop
Previous Post

Crikak Bojonegaran: Pasanem Wis Mokel Gung?

Next Post

Mastumapel Forum Edisi Perdana, Ngobrolin Ramadhan dan Kegelisahan Kang Sabar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

Garis Batas: Perjalanan Menyingkap Makna Kehidupan

16/04/2026
Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

Merawat Kemandirian Pangan Lokal Bojonegoro

21/04/2026
Setyo Wahono: Pers Berperan Membangun Daerah

Setyo Wahono: Pers Berperan Membangun Daerah

09/04/2026
Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

08/04/2026
Peringati Hari Kartini 2026, Perpustakaan Unugiri Gelar Talk Show Woman Campus in Kartini Days

Peringati Hari Kartini 2026, Perpustakaan Unugiri Gelar Talk Show Woman Campus in Kartini Days

21/04/2026
Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

Menjelajahi Baureno, Ini 3 Destinasi Wisata Gerbang Timur Bojonegoro

26/03/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023