Tetiba saya ingin menonton film horror, meski biasanya suka Upin-Ipin. Di siang yang panas pada Rabu (9/7/2025), saya pun bertemu: Pengantin Iblis.
Film yang ditulis oleh Lele Laila itu resmi tayang pada 29 Januari 2025. Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, ternyata film tersebut diangkat dari ritual kisah nyata yang terjadi di masyarakat. Meski masuk genre horror, film yang diproduksi oleh Lyto Pictures itu bagi saya tidak begitu menyeramkan, tapi begitu menyedihkan.
Taskya Namya yang memerankan Ranti menjadi sosok yang mewakili luka-luka ibu rumah tangga yang umum terjadi; dipaksa menjalankan tiga tugas sekaligus sebagai ibu, istri dan menantu, juga sebagai penopang ekonomi dan urusan domestik yang tiada henti.
Saya membayangkan, bagaimana kondisi psikologis Ranti dan semua ibu, istri, juga menantu yang mengalami hal sama. Sedalam apa luka dan beban yang mereka pikul dalam diam? Seberapa luas dada mereka menampung sabar?
Serumah dengan Mertua, dan Dua Ipar
Banyaknya postingan di sosial media bahwa serumah dengan ipar atau mertua adalah maut, dan setidaknya film ini mengiyakannya.
Film Pengantin Iblis mencerminkan betapa gaduh dan nelangsanya menjalani hidup dengan mertua dan ipar yang jumlahnya dua, dan semua penghuni rumah memiliki kepala juga egonya masing-masing.
Di film itu, ibu rumah tangga diposisikan sebagai ujung tombak ekonomi juga perisai lapar dan dahaga. Ranti, Siti (menantu kedua) dan Gita (saudara ipar dari Ranti dan Siti) berprofesi sebagai penjual daging ayam.
Siti yang diperankan oleh Givina Lukita Dewi tengah mengandung tujuh bulan. Meski tidak sesemangat Ranti, Siti tetap ikut bekerja agar tidak dinilai ingin enaknya saja. Hal ini membuat Ranti dan Siti kerap kali terlibat pertengkaran.
Sedangkan suami Siti, Bayu yang diperankan oleh Bukie B. Mansyur hanya adu ayam dan bangun siang. Betapa sia-sia ia lahir di dunia. Saban hari Bayu bangun ketika mentari sudah berada tepat di atas kepala. Malamnya ia akan adu ayam di pasar. Satu kelebihannya saat adu ayam: tak pernah menang.
Dia yang tidak berguna itu, selalu pulang jam tiga pagi atau menjelang subuh. Tiap sampai rumah, ia akan membangunkan Siti yang terlelap, minta dibuatkan mie instan sebab lapar.
Siti yang jalannya sudah payah, tetap bangun dan melayani suaminya yang tidak guna. Antara cinta dan bodoh memang beda tipis, begitu orang-orang mengumpat.
Kurangnya Dukungan Suami
Pagi itu tidak ada sarapan yang tersedia di meja makan. Nina, anak Ranti dan Bowo yang kakinya cacat dari lahir duduk dan bermain robot ayam di meja makan yang sepi.
Neneknya, yang diperankan oleh Ratna Riantiarno datang menggunakan kursi roda. Sebagai mertua dengan dua menantu dan satu putri bungsu, ia kecewa para perempuan itu tidak menyiapkan sarapan apapun.
Banyak perempuan belum siap menikah karena takut mendapat mertua julid dan suami yang tidak supportif.
Usai mengundi nasib sebagai penjual daging ayam, Ranti, Siti dan Gita pulang. Memang benar bibir mertua adalah maut.
Di antara tiga perempuan itu, hanya Ranti yang kena omelan nenek tua. “Sebagai perempuan, sesibuk apapun, harus bisa membagi waktu. Meski bekerja, harus bisa mengurus rumah, suami dan anak,” omelnya.
Ia pun acuh ketika ditawari Ranti berbagai macam menu. “Apa saja, toh rasanya sama karena beli di pasar,” ocehnya lagi.
Bukankah harusnya dia bersyukur mendapat menantu yang mau bekerja dan masih mau merawatnya? Dibanding anaknya Bayu yang suka adu ayam.
Bowo yang diperankan oleh Wafda Saifan hanya diam saja melihat Ranti dicaci-maki, tidak ada pembelaannya sebagai suami.
Beban Psikologis Ranti
Menurut mertua Ranti, Ranti harus mengerjakan semuanya dengan sempurna seperti melayani suami, anak, mertua dan rumah tinggal mereka. Mertua itu nyerocos saat Nina diantar sekolah oleh Gita, harusnya ibunya!
Padahal Ranti, harus mengantar Bowo berangkat bekerja sebagai pelaut. Lepas itu mengirim pesanan ayam ungkep. Fisiknya lelah, tapi batinnya berlipat-lipat lebih payah.
Hingga di titik di mana psikologisnya amat terguncang. Nina kecelakaan karena Gita telat menjemput dan tentu mertua itu menyalahkan Ranti karena tidak becus mengurus anak.
Biaya operasi Nina mencapai hampir setengah miliar, dan Ranti hanya memiliki tabungan Rp 10 juta beserta pickup tua yang biasa ia gunakan ke pasar. Tidak ada yang membantu, dan Bowo sulit dihubungi.
Sebagai ibu, ia berjuang sendiri, menangis sendiri dan melakukan segala cara secara sendiri. Mungkin, karena beban psikologisnya begitu berat, perasaannya carut-marut dan pikirannya kalang-kabut, ia kurang berpikir logis dan tidak memahami bahwa hidup tidak pernah memiliki; bahwa apapun itu, seseorang harus siap melepas dengan kesadaran yang utuh.
Ia membikin perjanjian dengan makhluk di alam lain. Perempuan tua yang mengulur tangan, tapi justru menyesatkan itu melakukan ritual kepada Ranti; ia dijadikan Pengantin Iblis, menikah dengan Iblis dan bersenggama dengan Iblis dengan imbalan Nani sembuh total.
Nani memang sembuh, tapi justru Ranti yang sakit berat. Raganya, jiwanya, juga hatinya. Saban malam ia harus menangis sekaligus tertawa saat bersetubuh dengan makhluk itu. Badannya banyak biru lebam, dan ceruk matanya semakin hitam dan dalam. Betapa malang istri, ibu dan menantu itu.
Ia pun harus menebas leher-leher orang yang menyakitinya meski ia tidak pernah mau melakukannya. Begitu banyak sesal yang ia tampung, begitu banyak luka batin yang ia bendung. Lalu ia membakar dirinya sendiri agar tidak lagi membunuh orang setelah Siti, Bayu, mertuanya dan suaminya mati di tangannya.
Ranti telah kehilangan semuanya, juga dirinya sendiri!









