Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Crita

Berkubu Buku

Nanang Fahrudin
14/07/2026
Berkubu Buku

Ilustrasi by AI

Benarkah minat membaca masyarakat Indonesia rendah? Banyak sekali survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional yang mengamini. Survei The Central Connecticut State University, pernah menempatkan Indonesia di urutan ke 60 dari 61 negara. Nomor dua dari belakang. Dan bermunculanlah aneka pendapat mencoba mematahkan hasil survei tersebut.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di dunia literasi kita? Minat baca tinggi apa rendah? Mari kita tidak masuk dalam perangkap perdebatan enggak produktif itu. Melainkan bergerak, membangun jejaring, dan memantabkan tekad untuk berkubu dengan buku. Apalagi jika kita tidak sedang tinggal di kota besar, melainkan di daerah pinggiran, yang melihat buku sebagai barang mewah.

Di negara ini, diakui atau tidak, hingga kini membaca buku bukan masuk daftar 100 jawaban teratas untuk memberantas kemiskinan. Kemiskinan seakan hanya bertautan dengan program infrastruktur, pertanian, sembako murah dan lain. Bukan urusan dengan buku. Akhirnya, buku banyak terkurung di gedung sekolah , kampus, dan asing bagi rumah-rumah yang dihuni keluarga.

Pada masa yang tertatih-tatih demikian itulah tiba-tiba dunia digital menggempur tanpa ampun. Gadget menjadi keseharian masyarakat. Anak-anak riang gembira memegang gawai, tertawa-tawa menikmati tontonan lucu dari media sosial yang dihuninya. Sementara orang dewasa asyik menjejali dunianya dengan aplikasi video untuk seru-seruan.

Dan di mana buku berada?

Buku dengan aroma kertas yang khas makin tersisih. Digantikan oleh kuasa digital yang merajai kehidupan masyarakat sehari-hari. Survei Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026, sebanyak 81,72% warga Indonesia tersambung ke internet. Tingginya orang tersambung ke internet, sebenarnya bisa dimaknai positif sekaligus negatif, karena tergantung apa yang dilakukan di dunia maya tersebut. Tapi setidaknya, kita mudah mengalihkan perhatian dari buku ke media sosial.

Menghadap-hadapkan buku vs digital memang tidak tepat. Karena keduanya bisa saling bertemu dan menghasilkan karya berupa e-book, e-library, dan sebagainya. Bahkan, kristalisasi pertemuan buku dan dunia digital menjadikan bacaan makin murah, mudah didapat, dan bersifat massif. Bagaimana wajah masyarakat Indonesia? Anda tentu punya jawaban.

***

Ibarat perang, kita perlu menentukan diri berada di kubu mana berada. Kini masyarakat dihadapkan pada kecepatan informasi yang dibawa serta oleh rezim digital. Beberapa studi dilakukan untuk mengetahui dampak dari gerusan dunia digital yang pada titik tertentu menemukan kebebasannya. Salah satunya adalah kebiasaan dengan hal-hal instan.

Kita sedang berada di ‘dunia yang berlari’ sebagaimana digambarkan Yasraf Amir Piliang. Nah, buku bisa menawarkan jeda untuk masuk ke kedalaman makna daripada ujaran-ujaran yang berbasis hastag (viral). Kita terlanjur menyerahkan diri kepada algoritma yang masuk ke otak kita tanpa kita sadari. Apa yang kita pikirkan telah ditentukan secara halus oleh algoritma yang berangkat dari pembacaan akan perilaku kita di internet.

Anggap saja kita kini berada di zona perang. Tapi bukan perang Amerika vs Iran. Tapi perang melawan keterbelakangan, kemiskinan, budaya cepat, bahkan melawan apa saja yang tidak menganggap bahwa buku itu ada dan penting. Dan mari berkubu dengan buku.

Aku memilih berkubu buku, itu sudah pasti. Dan aku yakin banyak sekali orang yang berkubu dengan buku. Meski mungkin lebih banyak juga orang memilih tak berkubu buku. Aku sering bertemu dua macam orang tersebut. Sebagai bagian dari upaya berkubu buku, izinkan aku bercerita tentang orang-orang yang konsisten berkubu buku.

Waktu itu, tahun 2020 an, ketika hidup di Jogja, aku bertemu dan ngobrol panjang dengan seorang penjual buku bekas. Usianya tak muda lagi, yakni 89 tahun. Sudah 60 tahun lebih ia bergelut dengan buku-bukunya. Tubuhnya boleh renta, tapi semangatnya untuk dekat dengan buku tak bisa dicegah oleh siapapun, termasuk oleh anak-anaknya. Zulkifli atau lebih biasa dipanggil Pak Zul tiap hari membuka lapak di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Pak Zul menganggap pekerjaannya bukanlah sekadar mencari uang. Melainkan sebuah hiburan karena bisa dekat dengan buku, memegang, membaca, menyuguhkan ke pembeli, membantu mencarikan buku, dan lain sebagainya. Pokoknya buku telah memberi banyak arti dalam kehidupannya selama puluhan tahun. Pak Zul bukan asli Jogja, melainkan berasal dari Aceh.

Aku sering ke lapaknya dan menemukan pemandangan seorang tua duduk sambil memegang koran Kedaulatan Rakyat di antara tumpukan buku yang menggunung. Entah kenapa aku selalu senang menikmati pemandangan menakjubkan itu, sehingga terkadang lebih memilih mengamatinya dari jauh terlebih dulu sebelum akhirnya ‘mengganggunya’ untuk menawar satu-dua buku di lapaknya.

Pak Zul adalah inspirasi. Aku yakin banyak orang seperti Pak Zul ini di berbagai daerah. Di Surabaya dulu, aku beberapa kali mengunjungi Oei Hiem Hwie di Perpustakaan Medayu Agung miliknya. Usianya juga sudah tua. Ketika aku berkunjung, Pak Oei, begitu aku memanggilnya selalu berada di mejanya untuk mengkliping koran. Di perpustakaannya ribuan koleksi tertata rapi di bangunan berlantai dua tersebut. Ketika bertamu, aku menyalaminya, lalu ia melanjutkan mengkliping.

Pak Oei pernah dikucilkan di Pulau Buru sebagaimana Pramoedya Ananta Toer juga merasakannya. Pak Oei mengisahkan bagaimana waktu muda, saat ia menjadi seorang jurnalis harus menyelamatkan buku-bukunya ke plafon rumahnya dari tangan militer. Buku-bukunya memang selamat, tapi tidak dengan dirinya yang menjadi tahanan politik. Kecintaannya pada buku mengeram sampai ia tua. Perpustakaannya pernah ditawar seseorang dengan harga miliaran rupiah, tapi Pak Oei tak hendak melepaskannya. Buku-bukunya adalah harta yang tak ternilai harganya.

Pak Zul dan Pak Oei adalah sedikit orang yang seharusnya menginspirasi kita untuk meneguhkan tekad berkubu buku. Ya, harus.

***

Tahun 2012, aku mengumpulkan tulisan-tulisan yang bertema buku dan Bojonegoro. Saat sudah terkumpul, aku layout menjadi sebuah buku ukuran 13 x 19 cm. Sampul aku desain sendiri ala kadarnya, dan kemudian cetak terbatas. Buku itu berjudul ‘Membaca untuk Bojonegoro’. Buku itulah buku pertama yang aku bikin semuanya sendiri (kecuali mencetak). Mulai menulis, layout, hingga bikin sampul aku lakukan sendiri.

Waktu aku berkeyakinan, meski ada keterbatasan, aku harus tetap bisa menghasilkan karya. Teknologi memudahkan kita membuat buku dan mengedarkannya sendiri. Bahkan boleh jadi keterbatasan yang ada bisa menjadi pemicu untuk terus bergerak di dunia literasi. Aku sering memosisikan diri sebagai provokator agar daerah-daerah pinggiran seperti Bojonegoro, tempatku lahir, tak hanya dikenal lewat banjirnya saja melainkan juga lewat buku dan kebudayaannya.

Sekali lagi, banyak orang di sekitar kita yang jadi inspirasi. Kita tak sendirian berkubu buku. Mari berkubu buku!

Tags: Berkubu BukuLiterasi
Previous Post

Tersesat di Hutan dan Obrolan Buku “Range” yang Belum Selesai

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Menyantap Mie Ayam “Terenak” Rahayu, Pilihan Menunya Paling Banyak di Bojonegoro   

Menyantap Mie Ayam “Terenak” Rahayu, Pilihan Menunya Paling Banyak di Bojonegoro   

30/06/2026
Kisah Jaka Tingkir: Kesaktian Masa Kecil, Menjadi Sultan Pajang, Lalu Dikalahkan Anak Angkat

Kisah Jaka Tingkir: Kesaktian Masa Kecil, Menjadi Sultan Pajang, Lalu Dikalahkan Anak Angkat

22/06/2026
Tersesat di Hutan dan Obrolan Buku “Range” yang Belum Selesai

Tersesat di Hutan dan Obrolan Buku “Range” yang Belum Selesai

12/07/2026
Perkuat Identitas Lewat Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026

Perkuat Identitas Lewat Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026

17/06/2026
Ngopi di Warkop dan Langkah Kecil Keluar dari Algoritma

Ngopi di Warkop dan Langkah Kecil Keluar dari Algoritma

25/06/2026
Imajinasi Toko Buku dalam Buku

Imajinasi Toko Buku dalam Buku

15/06/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023