“Ayo ngopi”
“Piye nek mancing terus goreng-goreng”
“Ok, saiki?”
“Ojo leh, besok bar jemahan piye?”
“Yo oke”
Obrolan di sela-sela mengikuti acara sarasehan 44 tahun usia Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB) itu berlanjut. Jumat, 24 Juli 2026, selepas sholat Jumat, kami siap memegang walesan pancing. Kolam ikan di belakang rumah kawan yang seorang jurnalis senior itupun menjadi sasaran.
Kami berempat pun menyiapkan “pesta” besar. Tuan rumah sepertinya tidak yakin dengan kemampuan kami memegang stik pancing. Sehingga, pagi hari ia telah memancing dan menyiapkan beberapa ekor ikan patin dan bawal. Ketika kami datang, ikan itu telah dibumbui dan siap digoreng.
Tapi, kami tetap ingin konsisten pada rencana. Kami mau mancing. Tapi tak ada cacing, dan cuilan tempe okelah. Sekali senar dilempar, tak ada ikan yang tertarik. Aku sendiri babar blas ga pernah pegang stik pancing. Paling-paling sewaktu kecil dulu mancing di kali yang lanjut bluron. Tapi, nasib baik, 2 ekor ikan nyatol di kail. “Patin lagiiiii,” teriakku.
Agar tak terlalu lama, aku kemudian membantu di dapur. Patin dan bawal ada di penggorengan. Sambal tinggal diulek. Aku pun langsung ngulek sambal terasi yang aroma menggoda. Di sini aroma sambal, di dapur aroma ikan digoreng. Hmmmm…..
Makan besar pun siap. Ikan patin dan bawal goreng. Sambal terasi. Tempe tahu goreng. Lalapan terong ungu goreng. Kerupuk. Buah semangka. Dan tentu saja, kopi telah siap. Tanpa banyak kata, tangan dan mulut kami yang kemudian banyak bercerita, menikmati makan besar di siang yang lumayan panas.

Usai makan, obrolan mengalir tanpa tema. Mulai obrolan tentang dunia jurnalis di Bojonegoro masa lampau, sesekali ngobrol tentang anak, dan tentu saja tentang buku. Aku mengusulkan ide, bagaimana kalau kawan jurnalis itu mengumpulkan hasil liputannya yang bergaya features. Pasti banyak dan menarik. Apalagi tema liputannya begitu beragam dan menarik.
Salah satu tema liputan yang diceritakan adalah penelusurannya atas tokoh Kartosuwirjo, juga Sam Kamaruzzaman. Juga liputan-liputan penduduk pelosok Kupang-NTT tentang kekeringan. Kawan ini bercerita bagaimana perjalanan ke sana hanya bisa ditempuh dengan motor dan jaraknya 100 km lebih. Saking ngantuknya, ia diikat pakai sabuk menyatu dengan pengendara motor, warga setempat yang mengantarkannya. Mirip kalau membonceng anak kecil agar tak terlepas.
“Wah ya menarik, coba aku kumpulkan tulisan-tulianku,” katanya.
Sambil ngobrol, tangan kami aktif bergerak mengambil potongan-potongan semangka yang segar. Tanpa terasa, semua ludes sudah masuk ke perut. Kopi cangkir kami seruput. Semakin nikmat. Dan kami harus pamit. Aku masih ketiban rejeki. 2 ekor ikan patin diminta kubawa pulang, untuk melanjutkan pesta pora makan besar.
Terimakasih untuk semua!









