“Sumpah orang-orang Samin baik dan ramah-ramah,” begitu kata seorang teman dengan menggebu-nggebu saat mengajak kami ke Festival Samin 2025.
Sebagai orang baru yang menyinggahi Bojonegoro tahun 2022, saya tentu tak begitu mengenal masyarakat Samin. Di luaran, Sedulur Sikep (sebutan Masyarakat Samin) yang tinggal di Dusun Jepang Desa/Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro sering didengungkan sebagai suku pedalaman. Bayangan pertama tentu hutan-hutan yang masih hijau dan rindang menjadi tempat tinggal mereka dengan adat budaya bahkan rumah serta pakaian yang masih serba otentik.
Berangkat pukul 08:30 WIB dari perempatan Jetak, kami berenam menyusuri jalan Bojonegoro-Cepu dengan buru-buru pada Sabtu (5/7/2025). Tentu meski masih pagi, Bojonegoro sudah panas dan sumuk.
Namun, lepas sampai di daerah barat, Padangan lalu Ngraho, hutan jati yang hijau kemilau meneduhi perjalanan kami. Ini trip pertama yang membuat saya menganga, Bojonegoro ada yang adem, loh!
Kami melewati jalan-jalan meliuk yang sepi, asri dan udara yang bersih serta segar. Mirip-mirip ketika menyusuri jalanan Malang, Pasuruan dan Magetan. Menempuh perjalanan 90 menit, rasanya tetap menyenangkan ketika pemandangan yang dilahap mata amat mengesankan meski punggung terasa panas dan pegal.
Dari jalan raya, kami akhirnya berbelok ke sebuah gang yang cukup lebar. Hutan masih menemani kami di kanan-kiri, hingga sampai pada monumen Samin Surosentiko, orang pertama pencetus ajaran Saminisme.
Dari SDN Samin II, kami berbelok ke kanan, melewati jalan setapak yang terjal dan berbatu. Ternyata sudah banyak rumah-rumah modern dan kehidupan masyarakat seperti pada umumnya. Bukan yang masih suka berburu dan banyak satwa liar, sebagaimana bayangan keliru banyak orang.
Kami tiba di lokasi dan disambut tiga ibu-ibu yang ramah. Festival Samin #9 mengambil tema Obor Sewu, Pangklingo maka kami diberi syal hitam motif Obor Sewu untuk digunakan selama acara berlangsung. Sedangkan tamu laki-laki diberi udeng (ikat kepala) motif yang sama.
Masyarakat juga jajaran pemerintahan yang hadir turut duduk lesehan sembari menikmati gending-gending yang dinyanyikan kelompok Karawitan SDN II Samin. Festival ini terdiri dari berbagai rangkaian acara. Dimulai dengan Gumbrengan Samin, Umbul Dungo, dan Pentas Seni Karawitan pada Jumat (4/7/2025). Dilanjut Ngangsu Kawruh pada Sabtu paginya dan Pagelaran Wayang di Sabtu malam.
Mbah Samin Surosentiko dan Bojonegoro

Ngangsu Kawruh yang menjadi agenda pagi itu, dihadiri para siswa, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) keluarga besar Samin Surosentiko, warga desa serta jajaran pemerintah termasuk Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah. Hampir semua mengenakan baju khas Samin, serba hitam dengan udheng dan syal Obor Sewu.
Dalam sambutannya, Nurul juga berbagi kisah personal yang mengikatnya erat dengan sejarah dan ajaran Samin Surosentiko. “Dalem menika kathah ceritanipun wonten Samin menika,” ujarnya mengawali cerita.
Ia menceritakan perjalanan pertamanya pada tahun 2016, saat bersama rombongan dari Bojonegoro diutus oleh Bupati kala itu, Suyoto, untuk mengunjungi Sawahlunto di Sumatra Barat. Tujuan mereka adalah menjemput tanah dari makam Samin Surosentiko. Mbah Samin dimakamkan di Sawahlunto dalam pengasingan.
Mereka harus neik Gunung Polang setinggi hampir 2.000 meter dengan medan yang terjal. Meskipun Wali Kota Sawahlunto mengizinkan, ada satu syarat: mereka tidak boleh mengambil tanah langsung dari makam Samin.
Di sana, Nurul dan rombongan melihat langsung peninggalan-peninggalan Samin Surosentiko, di tempat pengasingan Mbah Samin di zaman Belanda. Ia juga menceritakan kisah 6.000 pekerja Jawa yang dipaksa bekerja, dirantai, dan dipaksa membangun jalan, terowongan, serta gedung.
Di Sawahlunto, Nurul juga menemukan bukti nyata ajaran Samin yang masih lestari hingga kini: sabar, jujur, nriman (menerima), dan trokal (selalu berusaha). Ajaran ini, menurutnya, sangat dihargai di sana, bahkan ada terowongan yang dinamai Terowongan Suro.
Perjalanan kedua Nurul Azizah ke Sawahlunto terjadi pada tahun 2023, setelah wafatnya Hardo Kardi, generasi keempat sesepuh Samin: Samin Surosentiko, Suro Kidin, dan Surokarto Kamidin. Saat itu, dengan doa dan izin dari Wali Kota Sawahlunto, ia berhasil membawa pulang tanah dari pemakaman Samin Surosentiko. Momen ini menjadi penanda penting bagi Bojonegoro.
Dari perjalanan dan historis itu, muncul gagasan untuk mengidentifikasi Bojonegoro dengan ajaran Samin. Nurul, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda), menginisiasi kebijakan wajib penggunaan udheng bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) setiap hari Rabu, berkat disertasi Sugeng Wardoyo dari ISI Yogyakarta yang mengambil nama Obor Sewu.
Ia juga mengusulkan penggunaan seragam batik Samin setiap Kamis minggu pertama dan ketiga, yang kini wajib bagi 17.582 ASN di Bojonegoro. Ini sekaligus peluang besar bagi pengrajin batik di Desa Jepang, tempat warga sedulur sikep Samin.
Nurul Azizah menegaskan bahwa setiap agenda budaya seperti Festival Samin ini harus berdampak langsung pada pemberdayaan masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa Festival Samin harus menjadi agenda tahunan yang rutin.
“Ketika ada kebijakan memakai udheng dan produksi dari Desa Margomulyo ini bisa menambah pendapatan warga. Ini berarti ada pemberdayaan,” jelasnya.
Ia menutup sambutannya dengan mengajak semua pihak meneladani ajaran Samin jujur, nriman dan trokal. Ia menginspirasi hadirin untuk terus berkolaborasi demi kemajuan Bojonegoro.
Selanjutnya Nurul membatik di atas kain putih panjang motif Obor Sewu, ia mengggerakkan canting beberapa kali hingga motif-motif itu terbentuk. Disusul dengan penyerahan Disertasi Obor Sewu oleh Sugeng Wardoyo selaku dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Terakhir, desain Pakaian Dinas Harian (PDH) motif Obor Sewu diserahkan oleh Nurul Azizah kepada Bambang Sutrisno selaku generasi kelima atau generasi saat ini dari Masyarakat Samin.
Festival Samin 2025 dan Obor Sewu sebagai Harapan untuk Bojonegoro

Festival Samin 2025 tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya, tetapi juga membawa pesan mendalam melalui tema dan simbolnya. Bambang Sutrisno, penerus sesepuh Masyarakat Samin menjelaskan bahwa konsep Obor Sewu yang selalu diusung dalam setiap festival memiliki makna filosofis yang kuat. “Obor Sewu sebenarnya bermula dari kisah Mbah Samin Surosentiko saat mengumpulkan warga. Ia waktu itu memakai lampu penerangan berupa obor,” tutur Bambang.
Ia melanjutkan, “Obor itu lampu. Sewu itu kan bermakna banyak. Jadi, cita-citanya bagaimana agar pitutur Mbah Samin jadi penerang generasi selanjutnya.”
Obor Sewu, dengan demikian, melambangkan harapan agar ajaran-ajaran luhur Samin Surosentiko dapat terus menerangi jalan bagi generasi mendatang, menjadi panduan dalam menjalani kehidupan.
Sedangkan festival tahun 2025 ini, tema yang diusung adalah Pangklingo Wonge Ojo Pangkling Swarane. Bambang menjelaskan makna di balik tema tersebut, “Itu artinya, yang dilihat adalah isi apa yang dibicarakan. Jangan melihat siapa yang berbicara.”
Tema tersebut mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada substansi dan kebenaran ajaran, daripada terdistraksi oleh sosok atau penampilan pembawa pesannya. Ini adalah pesan penting tentang esensi dan nilai-nilai yang harus tetap menjadi prioritas dalam melestarikan dan memahami budaya Samin.
Kuliner Nasi Buwuhan dan Penjamuan Masyarakat Samin

Usai serangkaian acara seremonial, para panitia membagikan nasi buwuhan yang dipincuk daun jati. Mata orang-orang berbinar dan bungah, seperti mendapat hujan di kemarau yang panjang.
Nasi tersebut tampak sederhana dan sama seperti nasi bungkus pada umumnya. Ada lauk sambal kelapa atau srundeng yang sepertinya dimasak dengan metode cos atau kereweng (pecahan genteng) dibakar, ketika sudah sangat panas diletakkan di parutan kelapa yang sudah dicampur dengan bumbu lalu ditekan hingga menimbulkan suara cos. Asap akan keluar dari dan bau rempah yang sedap tentu langsung menusuk penciuman. Saat disantap, srundeng ini terasa gurih dan masih ada aroma bakarnya.
Ada pula tempe dengan irisan cabai. Teksturnya basah dan rasanya gurih sedikit pedas. Lalu ada beberapa potong daging ayam yang dimasak dengan bumbu kuning, rasanya gurih, pedas dan sedikit manis. Dimakan dengan nasi yang pulen dibungkus daun jati, seperti menambah hormon serotonin.
“Di antara banyaknya sego buwuhan yang kucoba, hanya di sini yang paling enak,” ucap Melin, salah satu pengunjung yang kemudian diiyakan empat temannya.
Minumnya disediakan air kendi juga air kemasan gelas. Tentu minum dari kendi terasa lebih segar dan dingin yang alami. Ada pula berbagai macam polo pendem sebagai teman mengobrol saat istirahat siang.
Kami menutup trip Samin yang pertama itu dengan menikmati nuansa warung pedesaan di Bendungan Karangnongko sebelum kembali ke pusat kota lewat jalur Sugihwaras dan Ngraho yang sepi, hijau dan sangat terjal. Bahkan sepanjang perjalanan, tidak ada satupun penjual bensin kecuali di warung Bendungan Karangnongko itu.









