Saya ingin mencuplik secara singkat kisah tentang dakwah Sunan Ampel yang ditulis oleh (almarhum) Agus Sunyoto pada tahun 1990. Saya ambil dari satu bab dari buku tipis berjudul dari Ampel ke Mojopahit terbitan Lembaga Penerangan dan Laboratorium Islam (LPLI) Sunan Ampel. Agus Sunyoto sendiri kemudian hari menjadi Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan meninggal di Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan Surabaya, Jawa Timur, Selasa (27/4/2021).
Saya mulai saja ceritanya. Raden Rahmat berasal dari Negeri Campa. Di mana letak Campa? Saya sudah pernah membahasnya di unggahan sebelumnya. Anda bisa menyimaknya di sini:
Bibi Raden Rahmat bernama Putri Darawati adalah istri Raja Majapahit Sri Kertawijaya atau Brawijaya V. Sebelum ke Majapahit, Raden Rahmat berkunjung ke Palembang dan menjadi tamu Arya Damar. Di Palengbang, ia berdakwah Islam. Saat itu, usianya baru 20 tahun.
Kedatangan Raden Rahmat di Majapahit disambut gembira. Raja Sri Kertawijaya bahkan memberikan izin kepada Raden Rahmat untuk berdakwah di Ampel Denta, sebuah kampung di tepi Sungai Surabaya. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi kepala wilayah dengan membawahi 30.000 keluarga. Hal itu menjadi sebuah kepercayaan baginya sekaligus tantangan berat. Karena kondisi masyarakat saat itu masih terbelakang dan sedang dilanda kesusahan ekonomi.
Melihat kondisi masyarakatnya yang memprihatinkan, Raden Rahmat melakukan gerakan dakwah melalui pendidikan, pertanian, kebudayaan, pertukangan, dan lainny. Ia mendidik, membimbing dan mengarahkan tak hanya soal agama tapi juga urusan ekonomi masyarakat. IA pun mendapat banyak simpati dari masyarakat.
Dikisahkan dalam buku ini, Raden Rahmat memiliki wibawa besar dan berpengaruh pada perjalanan konflik-konflik yang terjadi di Majapahit. Ia pun bisa diterima oleh raja Majapahit setelah Brawijaya V hingga Brawijaya VIII. Bahkan yang disebut ini telah memeluk agama Islam.
Sunan Ampel banyak berperan dalam ekonomi Majapahit. Salah satu disebutkan ketika ada banyak pungli di sepanjang tambangan sungai, Sunan Ampel mengusulkan ke raja Majapahit untuk mengangkat Raden Husen putra dari Arya Damar sebagai pengawas. Pungli dan korupsi pun bisa diberantas.
Bahkan, ketika ada konflik antara Majapahit dengan Pesantren Giri, Sunan Ampel menjadi penengah. Waktu itu Giri dicurigai melindungi para pemberontak dari Blambangan. Peperangan antara Giri dan Majapahit pun bisa dihindari setelah Sunan Ampel berbicara dengan Sunan Giri dan Raja Brhe Kertabhumi.
Agus Sunyoto juga melihat peran besar Sunan Ampel atas berdirinya Demak. Waktu itu, Sunan Ampel melihat situasi politik di Majapahit sudah tidak terkendali akibat banyak pemberontakan, terutama oleh Girindrawardhana. Kekuasaan Kertabhumi sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Oleh sebab itu, Sunan Ampel menyarankan untuk mengalihkan pusat koordinasi para Dewan Walisanga ke Demak dengan cara membangun masjid agung di sana. Dan ternyata penghitungan itu benar, Majapahit runtuh. Brhe Kertabhumi lari dari keraton dan meminta perlindungan kepada Sunan Ampel. Brhe Kertabhumi pun kemudian menunjuk Raden Patah sebagai calon penggantinya dengan pemerintahan darurat di Demak. Brhe Kertabhumi kemudian mangkat dan dimakamkan di sekitar masjid.
Di kemudian hari ketika Raden Patah hendak menyerang Majapahit, Sunan Ampel melarangnya karena peperangan hanya akan menyengsarakan rakyat. Larang itu dipatuhi hingga wafatnya Sunan Ampel. Dan serbuan Demak ke Majapahit kemudian dilakukan oleh Sultan Trenggono tahun 1527. Waktu itu, sesudah 50 tahun setelah wafatnya Sunan Ampel.








