Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Sastra

7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga Cara Melihat Semesta

Mukaromatun Nisa
08/04/2026
7 Pelajaran Usai Nonton Na Willa, tentang Pola Asuh hingga  Cara Melihat Semesta

Menonton Na Willa bukan hanya soal hiburan pasca lebaran, tapi tentang belajar banyak hal, bagaimana menghadapi anak, menjadi orang tua, guru dan sesekali mencoba melihat semesta menggunakan sudut pandang anak-anak.

Na Willa memang disebut sebagai novel dan film anak-anak, tapi ternyata, setelah menontonnya, film ini cocok untuk semua kalangan. Terutama para orang tua. Marie, emak Na Willa, punya gaya didik ala 60an yang ternyata masih sangat realeted dengan kondisi sekarang. Berikut ini beberapa catatan sederhana setelah menonton film yang diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo tersebut.

Belajar dari Mak tentang Pola Asuh Anak

Pertama, Mak mengajarkan Willa perihal jujur. Kata Mak, jika seseorang berbohong, maka akan ada batu kerikil di dalam sepatunya. Semakin banyak berbohong, semakin banyak batu kerikil di dalam sepatu. Jalan pun menjadi susah. Sebaliknya, jika seseorang jujur, langkahnya akan ringan. Ia bisa berjalan tenang, berlari bahkan menari.

Kedua, Mak menumbuhkan minat membaca Willa sejak kecil. Meski belum bisa membaca, hari-hari Willa bahagia dengan mendengar cerita dari buku-buku yang Mak bacakan. Buku-buku yang dikirim Pak jauh di sana, di atas lautan, tempat bekerjanya Pak.

Ketiga, Mak mengajari Willa soal proses. Pelan-pelan, Mak mengajari Willa membaca. Dimulai dari huruf vokal. Mak sendiri yang menulis di selembar kertas, menempelkannya di dinding kamar Willa dan meminta Willa menirukannya. Mak juga menggunakan trik perumpamaan agar Willa mudah paham. Seperi huruf b kecil lengkungannya di belakang karena b menunjukkan belakang. Sedangkan huruf d kecil lengkungannya di depan karena d menunjukkan depan.

Keempat, Mak mengajari Willa soal tanggungjawab. Jika ingin sekolah, kata Mak, Willa harus bisa bertanggungjawab, merawat ayam Kuning Kecil Sekali dengan memberinya makan misal. Willa juga harus menurut pada bu guru dan mau bermain dengan banyak teman lagi di sekolah.

Kelima, meski Mak selalu menyenangkan, tapi dia tidak pernah segan menghukum Willa ketika berbuat salah. Misalnya saat ia mencuri seprai putih di jemuran dan diseret hingga sangat kotor ke rumah Farida untuk ikut shalat Magrib. Mak tidak marah sebab Willa ikut shalat meski mereka beragama Kristen. Toh, yang Willa pahami ia hanya ingin terus bersama Farida kawan baiknya. Mak marah karena Willa membuat sprei yang baru dicuci Mbok Tun menjadi kotor. Sebagai hukuman, keesokan harinya Willa disuruh membantu Mbok Tun mencuci seprei dan tidak ikut Mak ke pasar.

Keenam, Mak mengajarkan komunikasi pada Willa menggunakan Bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. Alternatif itu disepakati Pak dan Mak sebab keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda. Aturan itu harus terus Willa jalankan, jika saja Willa keliru menyebut antara kami dengan kita, Mak akan meminta Willa membetulkannya.

Ketujuh, Mak menjadi pendengar yang baik. Mak selalu duduk saat Willa bicara agar mata mereka bisa saling tatap. Mak membuat anak-anak setara dalam obrolan. Mak mendengar dengan seksama cerita Willa, baru memutuskan jawaban apa yang pas menggunakan bahasa anak-anak atau hukuman apa yang setimpal untuk membuat Willa jera.

Poster Na Willa di Bioskop New Star Cineplex Bojonegoro/Foto: Nisa

Cara Mak dan Pak Merawat Hubungan

Paul, Pak Na Willa selalu berpakaian rapi, tinggi semampai, berkulit putih, beramput lurus-kaku, bermata sipit dan punya lesung pipi. Sedangkan Mak, berkulit cokelat, tinggi Mak hanya setelinga Pak, Mak punya senyum yang manis dan rambutnya belok-belok bergelombang.

Memiliki dua bahasa yang tentu berbeda, maka Mak dan Pak sepakat menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sara komunikasi sehari-hari. Ada beberapa hal yang dilakukan Pak dan Mak dalam merawat hubungan dan yang paling penting adalah komunikasi.

Pak rajin mengirim surat untuk Mak dan buku-buku untuk Na Willa. Mak pun tak kalah rajin membalas surat Pak. Mereka bercerita soal kabar dan masalah apa yang dihadapi untuk saling diskusi menemukan solusi.

Seperti saat Pak ada masalah di kerjaan, atau saat Mak curhat perihal kaki Dul, teman Na Willa, yang lepas tertabrak kereta.

Terkadang, seseorang berpikir tidak baik mengirim kabar buruk pada keluarga atau pasangan di jauh sana, ceritalah ketika pulang. Namun, bagi Mak dan Pak, semua rasa harus dijalani bersama, entah suka pun duka. Mereka tidak terbebani, justru dengan berkabar, mereka mendapat pemikiran yang segar untuk melewati badai.

Mak dan Pak juga pandai memanfaatkan waktu bersama. Saat Pak pulang, mereka akan berdansa di ruang tengah. Sesekali berdiskusi sambil tubuh mereka ke sana ke mari. Pak dan Mak adalah potret pasangan dan orang tua yang hangat.

Perbedaan Menurut Anak-anak

Bagi Na Willa, Farida, Dul dan Bud, empat kawan sepermainan, perbedaan adalah hal yang menyenangkan. Mereka saling melengkapi, bertukar pengetahuan, bermain dan sesekali mengejek. Seperti memanggil Falida sebab Farida tidak bisa bilang R meski ia lebih suka dipanggil Ida.

Mereka berempat tidak dibatasi ras, suku maupun kepercayaan. Na Willa boleh saja ikut Farida mengaji asal tidak menganggu. Farida pun boleh saja ikut menghias pohon natal di rumah Willa.

Namun, saat Na Willa pertama kali bersekolah, tidak semua anak memahami perbedaan dan bisa jadi tidak semua orang tua mengajarkan bahkan seorang guru pun. Mereka menyebut Na Willa sebagai asu cino, adegan yang membikin saya syok ketika melihatnya.

Bu Tini, guru Na Willa juga memberikan perlakuan yang berbeda. Willa tidak diberi dibuku dengan alasan ia merupakan anak baru. Bu Tini juga tidak percaya saat Willa bilang bisa baca-tulis dan membuktikannya di papan tulis.

Bahkan, saat Na Willa diejek asu cino atau ketika ia membalas tendangan teman sebangkunya, Bu Tini justru menjewernya, menyalahkannya. Na Willa pun menginjak kaki Bu Tini, menangis dan lari pulang.

Bahkan seorang guru pun, ada yang tidak harus digugu lan ditiru. Bahwa tidak semua sekolah memberikan ruang nyaman dan aman untuk bertumbuh dan berkembang.

Duka di Mata Anak-anak

Adegan Dul dengan kaki barunya bersama Na Willa menyanyikan lagu Sikilku Iso Muni/Foto: Nisa

Dul yang ingin sekali mengejar kereta harus kehilangan satu kakinya saat melancarkan aksi. Namun, saat memiliki kaki baru dari kayu, Dul tidak bersedih, ia justru sangat bahagia. Menurutnya, ia makin perkasa.

“Sikilku ora iso dijiwit, Willa.” Begitu kata Dul bangga.

Ia optimis pasti bisa menang lomba lari. Ia juga tidak akan merasa gatal lagi sebab nyamuk tidak mampu menggigit kakinya. Ajaib lagi, kakinya bisa berbunyi dan dapat dipakai menyanyi.

“Sikilku iso muni, Willa,” ucap Dul bersemangat.

Bernyanyilah mereka diiringi musik-musik dari rumah sakit, suara tetes infus, alat pengecek tekanan darah, pena yang menggores kertas, langkah kaki perawat dan decit kursi roda. Duh, betapa gembiranya mereka menyanyikan Lagu Sikilku Iso Muni.

Betapa semangatnya mereka meneruskan hidup yang penuh anugrah. Berbeda sekali dengan duka di mata orang dewasa. Bahkan saat orang dewasa tertinggal angkutan umum pun mereka sudah merasa sial.

Mata anak-anak punya cara berbeda dalam memandang hidup dan semesta, dan sesekali, orang dewasa pun perlu ikut melakukannya.

Pemilihan Ornamen yang Penuh Warna

Selain pengajaran hidup yang dibungkus sederhana dan ceria, pemilihan warna-warna bahkan tokoh di Na Willa turut memanjakan mata. Sosok yang berperan amat mirip dengan ilustrasi di novelnya. Mereka seakan keluar dari buku bersampul merah itu.

Detail-detail kecil juga sangat diperhatikan, seperti di mana letak meja makan, apa saja isinya, di mana jemuran baju, dapur, bagaimana warna tembok dan semua tempat di film itu termasuk pasar. Bahkan di toko kelontong Cik Mien, semua dagangannya bercap ala 1968. Seperti minuman Oranye Cruz yang diminum nyekruz.

Saat berbelanja pun semua orang membawa kantong belanja masing-masing. Cik Mien membungkus kacang-kacangan, gula merah dan dagangan yang lain pun pakai selembar kertas dan kantong dari kertas. Plastik tahun itu ternyata cukup mahal dan tampaknya sangat seru sebab sehat untuk lingkungan.

Baju-baju tokoh juga warna-warni dan menggemaskan. Warna-warna yang hidup itu rasanya bikin mata berbinar dan rasa bahagia pun berdatangan, banyak sekali.

Tags: Novel AnakReda GaudiamoReview Film Na Willa
Previous Post

Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

Next Post

Setyo Wahono: Pers Berperan Membangun Daerah

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono: Guru Harus Berjiwa Mendidik, Bukan Mengajar

07/04/2026
Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

Konser Intimate Bagus Dwi Danto di Bojonegoro, Pertama Kali Bawakan Lagu dengan Formasi Band

08/04/2026
Peringati Hari Perempuan Sedunia 2026, AJI Bojonegoro Gelar Aksi Turun Jalan

Peringati Hari Perempuan Sedunia 2026, AJI Bojonegoro Gelar Aksi Turun Jalan

14/03/2026
Posisi Hilal Penentu Awal Syawal 1447 H

Posisi Hilal Penentu Awal Syawal 1447 H

18/03/2026
Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

Bupati Setyo Wahono: Perlu Membangun Identitas Bojonegoro

25/03/2026
Bojonegoro Book Party Pertemukan Para Pembaca Buku di Taman Lokomotif

Bojonegoro Book Party Pertemukan Para Pembaca Buku di Taman Lokomotif

12/04/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023