“Radio itu soal rasa,” begitu kata Iwan Siswoyo seorang penyiar radio yang menjadi narasumber darlam obrolan live TikTok bareng Mastumapel.com. Peralihan dari lagu ke iklan, dan dari iklan ke penyiar, membutuhkan keahlian khusus. Dan tak hanya itu, mengelola radio juga memerlukan rasa cinta mendalam akan dunia keradioan.
Obrolan santai selama 60 menit itu digelar Mastumapel.com dalam program “Obrolan Minggu Malam #2” dengan tema “Dunia Radio dari Analog ke TikTok” pada Minggu (26/7/2026). Tema ini diambil setelah melihat dunia radio yang mampu beradapatasi dengan perkembangan teknologi. Radio tak sekedar bisa didengarkan lewat mesin radio yang biasa ada di mobil dan rumah-rumah. Tapi juga bisa dinikmati lewat streaming dan terbaru lewat TikTok. Bahkan di TikTok, radio bertransformasi tak hanya audio melainkan juga visual. Lebih lengkap.
OMM #2 ini diawali dengan pembacaan buku berjudul “Suara Surabaya Bukan Radio” yang disampaikan oleh Nanang Fahrudin, seorang pembaca buku yang juga Pemimpin Umum Mastumapel.com. Suara Surabaya atau biasa disebut SS, adalah potret radio yang terus adaptif dengan perkembangan zaman. Buku yang diterbitkan pada 2010 tersebut membuka “dapur” SS dalam berbisnis, mengelola ruang redaksi, hingga menjadi ruang publik bagi warga Surabaya.
“Dalam pembacaan saya atas buku itu, ada dua hal penting yang hendak ditunjukkan SS. Pertama soal laku adaptif. Bagaimana SS mampu beradaptasi menjawab tantangan media online yang menyuguhkan berita lewat program Potret-Potret yang berisi features radio. Juga Titik Nol berisi sosok-sosok inspiratif. SS juga masuk ke facebook dengan membuat fanpage e 100,” katanya.
Iwan Siswoyo yang sudah lebih dari 15 tahun lebih berkecimpung di dunia radio berbagi cerita tentang perubahan-perubahan di dunia radio. Menurutnya, era kaset pita yang kemudian ke VCD dan beralih list lagu yang tinggal klik membawa juga perubahan pada penyiar. “Sekarang semua telah dimudahkan. Dulu, penyiar harus benar-benar multitasking. Bahkan, penyiar dituntut untuk merawat suara dengan senam-senam sederhana,” terangnya.
Radio, katanya, sebenarnya mempunyai banyak keunggulan. Lantaran sifatnya yang hanya butuh didengarkan, maka pendengar/penikmat radio bisa sambil melakukan banyak hal. Menyetir sambil dengar radio, memasak sambil dengar radio, dan seterusnya. Berbeda dengan media-media lain seperti koran atau televisi.
Laku adaftif radio, pada perkembangannya memunculkan banyak kreatifitas. Hadirnya TikTok kini banyak dimanfaatkan oleh penyiar atau mantan penyiar untuk tampil dan memiliki brand sendiri. Tidak harus nempel pada perusahaan media. “Radio sebenarnya memiliki semuanya. Podcast itu kan juga basic-nya dimiliki radio. Jadi, kalau sekarang podcast sedang ramai, sebenarnya radio sudah lama melakukan itu, meski hanya lewat audio saja,” kata Prawoto seorang guru yang ikut dalam OMM #2.
Obrolan hangat dengan host Mukaromatun Nisa, tak terasa sudah berlangsung 60 menit. Sebelum ditutup, beberapa ide muncul. Diantaranya perlunya Mastumapel.com membuat Radio TikTok untuk lebih menggaungkan lokalitas Bojonegoro ke publik digital. Juga lembaga-lembaga lain bisa memanfaatkan Radio TikTok untuk gerakan literasi, gerakan ekonomi, dan lain sebagainya.









