Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Crita

Lukisan Misteri Khayangan Api dan Terapi Batin Hendro Lukito Sang Perupa  

Mukaromatun Nisa
04/07/2025
Lukisan Misteri Khayangan Api dan Terapi Batin Hendro Lukito Sang Perupa  

Lukisan Misteri Khayangan Api karya Hendro Lukito/Foto Nisa

Mastumapel.com – Sore itu angin berembus lumayan kencang. Membawa hawa sejuk yang sedari siang sudah panas cetar, Sabtu 28 Juni 2025. Sekitar pukul 18.00 WIB, Gedung Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Jl. Panglima Sudirman Bojonegoro tampak agak sibuk.

Di PIG, pameran seni rupa budaya geopark sedang digelar Komunitas Sangrupa Bojonegoro, didukung Geopark Bojonegoro dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menampilkan 52 karya dari 50 perupa lokal.

Ketika pertama kali masuk, kami mengisi buku tamu. Mata disuguhi miniatur tambang minyak Teksas Wonocolo Kedewan Bojonegoro. Di sebelah selatan ada miniatur kepala sapi yang ukurannya tampak sekitar dua kali lipat lebih besar daripada yang asli. Dipadu dengan lukisan badannya di bagian bawah.

Ruangan yang tidak begitu luas ini membuat pengunjung memutar mata ke seluruh penjuru. Lukisan, grafis, kartun, digital printing, hingga patung benar-benar memanjakan mata.

Ketika menaiki tangga menuju lantai dua, lampu biru yang menjalar sepanjang tangga otomatis menyala. Di tembok kiri berjajar berbagai informasi terkait Geopark Bojonegoro termasuk Geologi-Paleontologi.

Karya-karya yang dipajang rata-rata banyak berkisah seputar Kayangan Api, Teksas Wonocolo, Thengul, Mliwis Putih, Hutan Jati, dan Bengawan Solo. Salah satu lukisan berjudul Misteri Khayangan Api karya Hendro Lukito (46) menarik perhatian.

Lukisan karya guru SMPN Model Terpadu Bojonegoro yang berukuran 60×90 cm ini menggunakan cat akrilik di atas kanvas, dan dibuat pada tahun 2025. Bukan hanya sekadar visual, melainkan gerbang menuju filosofi mendalam sang seniman.

Lukisan itu meliputi dua gapura Kayangan Api di kanan kiri. Di gapura sebelah kanan ada burung hantu bertengger. Di tengah-tengah ada naga bermahkota melingkari gagah, ditemani harimau putih yang mengaum. Kanan-kirinya hutan jati tanpa daun tumbuh menjulang dan bulan tengah purnama di pojok kiri atas. Yang paling menonjol adalah api menyala di atas bebatuan dan waranggana (penari tayub) dengan selendang hijau dan putih, berkemben merah dan berjarik cokelat, kepalanya berhias sanggul dan kembang goyang sejumlah lima buah.

Melukis Adalah Terapi Batin: Memotret Gejala Jiwa

Pengunjung sedang mengapresiasi karya lukis/Foto: Nisa

Hendro Lukito memang menyukai dunia seni rupa sejak kecil. Bahkan di usia SMA, ia sudah pernah ikut pameran lukisan. Pengalamannya di seni rupa memang cukup lama. Tahun 1999, ia mengajar seni di sekolah Al Azhar di Jakarta. Meski begitu, soal hobi, ia tak bisa meninggalkan musik dan teater.

Ia juga pernah aktif di dunia pertelevisian, sebelum akhirnya berada di jalur pendidikan sebagai seorang guru. Pada 2004, ia menjadi programmer JTV, kameramen, dan editor. Bahkan, kini memiliki studio di rumahnya di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro.

Saat berbincang, Hendro Lukito menjelaskan bahwa proses melukis tidak seperti produksi massal. Sebuah karya bisa selesai dalam waktu 3 hingga 5 jam, bergantung pada momentum dan suasana batinnya.

“Yang menjadi lama itu bukan karena proses keteknikannya, tapi suasana yang membangunnya,” ujar Hendro. Baginya, melukis jauh melampaui sekadar menciptakan karya; ia adalah sebuah terapi jiwa, terapi psikologis.

“Kita menuangkan suasana, suasana yang terjadi pada jiwa batin,” ungkapnya.

Hendro membedakan antara ide dasar penciptaan yang berasal dari kumpulan pengamatan, pendengaran, perasaan, dan angan-angan hingga mengkristal menjadi sebuah kegelisahan atau asumsi dengan kondisi psikologis saat melukis. Ide bisa datang dari memotret peristiwa, keadaan, gejala sosial, hingga aspek budaya, religius, politik, pendidikan, ekonomi, atau teknologi.

“Ketika kita menangkap suatu gejala itu sebuah problem yang harus diselesaikan maka kita berarti menawarkan solusi. Ketika kita menangkap suatu peristiwa yang itu menjadi perenungan, maka kita mengajak untuk merenung bersama,” jelas Hendro.

Sebagai perupa, ia menawarkan gagasan ini melalui visual, menggunakan objek sebagai simbol dari pemikirannya. Melukis, bagi Hendro, adalah sebuah perjalanan batin, sebuah “keteguhan” yang harus dipegang teguh, bahkan ketika mood tidak mendukung atau pikiran diganggu agenda lain. Ia mengakui, saat berada di titik terendah, melukis menjadi cara untuk melampiaskan dan mengabadikan perasaan tersebut menjadi sebuah karya.

Konsep Yin-Yang dan Kepemimpinan dalam Misteri Khayangan Api

Salah satu karya dalam pameran/Foto: Nisa

Dalam lukisan Misteri Khayangan Api, Hendro menghadirkan simbolisme yang universal, berlandaskan konsep Yin-Yang dan nilai-nilai kepemimpinan.

“Saya menghadirkan warna-warna yang menyala. Light in the Dark,” tuturnya. Ini adalah cerminan dari konsep hidup yang berpasangan; ada siang, ada malam; ada kegelapan, ada Cahaya,” ceritanya.

Dalam gelap, lukisan tersebut memancarkan cahaya. Ruangan yang sedikit sepi membuat kami melakukan uji coba. Lampu dimatikan sebentar, dan semburat Cahaya dari berbagai warna yang menyatu di lukisan tampak memancar.

“Bagaimana kita bisa melihat cahaya kalau tidak di dalam gua? Kegelapan,” ia menegaskan, “Sampai di dalam gua satu titik putih sekecil jarum akan kelihatan.”

Secara teknis, efek menyala pada lukisannya bukan hanya karena penggunaan cat khusus (cat fosfor), melainkan perpaduan teknik dan material. “Perpaduan antara gelap dan terang pasti muncul,” jelas Hendro, menambahkan bahwa jika latar belakangnya putih, efek menyala itu tidak akan nampak. Ini menunjukkan bahwa efek visual yang ia hasilkan adalah hasil dari pemahaman mendalam tentang komposisi warna dan interaksinya.

Lebih jauh, Hendro menyematkan simbol-simbol yang merefleksikan kualitas kepemimpinan. Burung hantu dengan tatapan tajamnya melambangkan kemampuan seorang pemimpin untuk melihat hal-hal yang tidak nampak oleh orang secara umum atau sebuah ketajaman visi di tengah kegelapan.

Harimau putih, sebagai raja hutan yang dikaitkan dengan unsur air, berbicara tentang kekuasaan dan kepemimpinan. Demikian pula naga, yang digambarkan sebagai naga Jawa bermahkota (bukan naga Cina yang bertanduk), turut menyimbolkan figur raja atau pemimpin yang berdaulat.

Semua simbol ini, mulai dari api, udara, cahaya, tanah, kayu, batu, harimau, hingga naga, dipilih Hendro agar bersifat universal dan mudah dipahami oleh berbagai budaya seperti Tiongkok, Jepang, atau Thailand, sehingga pesan lukisannya dapat menjangkau lebih banyak orang.

Melukis Kearifan Lokal Bojonegoro; Waranggana, Khayangan Api, dan Kayu Jati

Hendro Lukito bersama pengunjung/Foto: Nisa

Lukisan Misteri Khayangan Api bukan sekadar interpretasi estetis semata, melainkan sebuah narasi yang terinspirasi dari kearifan lokal Bojonegoro, yang bagi Hendro, bukanlah cerita fiksi atau rekayasa AI, melainkan tradisi yang terus hidup dari masa ke masa.

Pada lukisan tersebut, Hendro menampilkan sosok penari sebagai simbol dari waranggana. Ia mengisahkan bahwa setiap tahun di Bojonegoro, ada ritual wisuda waranggana baru yang harus melalui prosesi sakral di Kayangan Api.

Ini bukan sekadar legenda atau mitos, melainkan praktik yang masih dilakukan hingga kini. Warna-warna selendang yang digambarkan, seperti hijau, merah, dan putih, juga memiliki filosofi tersendiri. Warna hijau pada selendang Waranggana, misalnya, melambangkan kemakmuran. Kombinasi warna-warna ini dan elemen lain merepresentasikan keseimbangan, seperti konsep Yin-Yang.

Sedangkan unsur api dalam lukisan tersebut jelas merujuk pada Kayangan Api, situs legendaris di Bojonegoro. Hendro menggabungkan elemen api, udara, cahaya, tanah, kayu, batu, yang ia klaim universal dan dipahami tanpa perlu penjelasan rumit.

Kehadiran kayu jati dalam lukisan ini merepresentasikan jati diri dan kekuatan untuk menghadapi diri sendiri. Gugurnya daun jati saat kemarau juga memiliki makna simbolis; setiap capaian dalam hidup harus ada yang dikorbankan, sebuah bentuk pelepasan.

“Ini seperti perjalanan jiwa dan raga,” pungkas Hendro. Ini adalah perjalanan spiritual yang melibatkan menghadapi mitos dan ujian batin, layaknya orang Jawa yang bertapa dan berhadapan dengan macan gaib atau naga gaib.

Hendro Lukito, yang telah melukis sejak usia taman kanak-kanak, percaya bahwa kondisi batin adalah kunci utama dalam berkarya. “Melukis itu bukan sekadar menciptakan karya, tapi itu terapi psikologi,” ia menegaskan, mengakhiri perbincangan kami dengan gambaran tentang sebuah karya seni yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan filosofi dan nilai-nilai lokal yang mendalam.

Keceriaan Anak-anak Rumah Ilalang di Kunjungan Pameran

Visitors from Sanggar Ilalang/Photo: Nisa

Suasana pameran seni rupa budaya geopark pada Sabtu sore itu semakin semarak dengan kehadiran rombongan cilik dari Sanggar Rumah Ilalang Nganjuk. Mereka datang didampingi oleh Agus R. Subagyo, pembimbing mereka.

Anak-anak yang sebagian besar masih duduk di bangku SD kelas 3 dan 4, serta beberapa remaja MTs dan SMK, tampak berbinar-binar mengamati puluhan karya seni yang dipamerkan. Keceriaan mereka begitu menular, terlihat dari senyum lebar dan rasa penasaran yang tak terbendung.

Saat diajak berinteraksi, mereka dengan antusias memperkenalkan diri; Nindi, Sabrina, Septia, Mentari (yang langsung mengundang tawa dengan julukan dilihat setiap pagi), Iqbal, Ahya, Ilmira, Nabila, dan Azizah.

Di Sanggar Rumah Ilalang, mereka tidak hanya belajar melukis, tetapi juga beragam seni lainnya seperti puisi, menari, teater bahkan dance. Keragaman minat ini menunjukkan betapa kaya dan dinamisnya kegiatan di sanggar tersebut.

Terlihat jelas bahwa kunjungan ke pameran ini menjadi momen yang sangat menyenangkan bagi mereka.

“Senang banget,” ucap mereka kompak.

Dari lantai satu, mereka naik tangga dengan antusias membaca berbagai informasi yang tersaji di tembok. Mata mereka berbinar-binar seperti mendapat hadiah ulang tahun.

Tak hanya sekadar melihat-lihat, anak-anak Rumah Ilalang juga disiapkan untuk tampil pentas seni di panggung yang telah disediakan. Ini adalah kesempatan berharga bagi mereka untuk tidak hanya mengapresiasi seni, tetapi juga menjadi bagian aktif dari perhelatan budaya, menunjukkan bakat dan keceriaan mereka kepada publik Bojonegoro. Kehadiran dan antusiasme mereka menjadi bukti nyata bahwa seni dan budaya dapat diwariskan dengan cara yang menyenangkan dan penuh semangat kepada generasi penerus.

Pameran Seni Rupa Budaya Geopark; Perayaan Seni Lintas Generasi dan Dukungan Terhadap Kearifan Lokal

Setelah mengamati makna filosofis di balik Misteri Khayangan Api, kami berkesempatan berbincang dengan Yuli Zedeng, Ketua Panitia Pameran Seni Rupa Budaya Geopark.

Pameran yang berlangsung selama lima hari ini terhitung dari tanggal 27 Juni, menampilkan 52 karya seni dari 50 perupa Bojonegoro dari berbagai kategori, meliputi lukisan, kartun, grafis, digital printing, hingga patung dan kriya. Yuli Zedeng menjelaskan bahwa pameran ini merupakan perwujudan partisipasi komunitas dalam program pemerintah, yakni Festival Geopark.

“Kita nyengkuyung pengin memberi warna di program pemerintah yaitu Festival Geopark,” ujarnya.

Proses perencanaan ide dan konsep pameran ini sudah dimulai sejak tiga bulan sebelumnya, memungkinkan para perupa untuk mempersiapkan karya-karya dengan tema budaya geopark. Mayoritas karya yang dipamerkan merupakan produksi baru di tahun 2025.

Uniknya, pameran ini melibatkan perupa dari lintas generasi, mulai dari siswa SMA kelas dua hingga seniman senior. Bahkan, dua karya dipamerkan untuk mengenang perupa yang telah almarhum, Siswato dan Samraja, sebagai bentuk penghormatan dari komunitas.

Animo pengunjung pun cukup tinggi. Dalam dua hari pertama, pameran ini sudah dikunjungi sekitar 200 hingga 300 orang. Pembukaan acara dihadiri oleh Nurul Azizah dan berbagai komunitas seniman dari luar kota seperti Blora, Blitar, dan Solo, menunjukkan adanya jaringan dan solidaritas antar-seniman daerah.

Yuli Zedeng berharap pameran ini dapat menjadi momen penting bagi perkembangan seni rupa di Bojonegoro, khususnya untuk memicu munculnya talenta-talenta muda. Ia juga berharap Festival Geopark dapat lebih dikenal luas oleh masyarakat dan menjadi sarana untuk melestarikan serta mempromosikan kekayaan budaya dan alam Bojonegoro. “Semoga momen-momen Geopark ini bisa lebih berarti dan bisa lebih dikenal masyarakat,” pungkasnya.

Tags: BojonegoroHendro LukitoLukisanLukisan GeoparkPameran Lukisan
Previous Post

Semangat Merawat Kerarifan Lokal Bojonegoro Lewat Tulisan

Next Post

Trip Menjelajah Bumi Margomulyo dan Ngangsu Kawruh di Festival Samin #9 2025

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Kapan Kamu Terakhir Membaca Buku?

Kapan Kamu Terakhir Membaca Buku?

28/05/2026
Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

30/05/2026
ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

15/06/2026
Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026
Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

27/05/2026
ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

ARSIP KORAN: Bojonegoro Raih Juara Nasional Insus Kedelai 1992

17/06/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023