Plang nama berukuran kecil itu menunjukkan dua arah. Berada di sudut jalan bercabang dua. Satunya ke Dusun Ngandong, satunya ke Dusun Kalimati. Namanya unik. Tapi lupakan nama itu, dan mari mengikuti perjalanan menjelajahi hutan Temayang, wilayah Kabupaten Bojonegoro bagian selatan.
Siang yang terik di panas kemarau, Kamis (9/7/2026), aku dan Prawoto seorang kawan baik, berangkat dari seputaran kota. Motor Honda Scoopy hitam menemani kami. Idealnya untuk medan jalan hutan yang berbatu, motor trail sangatlah cocok. Tapi, motor matic tetaplah tangguh untuk menaklukkan medan terjal.
Melihat maps, jarak yang akan kami tempuh sekitar 35 km dengan waktu yang dibutuhkan 1 jam 5 menit. Bismillah kami berangkat. Melewati Jalan Monginsidi (Sukorejo) dan lanjut ke selatan melintasi Sumberarum (Dander). Sesampai di Desa Kedungsari (Temaytang) kami berbelok ke kiri. Dan dari sinilah medan berat dan terjal itu dimulai. Plang nama penunjuk arah itu, terletak tak jauh dari pertigaan Kedungsari.

“Buku itu memang menarik. Seorang generalis memang lebih unggul daripada spesialis. Temanku pelatih bola, aku minta membacanya,” kata kawanku yang sambil memegang setir. Buku yang dimaksud adalah “Range” karya David Epstein terbitan Gramedia Pustaka Utama (April 2026 cetakan ke-9).
Buku “Range” ini memang baru saja kami beli dari Toko Buku Gramedia Bojonegoro yang sedang ada harga diskon. Buku ini sendiri aku rekomendasikan ke kawanku itu, setelah aku melihat podcast Gita Wiryawan yang di salah satu episodenya menyebut buku itu. Meski disebut selintas saja, aku penasaran dan sempat hendak membeli lewat toko online. Tapi, bak jodoh, buku itu bisa kudapatkan harga murah di toko buku langsung.
Kami sama-sama cocok dengan buku “Range”. Boleh jadi itu lantaran relate dengan hidup kami yang sejak kecil belajar banyak hal tapi sedikit-sedikit. Namun, bukan berarti menjadi generalis itu tidak belajar secara mendalam dalam satu disiplin. Tapi lebih pada bagaimana memperlakukan hidup ini tidak hanya mendalami satu bidang sampai ke akar-akarnnya, tanpa melihat bidang lain.
Epstein di kata pengantarnya menganalogikan generalis dan spesialis dengan proses membuat selokan. Seorang spesialis akan fokus pada satu selokan dan terus menggalinya sampai dalam, mengenali dinding-dindingnya, udaranya, dan segala hal detailnya. Tapi seorang generalis, memang tidak menggali selokan sangat dalam, tapi dia mengetahui ternyata di kanan kirinya banyak selokan lain dan dia bisa tahu rupa-rupa selokan. Sehingga ketika ia menemukan masalah di selokan, dia dengan cepat menyelesaikannya. Sedang sang spesialis hanya akan bisa menyelesaikan masalah jika polanya sama dengan “selokannya” saja.
Motor terus bergerak. Sesuai papan penunjuk arah, kami harus mengikuti arah Dusun Kalimati. Jalanan mulai tak bersahabat. Naik turun dengan tajam. Kanan kiri perbukitan tandus yang sesekali ada gerumbul pohon jati. Tanaman jagung mulai kering dan siap panen. Sebagian malah sudah dipanen. Sepanjang jalan tak banyak berpapasan dengan pengendara motor. Mobil tak satupun. Jalan cor sedikit melegakan, tapi belum lama, sudah berganti dengan jalan berbatu. Mesin motor menderu-deru kelelahan dan sesekali harus menghindari batu besar. Kawanku, seorang guru ini tangguh. Aku baru tahu, keahlian guru lain selain mengajar adalah lihai memegang setir motor. Mungkin ini disebabkan guru harus siap ditempatkan di manapun, termasuk sekolah pelosok tengah hutan. Bagaimana tidak, medan yang cocok untuk rute offroad itu begitu mudah ditaklukkan. Bahkan, masih sempat-sempatnya bercerita tentang filsafat pendidikan. Jadi, untuk sementara “dilarang berbicara dengan sopir” tidak berlaku.
“Makna pendidikan itu sebenarnya mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya. Ia menirukan kata-kata seorang profesor yang aku lupa namanya. Mencerdaskan kehidupan, artinya bukan sekedar membuat anak didik cerdas. Tapi harus juga mencerdaskan kehidupan siswa. Tugas inilah yang lebih berat. Kehidupan bermakna lebih luas. Sederhananya, mendidik itu bukan sekedar transfer ilmu akan tetapi transfer cara berpikir. Dan lagi-lagi, obrolan kami kembali ke buku “Range”.
Aku mengiyakan filosofi ini. Bagiku, di era modern kini, kita perlu untuk terus sadar kedudukan kita sebagai manusia. Kita bukanlah hanya obyek teknologi yang sedang berkembang pesat. Tapi kita adalah subyek sekaligus obyek. Perlu pandai menempatkan kesadaran diri pada tempatnya, agar tidak hanya menjadi obyek semata. Akupun menceritakan satu podcast yang belum ini aku tonton tentang filosofi bisnis jamu Sido Muncul. Bisnis Sido Muncul ternyata banyak didasari filsafat Hirroklates dan Bunda Teresa. Intinya, bagaimana kita ada di dunia ini dan memberi manfaat. Lalu aku sederhanakan logika dengan “khoirunnas anfauhum linnas”.

Obrolan terus berlanjut, dan jalanan terjal berbatu terus menghadang kami. Motor scoopy terus melaju. Sesekali bertanya ke penduduk lokal. Hingga akhirnya sampailah di SMPN Satu Atap Soko Temayang. Di gerbang sekolah ini ada pohon maja yang sedang berbuah lebat. Di sampingnya ada warung, dan kami pun memesan dua gelas kopi.
Kopi panas sedikit mengdurkan saraf yang sedikit tegang setelah bermotor di jalanan terjal, naik turun bukit, dengan kiri kanan pemandangan hutan. Obrolan pun berlanjut. Sesekali warga setempat melintas menggunakan motor yang dimodifikasi untuk medan berat, membawa sak berisi jagung.
Buku “Range” masih menjadi topik utama. Lalu, aku bercerita tentang rencana membukukan catatan-catatan ringan tentang buku. Hal-hal yang kurasakan cerita cerita-cerita kecil tentang bagaimana aku mendapatkan buku. “Mendapatkan buku sulit ditebak. Kadang kita bertemu buku idaman tanpa kita rencanakan. Yang pasti kita membatin lama buku itu,” kataku.
Obrolan tak akan berhenti seandainya kami tak melihat jam di ponsel. Ternyata sudah sejam lebih duduk nyruput kopi. Kami pun memutuskan untuk balik. Kami mencoba rute baru, lebih lama, jalan lebih jelek. Tapi, tentu pengalaman baru.

Namun, ternyata perjalanan tak semulus yang kami kira. Jalan berbatu benar-benar lebih parah. Semakin masuk ke dalam hutan. Sinyal menghilang. Jalan terjal naik turun makin ekstrem. Tapi, kami tetap lanjut. Motor Scoopy terus meraung-raung kelelahan. Kami bertemu jalan bercabang, dan keduanya hanya bisa dilalui motor. Mau bertanya, tanya ke siapa? Tak ada orang lewat. Tanya GPS? Sinyal tidak ada.
Oke, kami memilih jalan ke kiri. Semakin lama makin masuk hutan. Mau tanya, tanya ke siapa? Akhirnya terus jalan. Jalan dan jalan. Akhirnya melihat di depan ada jalan beraspal. Kami pun lega. Akhirnya. Tapi ini dimana? Kami coba jalan dan ternyata setelah keluar hutan, kami tiba di Ngluyu daerah Nganjuk. Wow jauh banget.
Kami pun harus belajar menerima. Kami menjelajahi aspal yang kurang bagus. Di maps, jarak Ngluyu ke terminal Betek (Gondang-Bojonegoro) sekitar 18 km, tapi itu jika ditempuh melewati Goa Margo Tresno. Tapi, jalannya ternyata enggak memungkinkan. Jadi kami harus lewat rute Rejoso, lumayan jauh. Entah berapa jaraknya. Yang jelas, kami keluar dari warung kopi sekitar pukul 13.00 WIB, dan setelah tersesat di hutan, harus melintasi Ngluyu, Rejoso, Terminal Betek, Temayang, Sumberarum, hingga akhirnya tiba di Kota Bojonegoro, jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.15 WIB. Benar-benar perjalanan yang panjang, sepanjang obrolan kami tentang buku “Range” dan buku-buku lain. Perjalanan dan obrolan yang belum selesai.
Catatan dibuat pada Sabtu 11 Juli 2026









