Namanya Rustamaji. Namun, laki-laki berusia 45 tahun itu biasa dipanggil Bang Jeck. Ketika membuka usaha bakso, warga RT 02 RW 01 Dusun Bulu, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Bojonegoro inipun memakai nama Bang Jeck. Jadilah brand Bakso Bang Jeck.
Kini, Bakso Bang Jeck telah memiliki enam cabang. Cabang pertama di Bulu-Ngraho, kedua di ruko pasar Purwosari, ketiga di Mbaru-Padangan, keempat di Padangan tepatnya depan Masjid Ad -Dakwah, kelima di Karangboyo-Cepu, dan keenam di Kasiman. Semua cabang namanya sama: Bakso Bang Jeck.
Bang Jeck, ketika saya temui Rabu (5/2/2025) sore, sedang bersantai di rumahnya, mengenakan kaos oranye. Di halaman rumahnya kami memulai obrolan santai tentang perjalanan bisnis baksonya.
Menurut dia, sebelum berjualan bakso, ia bekerja sebagai penjual kerupuk. Kerupuk yang dijual dikulak dari Surabaya. Namun profesinya sebagai penjual kerupuk harus berhenti, hingga kemudian menjadi awal perjalanannya untuk pindah haluan berjualan bakso.
“Pabrik kerupuk mengalami kemacetan, penjualan kerupuk harus berhenti. Sedangkan istri sedang hamil. Belum punya penghasilan,” ungkapnya.
Tahun 2001, awal Bang Jeck memulai berjualan bakso. Awalnya keliling menggunakan sepeda motor di wilayah sekitar kecamatan Purwosari, Bojonegoro. Pertama jualan dia ingat mendapat untung Rp 40 ribu. Kemudian ia mencoba terus menekuni sedikit demi sedikit hingga bisa untung Rp 100 ribu.
Sambil mengenang kisahnya dulu, dia melanjutkan ceritanya. Melalui ketekunannya, Bang Jeck semakin mahir dalam mengolah bakso. Akhirnya ia kepikiran mendirikan stand agar tak keliling. Namun rencana tersebut gagal.
Laki-laki 45 tahun ini kembali jualan keliling. Selama lima tahun, setelah kegagalan awal membuka stand, dia berencana kembali membuka stand. “Setelah melalui banyak proses, mumpung masih muda dan kuat. Stand pertama saya buka di Purwosari yang merupakan tanah kontrakkan,” cerita Bang Jeck.
Dalam perjalanan, batu sandungan kembali menghadang. Tanah yang ditempati ternyata merupakan tanah sengketa dan akhirnya ia harus pindah. Ia mendapatkan tempat dan buka di Bulu-Ngraho.

Bang Jeck memiliki trik unik dalam berjualan bakso keliling, yakni setiap 10 meter dia akan berhenti. Entah ada yang beli atau tidak. Namun ia yakin pasti bakal ada yang beli. Tidak disangka bakso yang dipelajarinya lewat internet dan YouTube banyak diminati masyarakat. Terdapat dua jenis bakso yang ditawarkan, pertama varian bakso malang dengan harga Rp 5 ribu dan bakso utama dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 60 ribu. “Dari 6 cabang, terdapat varian bakso malang 2 dan sisanya bakso utama,” tuturnya.
Berasal dari pantauannya selama di lapangan, Bang Jack mengakui ada cara tersendiri untuk menentukan harga jual bakso. “Biasanya bakso utama ini untuk orang-orang yang mencari rasa, sedangkan bakso malang untuk orang-orang yang beli bakso untuk tombo pingin,” terangnya.
Sambil mengganti posisi duduknya, Bang Jeck melanjutkan kembali ceritanya. “Daging itu ada yang enggak bisa dibuat bakso, contohnya kayak daging bagian lulur. Kalau dibikin bakso kurang cress, sedangkan daging yang banyak serat menjadikan bakso pecah. Bagian daging paling bagus itu paha belakang,” katanya.
Kini, Bakso Bang Jeck memiliki total karyawan 65 orang. Sebanyak 10 orang untuk bagian produksi di dapur. Bang jeck memilih sendiri daging sapi yang akan diproduksi jadi bakso. Dia mengatakan bahan-bahan bakso diperoleh dari langganannya.
Untuk jumlah daging bakso yang diproduksi, rata-rata menghabiskan sekitar 100 kg daging sapi dan ayam. Sebanyak 80 kg merupakan daging sapi. Untuk keuangan bisnis masih dikelola oleh dirinya sendiri. Bang Jeck mengatakan ketika belanja habis Rp 20 juta kemudian dapat omzet Rp 22 juta hingga Rp 25 juta. Bakso dihitung dalam jumlah per biji yang diwadahi dalam keresek. Setiap satu keresek berisi sekitar 80 biji bakso. Dia mengatakan bahwa setiap hari akan belanja ketika akan produksi bakso. Bahan digunakan sekali produksi.
Bang Jeck mengaku punya banyak pengalaman saat menentukan tempat jualan. Ia mengaku pernah salah dalam menentukan tempat, hingga tiga kali salah memilih tempat. Urusan tempat Bang Jeck menyarankan mencari tempat yakni yang menjadi pilihan orang berhenti mencari makan dan ada untuk parkir.

Hobi Bertani dan Berternak
Selain fokus di bisnis bakso, laki-laki asli warga Dusun Sudu, Desa Ngraho ini juga menjalankan pertanian dan peternakan. Hasil panen dan ternak, dia gunakan untuk membantu keuangan ketika ada penurunan omzet di bakso.
“Ketika pelanggan sepi, bakso bisa dimasukkan ke fresher. Bisa dikatakan rugi, namun dalam operasional untuk karyawan saja,” terangnya.
Bang Jeck memang orang yang terkesan serius. Jarang sekali mengumbar tawa keras. Meski demikian, pembawaannya tidak kaku, melainkan santai. Terlebih saat bercerita tentang bakso.
“Kalau rasa hampir sama, tapi bagaimana kita beda di pelayanan,” ungkapnya semangat.
Dia mengatakan jika pelanggan mood nya bagus, makan jadi enak. Lain ketika pelayanan buruk, makanan enak jadi tidak enak.
Ada aktivitas rutin sebelum memulai pekerjaan. Semua karyawan harus mengikuti breafing terlebih. Seminggu atau dua minggu sekali mengadakan rapat. Banyak yang dibahas, dari yang isu besar hingga isu kecil. Semisal ada sisa bakso pembeli di mangkok, perlu dianalisa apa itu karena sudah kenyang atau ada perubahan rasa.
***
Udara sore yang hangat menemani percakapan saya dengan Bang Jeck. Trik yang digunakan olehnya yakni ketika ramai, dia aka sisihkan uang untuk menabung. Ketika sepi hasil tabungan bisa digunakan untuk meng-cover keuangan. Bang Jeck mempunyai harapan untuk bisa membuka cabang di daerah kota-kota.
“Usaha itu pasti ada problem-nya, bisa berupa sepi pembeli. Kebanyakan orang ketika sepi akan berhenti jualan atau ganti usaha. Usaha fokus satu titik, bagaimana caranya menciptakan inovasi, terus belajar dan beradaptasi. Semua orang bisa membuka usaha, yang terpenting niat kuat, tekun, dan konsistensi,” tuturnya berbagi tips bisnis.
Menurut dia, masalah modal awal tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan untuk tidak berusaha memulai bisnis. Dulu, salah satu modal awal membuka cabang diperolehnya dari meminjam bank BRI. Dia bersyukur hingga sekarang bisa membuka lapangan pekerjaan.










Menginspirasi sekali, perjuangan yang patut dicontoh anak muda jaman sekarang