Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Selatan

Nyala Semangat Para Siswa SDN 2 Karangmangu, Sekolah di Tengah Hutan Bojonegoro  

Mukaromatun Nisa
05/08/2025
Nyala Semangat Para Siswa SDN 2 Karangmangu, Sekolah di Tengah Hutan Bojonegoro  

Satu ruang untuk dua kelas/Foto: Nisa

Wajah-wajah polos penuh canda tawa menghiasi suasana belajar di SDN 2 Karangmangu, Kecamatan Ngambon, Kabupaten Bojonegoro. Meski letak sekolah berada di Dusun Kalongan, tepatnya di tengah hutan jati dan dengan segala keterbatasan, semangat belajar para siswa tak pernah surut.

Di Desa Karangmangu, terdapat tiga dusun: Semek, Kedung Dureh, dan Kalongan. Semek dan Kedung Dureh berdampingan, pusat pemerintahan desa ada di kedua dusun tersebut. Sedang Kalongan, terletak begitu jauh. Meski secara administrasi masuk Karangmangu, namun untuk menuju ke sana, harus keluar desa menuju barat, melewati Dusun Duri (Desa Ngambon) menuju pusat Kecamatan Ngambon. Lalu melewati Desa Setren Kecamatan Ngasem, dan barulah sampai di Kalongan.

Saya pertama kalinya ke Kalongan. Bersama teman-teman Kelompok 54 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri). Di Kalongan, kami menuju ke SDN 2 Karangmangu.

Sepanjang jalan, rindang pohon jati memayungi kami. Lepas bertemu pertigaan pertama setelah Desa Setren, kami berbelok ke kiri hingga bertemu gapura bertulis: Ngglambangan. Kami masih harus masuk agak jauh hingga bertemu pertigaan pertama dan berbelok ke kanan.

Setelah pertigaan, ada jalan terjal, berbatu, dan sempit di antara lebat hutan jati. Kami melewati pula jembatan kali. Lalu menanjak ke atas dengan kondisi jalan berbatu dan berlubang, jika tidak hati-hati, bisa nyungsep.

Kami melewati jembatan besi bercampur kayu yang telah berkarat, bolong dan mengeluarkan bunyi “klotak-klotak” saat dilewati. Setelah jembatan ini, rumah warga terlihat di kanan-kiri, di antara perbukitan yang hijau dan ladang yang subur ditanami jagung dan singkong.

Kami sampai di SDN 2 Karangmangu setelah sekitar 30 menit menempuh perjalanan. Sekolah di sebelah masjid itu hanya terdiri dari 4 ruang, satu ruang untuk kantor guru dan kepala sekolah, tiga ruang lainnya untuk kelas 1-6.

Nyala Semangat Para Siswa SDN 2 Karangmangu, Sekolah di Tengah Hutan Bojonegoro/Foto: Nisa

Jauh dari Kecanggihan Teknologi

Pak Widno, salah satu guru yang sudah berada di Kalongan sejak tahun 2003 menceritakan, SDN 2 Karangmangu tersebut berdiri sejak tahun 1982. Listrik masuk Kalongan sekitar tahun 2021.

Sebelumnya, warga menyambung listrik dari Karangmangu secara pribadi menggunakan kabel. Untuk satu saluran, dibagi  tujuh rumah. Seingat Pak Widno, saat itu kabel-kabel listrik masih tidak beraturan, sehingga berisiko warga tersengat aliran listrik jika kurang hati-hati. Praktis listrik hanya untuk lampu penerangan saja.

“Kalau mau nyalakan sanyo (pompa air) itu harus gentian, kalau barengan listriknya tidak kuat,” ungkap Widno.

Sekolah pun juga terkena dampak dari sulitnya akses internet dan teknologi. Tidak ada signal seluler. Pemasangan wifipun baru terjadi 3 tahun lalu.

“Kalau ada perlu koordinasi dengan pihak dinas atau kementerian itu. Kita harus ke bukit belakang sekolah dulu untuk nyari signal, soalnya tempatnya agak tinggi, jadi ada signal,” terang Widno.

Pembelajaran di sekolah pun belum pernah dilakukan menggunakan media digital seperti kuis online, membuat pamflet hasil merangkum dan lainnya. “Sebenarnya pihak guru sudah ada bekal tersebut, tapi mau diaplikasikan fasilitasnya belum ada. Internet pun baru ada juga,” ungkap Lis, guru yang mengajar SDN 2 Karangmangu sejak 2014.

Terbatas Fasilitas, tapi Semangat Tak Terbatas

Terbatasnya fasilitas ruang, membuat para siswa harus berbagi tempat dalam satu kelas. Per ruang digunakan oleh dua kelas dengan disekat papan tulis dan lemari. Suara dari kelas sebelah terdengar jelas dari kelas sebelahnya. Meski begitu, para siswa tetap fokus dan semangat belajar.

Jika ditotal, jumlah keseluruhan siswa dari kelas 1-6 hanya mencapai 24 anak. Kelas 1 berjumlah 6, kelas 2 berjumlah 3, kelas 3 berjumlah 2, kelas 4 berjumlah 3, kelas 5 berjumlah 6 dan kelas 6 berjumlah 4.

Selain fasilitas tempat, para siswa juga terbatas buku pelajaran. Satu buku paket dipergunakan untuk tiga siswa. Mereka berdempetan duduk di kursi, antusias menulis materi untuk menjadi pedoman belajar.

Para siswa SDN 2 Karangmangu tersebut lebih banyak diam, dalam artian tidak ricuh, tidak membantah. Tapi selalu patuh pada apa kata guru. Terlebih, etika mereka terjunjung tinggi dengan tidak berkata kasar dan menghargai siapapun yang berbicara di depan.

Anak-anak itu, tidak ada satupun yang membawa ponsel. Ketika jam istirahat tiba, mereka bermain bola, saling bercerita atau sekadar lari-larian di halaman sekolah dan menikmati jajan yang dijual salah satu guru.

Tidak ada wisata kuliner seperti di sekolah-sekolah pada umumnya dengan banyaknya pedagang motor yang mangkal. Hanya ada satu sampai dua pedagang motor yang mangkal, itu pun bergantian.

Nyala Semangat Para Siswa SDN 2 Karangmangu, Sekolah di Tengah Hutan Bojonegoro/Foto: Nisa

Para siswa di SDN 2 Karangmangu sangat sedikit yang memiliki ponsel sendiri. Siswa yang punya pun dibatasi bermain hape di jam-jam tertentu oleh para orang tua.

Di kelas 5, dari 6 siswa, hanya satu yang mengaku bermain hape usai pulang sekolah. Lainnya menjawab bermain dan istirahat. Zahra, salah satu siswa, mengaku tidak memiliki hape. “Biasanya dipinjami hape ibu, tapi tidak boleh lama-lama,” ujarnya. Sepulang sekolah, ia akan istirahat tidur siang. Lantas berangkat mengaji di sore hari.

Siswa lainnya, Eko, meski punya hape, ia lebih sering bermain bola atau menerbangkan layang-layang usai pulang sekolah. Sedangkan siswi di depannya, Caca, memilih istirahat tidur siang sepulang dari sekolah. Siswa lainnya, Bagus, Enzel, dan Ike mengaku sepulang sekolah bermain dengan adik, mencari tebu dan bermain HP dengan dibatasi waktu.

Semua siswa di kelas itu selalu belajar saat malam tiba, baik secara mandiri maupun didampingi orang tua. Tidak ada bimbingan belajar di Dusun Kalongan. “Kadang juga membaca buku cerita usai belajar,” ungkap Enzel.

 

Akses Jalan Menuju Sekolah; Ekstrem, tapi Asri

Para siswa di SDN 2 Karangmangu, semua tinggal di Dusun Kalongan. Tidak ada siswa dari luar dusun atau anak yang bersekolah di luar dusun kecuali untuk SMP hingga universitas.

Dekatnya rumah menuju sekolah, membuat para siswa lebih sering berjalan kaki. Sedikit yang membawa sepeda. Sebagian diantar orang tua.

Akses jalan pun masih berbatu dan paving yang sudah rusak dan berlubang di sana-sini. Namun, setidaknya beberapa tahun terakhir, banjir tidak menyinggahi Kalongan.

Pada 2006 lalu, menurut Widno, banjir menyinggahi Kalongan. Para siswa harus menyopot sepatu, melipat rok dan celana untuk berjalan menuju sekolah. Ketika banjir usai, banyak lumpur yang tertinggal, membuat para siswa harus tetap menyopot sepatu.

Sedangkan para guru yang berjumlah 9, bermukim di luar Kalongan semua. Yang terdekat adalah Widno yang bermukim di Ngglambangan, Desa Setren, Kecamatan Ngasem. Terjauh ada Rini Isnaini yang bertempat tinggal di Dander.

Rini yang asli Rengel-Tuban, kini berusia 55 tahun. Meski sudah setengah abad lebih, ia tetap semangat berangkat setiap hari ke sekolah, melalui jalan ekstrem namun pemandangan asri. Beberapa kali, Rini jatuh saat bermotor. Namun ia mengaku menerima keadaan tersebut karena memang lokasi Kalongan yang berada di tengah hutan.

Tags: BojonegoroHutan JatiPendidikanSDN 2 KarangmanguSekolah
Previous Post

Ziarah Tiga Makam Keramat di Ngraho-Gayam, Cara Warga Menjaga Tradisi dan Menghormati Leluhur Desa

Next Post

Kelompok 54 KKN Unugiri Beri Pelatihan Manajemen Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Karangmangu

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026
Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

Dari Warisan Keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro jadi Warisan Budaya Tak Benda

23/05/2026
Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

Kolaborasi Pemuda Seni Bojonegoro, Suarakan Isu Sosial Melalui Panggung Pertunjukan

30/05/2026
ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

ARSIP KORAN 1980: Bojonegoro Punya 485 Taman Gizi

15/06/2026
Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

Idul Adha 1447 H untuk Bojonegoro Bahagia

27/05/2026
Kapan Kamu Terakhir Membaca Buku?

Kapan Kamu Terakhir Membaca Buku?

28/05/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023