Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Ketika Buku Menyebuhkan Luka

Review Buku Book's Kicthen Karya Kim Jee-hye

Nanang Fahrudin
04/03/2026
Ketika Buku Menyebuhkan Luka

Book’s Kitchen karya Kim Jee-hye begitu menarik perhatian. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2025 ini, entah kenapa, dari sampulnya sudah menyuguhkan aroma ketenangan. Dominan warna hijau dan biru. Apalagi, secara pribadi, aku sejak lama terobsesi dengan buku. Kafe buku, dapur buku, warkop buku, dan segalama macamnya. Sebagaimana impianku, mempunyai kafe buku.

Book’s Kitchen, sebagaimana sinopsis di sampul belakang buku, berkisah tentang Yu-jin yang menjual perusahaan startup nya dan membeli tanah, lalu membuka Soyang-ri Book’s Kitchen. Soyang-ri adalah nama sebuah desa di Korea, tempat yang diceritakan penulis. Tempat ini perpaduan antara perpustakaan, kafe, dan penginapan. Ada kegiatan membaca bersama hingga menulis surat untuk diri sendiri.

Tapi, jika Anda lantas hendak mencari bagaimana hidup Yu-jin dan alasan-alasannya mendirikan Soyang-ri Book’s Kitchen, Anda tak akan mendapatkannya secara detail. Karena buku ini lebih banyak menceritakan tentang orang-orang yang datang ke Book’s Kitchen dan mendapatkan senyumnya kembali. Hampir tiap bagian (bab) bercerita tentang orang berbeda, dengan segala cerita hidupnya. Tapi, orang-orang dalam cerita, adalah sama-sama tamu dari Soyang-ri Book’s Kitchen atau para karyawan Soyang-ri.

Lalu seperti apa buku Soyang-ri Book’s Kitchen? Ada banyak cara menikmati buku ini. Tapi saya lebih memilih melihat dari perspektif tautan antara buku dan kesehatan mental. Dan ini sangat relate dengan kondisi generasi kini, yang konon rapuh dan mudah terombang ambing.

Dalam novel ini tidak ada cerita satu tokoh yang mendalam. Dari sekian banyak tokoh mengalir cerita hidup mereka. Cerita hidup yang sedih, kelam, penuh persaingan, kehilangan diri sendiri, dan seterusnya. Dan semua kembali menjadi “normal” dengan buku dan lingkungan ramah yang dihadirkan oleh Soyang-ri Book’s Kitchen.

Sebut saja satu contoh kisah Ma-ri. Ia mengidap Ripley Syndrome, sebuah kondisi psikologi seseorang yang anti sosial, tak peduli perasaan orang lain. Ia merasa memiliki identitas orang lain, sedang identitasnya sendiri dipendam. Ia tak bisa menjadi diri sendiri. Penyebabnya bisa dibentuk oleh tuntutan sekeliling sejak kecil. Singkat kisah, Ma-ri “tersesat” ke Soyang-ri Book’s Kitchen dan menemukan keheningan, kewajaran, dan ternyata mengembalikan dirinya sendiri. Ia merasa kembali menjadi “manusia” ketika membaca buku, berdiskusi, dan menulis.

Ada juga Su-hyeok, anak orang kaya raya. Ia tumbuh dalam bingkai keemasan keluarga, namun sebenarnya rapuh dan merasa kalah. Obsesinya menolak meneruskan perusahaan ayahnya dan menjadi diri sendiri. Namun, ternyata ia selalu kalah di dunianya dan akhirnya harus menerima pekerjaan di perusahaan ayahnya. Ia menjalani semua seperti robot. Dan ketika berada di Book’s Kitchen, ia “sembuh” dan merasa berada di rumahnya, lupa bercukur, makan makanan rumahan dan menjadi “liar” seperti anak-anak. Selain nama-nama itu, ada So he, Da’i atau Diane, dan beberapa nama yang kemudian menjadi diri sendiri ketika berada di Book’s Kitchen.

Tapi, bagaimana bisa buku mengobati luka? Buku ini memang tidak memberi jawaban eksplisit. Namun, dari sekian banyak cerita yang dihadirkan dalam buku ini, kita bisa mendapatkan jawabannya. Bahwa setiap kata yang ditulis dalam buku adalah butiran-butiran energi positif yang membawa psikologi pembaca pada kestabilan berpikir. Apalagi membacanya di Soyang-ri, sebuah desa yang tenang dan tidak berisik seperti di kota besar.

Masih banyak sosok-sosok yang dihadirkan dalam buku ini. Dan Anda bisa berkenalan langsung dengan mereka lewat membacanya. Penulis buku ini adalah lulusan jurnalisme dan penyiaran, lalu bekerja di perusahaan IT dan resign di masa covid-19, kemudian melanjutkan karier sebagai penulis.

Saya semakin yakin bahwa buku tak sekedar kata-kata dijilid, melainkan sebuah energi besar yang bisa mengubah jalan hidup seseorang. Buku bisa menyembuhkan luka. Selamat membaca!

Tags: Baca BukuBook's KitchenBukuPsikologi
Previous Post

Makna Jajan Pasar di Tradisi Wetonan atau Tironan

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Majapahit Berusia 184 Tahun, Ini Urutan Nama Raja-Rajanya Sesuai Tahun

Majapahit Berusia 184 Tahun, Ini Urutan Nama Raja-Rajanya Sesuai Tahun

19/02/2026
29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

29 Kosakata Jawa Paling Populer di Bojonegoro Masa Lalu, Bagaimana Kini?

09/02/2026
Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

Wawancara Khusus dengan John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Lagu Wajib Para Demonstran 

26/02/2026
Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

Bukan Mobil Tua, Hanya Beda Tahun Saja

05/02/2026
Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

Konser Intimate Banda Neira Berjalan Lebih Jauh, Melangkah untuk Sembuh

06/02/2026
Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

Sunan Gunung Jati dan Benang Merah Sejarah Demak, Cirebon, dan Banten

08/02/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023