Konsep jawa: karang kitri, mungkin saja kurang dikenal kini. Namun, konsep ini sebenarnya telah menjadi budaya turun temurun. Karang kitri merupakan gagasan di mana masyarakat jawa tradisional dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri (keluarga), mengelola pekarangan sekitar rumah. Yakni dengan menanam sayuran, beternak ayam skala rumahan, ternak kambing, kelinci, kolam ikan, dan lainnya.
Pada era kisaran tahun 1970-1990 an, budaya karang kitri ini masih sangat kental. Rumah-rumah di perkampungan hampir tidak ada pagar besi, kayu ataupun tembok. Warga lebih senang memagari rumahnya dengan tanaman. Sebut saja tanaman luntas, kenikir, atau kemangi, yang pucuk-pucuk daunnya bisa dimanfaatkan untuk kuliner. Bisa untuk isian sayur, bothok, atau urap.
Pohon kelapa tumbuh di pekarangan rumah, menjulang tinggi. Warga mengolahnya untuk aneka keperluan masakan. Sebagian juga dipakai untuk membuat minyak kelapa. Sedang pohon asam jawa dijadikan pohon pinggir jalan yang buahnya banyak rontok. Anak-anak kecil akan memungutnya dan memakannya. Sementara di belakang rumah, aneka umbi-umbian tumbuh lebat, mulai ganyong, kerut, ketela, singkong, uwi, dan entah apa lagi namanya.
Pohon-pohon sekitar rumah, hampir semua adalah tanaman konsumsi. Mulai pisang, nangka, mangga, jeruk, jambu, juwet, dan banyak lagi. Sementara sawah ditanami padi untuk konsumsi hingga masa panen berikutnya. Tak heran jika masyarakat tradisional dulu memiliki lumbung padi, semacam tempat khusus untuk menyimpan padi. Tempat seperti ini, di masyarakat modern masih ada, namun didesain dengan kawat jaring atau langsung memakai tembok untuk menghindari tikus.
Akan tetapi, konsep karang kitri ini, seiring berjalan waktu dan berubahnya pola produksi dan konsumsi masyarakat, maka karang kitri mulai menghilang. Tak hanya konsepnya yang tak dikenal, tapi budaya karang kitri juga mulai hilang. Masyarakat desa mulai meninggalkan cara hidup menyatu dengan pekarangan. Rata-rata, pekarangan rumah dipasang paving block, dengan pagar tinggi. Bahkan tanaman kemangi-pun sulit untuk tumbuh. Meski, memang halaman akan lebih tampak rapi dan bersih.
Dalam konteks modern, sebenarnya ada konsep sustainable livehood (SL). Konsep ini berpusat pada pendekatan mata pencaharian masyarakat dengan menempatkan orang (people) sebagai pusatnya. Cara pandang sama, yakni bagaimana masyarakat menggerakkan ekonomi pangan keluarga dari hal-hal yang sangat dekat dengan keluurga tersebut. Dengan kata lain, konsep ini menawarkan pada pemanfaatan kekayaan lokal.
Kembali ke karang kitri, bahwa kita perlu untuk mengembalikan kepercayaan diri, bahwa kita memiliki budaya yang cukup cerdas untuk mengatasi tantangan kemandirian pangan. Masyarakat tradisional telah membuktikan itu berpuluh-puluh tahun. Dan sayang, masyarakat kini jarang yang melihat bahwa karang kitri menawarkan cara hidup yang berorientasi pada keberlanjutan.
Salam Bumi Subur!








