Mastumapel.com – Ratusan warga berkumpul berbalut pakaian adat Jawa, jarik bercorak warna putih dengan baju berwarna hitam, dan sebagian merah. Yang laki-laki lengkap dengan blangkon sedangkan yang perempuan berjarik. Tua, dewasa, dan anak-anak memenuhi area makam Kiai Tameng Jati yang berada di tengah-tengah permukiman di Desa Sudah Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro. Pada Senin (7/7/2025), sedang digelar Festival Desa Sudah.
Festival itu menandai Desa Sudah yang telah berusia 667 tahun. Usia itu dihitung dari apa yang tertera dalam Prasasti Canggu. Prasasti itu menyebut desa-desa panambangan (memiliki tambangan Bengawan Solo) diantaranya Desa Sudah. Prasasti Canggu dibuat era Majapahit di bawah raja Hayam Wuruk.
Dan siang itu, kirab Hadegringgit Simathani Sudah digelar. Tidak ketinggalan suara riuh beberapa pedagang keliling ikut memadati. Anak-anak bersama ibunya lalu lalang merengek minta beli jajan. Dengan balutan busana kebaya, anak kecil tersebut tampak menggemaskan. Di sisi lain warga memilih duduk-duduk santai menonton di depan rumahnya, beberapa yang lain di pinggiran jalan dengan duduk di motornya. Siang menjelang sore itu, panas matahari sudah tidak begitu terik, ditambah semilir angin menyelimuti suasana, di acara kirab budaya dalam rangka festival Desa Sudah.
Suasana ramai dan terkesan sakral (suci atau keramat, bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis). Terdapat gunungan yang berisi buah, sayur mayur, polo pendem sebagai perwujudan kekayaan desa dengan berbagai hasil panen, yang dianugerahkan Tuhan melalui kesuburan tanah. Empat gunungan berisi buah, sayur mayur dan hasil panen lainnya disusun dengan baik dan indah. Ada sound system yang diletakkan di pickup. Suara pengeras suara terdengar untuk memandu acara.
Pak Muin, begitu warga Desa Sudah mengenal laki-laki paruh baya tersebut yang juga dikenal sebagai juru kunci makam Kiai Tameng Jati memandu kirab. “Paling ujung (depan) gunungan dulu, disusul Bapak Kamituwo ( kepala dusun) kemudian RT/RW disusul peserta lain yang mau ikut memeriahkan kirab,” tuturnya mengatur susunan kelompok peserta kirab sebelum berjalan.
Iam adalah anak kelas 5 sekolah dasar yang menjadi salah peserta kirab budaya Festival Desa Sudah 2025. Iam bercerita bahwa selain ikut dalam kirab dia juga ikut dalam pertunjukan tari di malam harinya bersama anak-anak dari Desa Sudah. Iam mengatakan bahwa ia awalnya malu dan tidak percaya diri. Namun bersama dengan beberapa anak-anak lain, menjadikan dia lebih percaya diri. Sebelumnya dia belum pernah tampil menari. Apalagi tarian kolosal yang aiakn dimainkannya menceritakan sejarah Desa Sudah, tanah kelahirannya.
“Lumayan senang, aku berperan sebagai nelayan. Kami berlatih waktu pagi dan malam di Balai Desa. Dilatih oleh seorang guru, aku lupa namanya,” jelasnya polos.
“Saya tidak ikut, tapi yang bagian menonton” ujar Robi, teman Iam yang berada didekatnya.

Dalam acara Kirab Budaya Desa Sudah, Erlina (33) bersama perempuan kecil, anaknya, mengaku merasa antusias dengan adanya kirab di Desa Sudah yang baru dilaksanakan di tahun ini.
“Dengan adanya acara kirab ini, senang, kelihatan guyup rukunnya antar sesama,” ungkap Erlina yang merupakan warga RT 04 Desa Sudah.
Di tengah modernisasi, tradisi budaya mengalami tantangan. Tidak begitu dikenal, termasuk oleh anak-anak sebagai penerus. Adat istiadat dan nilai-nilai budaya lokal yang mengandung nilai moral serta arti yang mendalam makin terkikis. Acara kirab ini menjadi salah satu bentuk mengenalkan budaya yang sepatutnya dilestarikan.
Kirab Budaya dalam rangka festival Desa Sudah Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu serangkaian kegiatan untuk memperingati hari jadi Deaa Sudah ke 667 tahun. Kegiatan lainnya diantaranya bazar UMKM, sarasehan dan pagelaran Wayang. Prosesi kirab selain membawa gunungan juga membawa benda pusaka yang ditemukan di Desa Sudah. Kirab dimulai dari makam Kiai Tameng Jati menuju Balai Desa Sudah dan diikuti oleh tokoh masyarakat, pelajar dan warga desa setempat.
Mendekati pukul empat sore, rombongan kirab sampai di Balai Desa Sudah. Jika melihat antusiasme masyarakat, terhadap festival kebudayaan, adat istiadat, rasanya Bojonegoro tidak akan kehilangan identitasnya. Bojonegoro dengan beragam kebudayaan dan cerita sejarah di dalamnya.
Menuju pukul setengah lima sore, kirab mendekati akhir. Langit meredup tertutup awan. Malamnya hujan mengguyur.









