Era mati rasa. Mungkin istilah ini terlalu bombastis untuk menggambarkan dunia kini. Tapi juga tidak bisa lantas istilah tersebut dianggap salah total. Mari kita melihat semuanya dengan pelan. Karena jika hanya melihat sekilas, dan kita sambil berlari, semua tak akan kelihatan terang.
Kita mulai saja dari fakta ironi bahwa media sosial yang seharusnya membuat manusia makin terhubung dan makin sosial, ternyata makin individual. Ruang publik silang sengkarut dengan ruang privat. Kita terhubung dengan siapa saja di belahan dunia mana pun lewat satu sentuhan jari, tapi media sosial justru terasa semakin antisosial.
Dulu, like dan komentar adalah jembatan interaksi. Kini, ia seringkali menjadi sekadar validasi kosong, riuhnya suara tanpa makna, dan hilangnya kepekaan. Kita berselancar dari satu unggahan ke unggahan lain, menelan informasi tanpa mencernanya, dan bereaksi tanpa merasakan.
Debat sengit di kolom komentar seringkali berakhir tanpa pemahaman, bahkan justru memperlebar jurang perbedaan. Empati luntur, digantikan oleh kecepatan jari yang mengetik tanpa jeda, tanpa mempertimbangkan dampak emosional pada penerima.
Di tengah fenomena ini, menarik untuk menengok kembali sebuah gagasan lama: komunikasi sambung rasa. Konsep ini, mungkin dulu hanyalah jargon orde baru. Maklum konsep ini digagas oleh Menteri Penerangan Harmoko, yang saat itu menjabat di era Kabinet Pembangunan IV. Konsep akademik Harmoko ini bisa dibaca secara detail di buku “Komunikasi Sambung Rasa” yang diterbitkan Sinar Harapan (1986).
Komunikasi sambung rasa bukan sekadar tentang bertukar informasi antara komunikator dengan komunikan. Lebih dari itu, sambung rasa adalah upaya untuk menyelami kedalaman psikologis lawan bicara, memahami empati, hingga mampu menggerakkan pada tindakan nyata. Ia adalah jembatan yang menghubungkan pikiran, perasaan, dan kemudian, aksi.
Ketika “Sosial” di Media Sosial Luntur
Komunikasi sambung rasa adalah seni merajut kebersamaan. Pesan yang disampaikan tidak berhenti di telinga, melainkan meresap hingga ke hati, menimbulkan resonansi emosional, dan mendorong partisipasi. Sambung rasa adalah tentang membangun ikatan, merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan beraksi bersama untuk tujuan yang sama.
Konsep ini memang lahir ketika media massa, terutama televisi dan radio, menjadi sarana utama untuk menyatukan narasi dan emosi kolektif. Namun, waktu berputar, teknologi melesat, dan kita tiba di sebuah era yang bisa disebut sebagai “era mati rasa”.
Mati rasa, dalam pespektif psikologi adalah emotional numbness, yang merujuk pada kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan atau mengekspresikan emosi (Halodoc, 2022). Konsep tersebut, sepertinya kini terasa relevan dalam konteks sosial yang lebih luas.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa emotional numbness dapat muncul akibat stres berkepanjangan, kecemasan berlebihan, hingga trauma, yang pada akhirnya dapat merusak hubungan interpersonal dan menyebabkan isolasi. Dalam konteks sosial, terutama di ranah digital, emotional numbness dapat dimanifestasikan sebagai hilangnya kemampuan merasakan dan merespons secara emosional terhadap interaksi atau peristiwa di media sosial.
Kita hidup di tengah lautan informasi, di mana interaksi didominasi oleh layar gawai, dan konektivitas digital justru seringkali mengikis kedalaman hubungan. C. Nathan DeWall dan rekan (2010), dalam penelitian mereka tentang penolakan sosial, menyoroti paradoks mengapa individu seringkali merespons pengalaman menyakitkan seperti pengucilan sosial dan mati rasa emosional. Ini menunjukkan bagaimana otak bisa “mematikan” respons emosional sebagai mekanisme pertahanan, bahkan dalam interaksi sosial.
Media sosial, yang sejatinya diciptakan untuk “bersosial,” kini ironisnya menjadi panggung utama bagi mati rasa sosial. Di mana letak psikologi dan aksi, jika yang ada hanyalah hiruk pikuk opini yang saling bertubrukan, tanpa ada niat untuk mendengarkan, apalagi memahami? Kita kehilangan empati, ketika jari begitu mudah menyebarkan kebencian atau ketidakpedulian.
Era mati rasa ini bukan hanya tentang ketidakmampuan merasakan emosi pribadi, tetapi juga tentang hilangnya kemampuan merasakan emosi orang lain di ranah publik. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat untuk membangun jembatan komunikasi, justru terkadang menjadi tembok tinggi yang memisahkan. Kita terkoneksi secara digital, namun terputus secara emosional.
Srawung: Harmoni dalam Rasa Kebersamaan
Ketika berbicara tentang komunikasi yang melampaui batas verbal, kearifan lokal Jawa menawarkan sebuah konsep yang sangat relevan: srawung. Srawung bukan sekadar berkumpul atau berinteraksi fisik. Srawung adalah sebuah filosofi sosial yang menekankan pada kebersamaan, toleransi, dan kemampuan untuk merasakan pengalaman batin orang lain.
Jika ditilik dari sisi substansi, srawung mirip dengan konsep sambung rasa. Pada srawung, individu dapat “curhat” (curahan hati) dan “ngudarasa” (mengungkapkan perasaan) tentang hal-hal yang tidak mungkin diselesaikan tanpa hanya tatap muka. Ini menunjukkan bahwa srawung bukan hanya tentang pertukaran kata, melainkan tentang pertukaran rasa dan pemahaman mendalam. Ada kepercayaan kuat dalam masyarakat Jawa bahwa melalui srawung, berbagai masalah dapat dicari solusinya secara bersama-sama.
Srawung mempunyai makna keintiman dan kebersamaan; menumbuhkan empati; gotong royong dan aksi kolektif; dan adanya pengakuan sosial.









