Malam pergantian tahun adalah sebuah perayaan. Media sosial pasti dipenuhi postingan bakar-bakar, makan bersama, bermain kembang api, atau liburan ke tempat wisata. Tapi, seistimewa apa pergantian tahun itu? Bukankah semua hari sama, menunggu waktu ‘pulang’. Kamu pasti punya cerita kan?
Rabu (31/12/2025), tepat di ujung tahun, saya diundang Pristi, seorang teman karib, untuk makan besar di atap rumahnya di Dusun Dureg, Desa Sidobandung, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Pristi, banyak menghabiskan waktu di Malang yang katanya lebih seru daripada Bojonegoro. Lalu ia pulang ke kampung halaman dan mencoba beradaptasi. Bojonegoro yang menurutnya sepi dari wisata kuliner, membuatnya rajin memasak dan mencoba menu-menu baru.
“Mungkin karena di Bojonegoro tidak ada ya, jadi ya masak sendiri,” ucapnya.
Malam tahun baru itu, bersama empat teman lainnya, kami berkumpul di atap rumah Pristi. Atap rumah ini sebenarnya rumah lantai 2 yang belum sempat dibangun kembali. Daripada nganggur, begitu kata Pristi, maka ia sulap atap itu menjadi “kafe” lengkap 1 set meja dan kursi dari semen di pojok depan kanan dan kiri.
Di sampingnya berhias bunga sansevieria dan pohon tomat. Ia juga memasang lampu kuning kecil-kecil ala-ala kafe sebagai penerangan. Jika tamunya banyak, ia menggelar karpet atau menambahkan kursi hitam bundar. Dari atap sini, kami bisa memandang langit luas, gemerlap bintang dan bulan serta mendengar suara hewan malam.
Jika biasanya orang-orang open house untuk menerima tamu, maka Pristi akan open atap untuk menjamu kawan-kawannya.
Malam itu spesial. Ia memasak nasi ayam hainan, beef slice dan es sunset 5pm. Es ini kreasi resepnya sendiri. Terbuat dari seduhan bunga telang yang dipadukan dengan teh dan sirup leci, ditambah toping daun mint dan buah leci yang segar dan kenyal. Ada pula menu tambahan seperti semangka, jeruk, kentang dan tahu susu goreng.

Kami berfoto bersama dulu sebelum menyantap menu makan besar malam itu. Kami duduk melingkar di atas karpet, mengambil makan sesuai porsi dan keinginan masing-masing. Nasi yang dimasak dengan kaldu ayam hainan itu terasa gurih. Sedang ayam kampung yang disiram dengan minyak bawang itu makin mantap disantap dengan sambal. Beef slice yang dipanggang dengan saus barbeque itu dimakan dengan selada, lemaknya lumer, dagingnya gurih dan ada rasa segar dari selada. Ditutup dengan es sunset 5pm yang manis-asam.

Ketika perut sudah terisi, kami menonton film Agak Laen melalui proyektor sambil ngemil kentang, tahu susu, semangka dan jeruk. Tentu dengan ngobrol ngalor-ngidul, saling mengolok dan terbahak saat adegan kocak di film muncul. Sebagai tambahan, kami bermain kembang api dan mencoba menerbangkan lampion meski gagal.
Makanan, Mungkin Salah Satu Alasan Hidup
Tepat setahun lalu, pada 1 Januari 2025, saya dan Pristi memasak mie pangsit di Embung Babo Sidobandung di depan rumahnya. Seperti piknik sederhana, kami memasak dan makan berdua sambil menikmati wisata air di embung itu. Dan menyambut 2026 ini, kami juga menghabiskan waktu untuk makan.
Hari-hari biasanya pun Pristi sering mengundang saya atau teman yang lainnya untuk dimasakkan dan dijamu dengan makanan beraneka ragam kreasinya, seperti ramen, udon, bakmi jawa, chicken wings, sate taican, ayam bakar, siomay, dimsum, mie ayam, steak, beef noodle, ayam ungkep, bulgogi ramyeon, bakso, pecel lele, sambel cemeding dan banyak lagi. Ia selalu suka saat memasak dan orang akan lahap memakan masakannya.
Selepas malam tahun baru itu, di pagi 1 Januari 2026, Pristi memasakkan saya sambel cemeding, tempe dan ikan goreng. Daun ketela yang direbus lalu berbaur dengan sambal korek yang dikucuri jeruk nipis menjadi pasangan ideal untuk disantap dengan nasi panas. Ditambah tempe dan ikan goreng, betapa nikmat jika setiap hari bisa makan masakan Pristi.

Sore harinya ketika kami baru selesai makan siang, ia berkreasi membuat mie ramen dan udon dengan toping beef slice, telur rebus dan jamur kuping. Kuahnya terasa ringan dan gurih, berpadu dengan mie yang kenyal dan beef slice yang manis-gurih ditambah irisan cabai rawit, betapa syahdu hujan pertama di tahun 2026 itu.

Menikmati jamuan Pristi yang selalu enak dan totalitas, membuat saya berpikir, makanan menjadi salah satu alasan hidup dan bertahan dari tahun ke tahun. Bulan menjadi makin cantik ketika dilihat saat perut kenyang dan hati senang. Dari masakan-masakan itu, saya dan beberapa kawan sering nyeletuk, “Kamu bikin kafe aja deh Mbak. Open atap tiap seminggu sekali, reservasi maksimal 10 orang.”
Selamat Tahun Baru 2026!









