Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Selatan

Merayakan HUT ke-81 RI, Ketika Lagu Indonesia Raya Menggema di Antara Pohon Jati Hutan Temayang

Prawoto
17/08/2026
Merayakan HUT ke-81 RI, Ketika Lagu Indonesia Raya Menggema di Antara Pohon Jati Hutan Temayang

Senin, 17 Agustus 2026. Ada banyak cara merayakan kemerdekaan. Di pusat kota Bojonegoro, puncak perayaan dipusatkan di alun-alun dengan menggelar upacara bendera. Sebanyak 75 paskibraka berbaris rapi, ada marching band, dan atraksi-atraksi lain yang memukau. Meriah dan penuh makna.

Tapi, bukan berarti di daerah pinggiran hutan, yang berjarak puluhan kilometer dari pusat kota, nyala semangat kemeriahan merayakan HUT ke-81 RI lantas sepi. Tidak. Kemeriahan HUT RI tetap menyala.

Pagi itu, sekitar pukul 05.30 WIB, saya berangkat dari Bojonegoro menuju Desa Soko, Kecamatan Temayang. Rencananya, saya ikut upacara HUT RI. Perjalanan menuju wilayah pinggiran hutan Temayang itu tidaklah mudah. Jalan yang menembus kawasan hutan, kontur tanah yang naik-turun, serta kondisi geografis pegunungan menjadi bagian dari perjalanan menuju tempat upacara.

Sudah sekitar sebulan, saya ditugaskan di SMP Negeri Satu Atap Soko. Karena itu, pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini, saya memilih untuk mengikuti upacara bersama masyarakat Desa Soko. Upacara dipusatkan di Lapangan Dusun Guyangan, Desa Soko.

Guyangan merupakan salah satu dusun yang berada di bagian tengah kawasan Desa Soko. Wilayah Desa Soko sendiri terbentang dalam kawasan pedalaman yang secara geografis tidak sepenuhnya menyatu karena beberapa dusunnya dipisahkan oleh hutan dan perbukitan.

Dari kawasan Desa Soko ke arah utara terdapat Guyangan, kemudian Sekonang dan Sekidang, dan lebih ke utara lagi terdapat Gingsem. Kawasan ini berada di sisi timur Waduk Pacal dan untuk mencapainya harus memasuki wilayah perbukitan dan hutan.

Di lapangan sederhana, di Dusun Guyangan itulah upacara kemerdekaan digelar. Lapangan Guyangan sendiri sebenarnya merupakan lapangan bola voli. Bagian tengahnya relatif datar, sementara bagian lain mengikuti kondisi kontur tanah. Di belakang pembina upacara, peserta langsung berhadapan dengan bentang alam perbukitan dan hutan dengan pepohonan jati. Tidak ada panggung megah. Tidak ada lapangan upacara yang luas dan sempurna. Namun justru dalam kesederhanaan itu, suasana upacara terasa begitu khidmat dan syahdu.

Para peserta upacara diantaranya para siswa. Terdapat regu-regu siswa SD dari SDN Soko 1, SDN Soko 2, SDN Soko 3, dan SDN Soko 4, kemudian siswa SMP Negeri Satu Atap Soko. Di sisi lainnya hadir perangkat desa, BPD, RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, ibu-ibu PKK, Karang Taruna, Sinoman Desa, serta masyarakat dan para orang tua yang mengantar anak-anak mereka.

Empat perguruan silat yang hidup di tengah masyarakat Soko juga turut menjadi bagian dari upacara. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa upacara kemerdekaan bukan hanya kegiatan sekolah dan perangkat desa, melainkan menjadi ruang bersama bagi berbagai unsur masyarakat desa.

Petugas upacara pun berasal dari berbagai unsur. Perangkat desa mengambil peran dalam beberapa bagian, termasuk ajudan dan unsur kepanitiaan. Pemimpin upacara berasal dari guru SD yang juga memiliki latar belakang sebagai guru olahraga. Pembawa acara, pembaca doa, pembaca teks Undang-Undang Dasar, dan petugas lainnya berasal dari para pemuda dan alumni desa yang telah menyelesaikan pendidikan SMA.

Untuk kelompok paduan suara, guru-guru dari SDN Soko 1, 2, 3, dan 4 bergabung bersama guru-guru SMP Negeri Satu Atap Soko. Namun ada satu bagian yang menurut saya paling menarik: Pasukan Pengibar Bendera.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi geografis pedalaman, Desa Soko tetap menghadirkan Paskibra. Anggotanya adalah siswa-siswi SMP Negeri Satu Atap Soko. Mereka mendapat latihan khusus dari guru SMP Negeri Satu Atap Soko, termasuk guru Matematika dan guru Bahasa Indonesia.

Paskibra ini bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu atau sekadar memberikan dispensasi kepada siswa dari pembelajaran. Latihan Paskibra ditempatkan sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler. Sementara siswa yang tidak terpilih sebagai anggota Paskibra tetap mendapatkan pembelajaran baris-berbaris dan pembinaan kedisiplinan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni. Ada proses pendidikan di dalamnya: kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, ketelitian, dan rasa memiliki terhadap lingkungan sosial tempat mereka tumbuh.

Bagi saya, ini adalah bentuk pendidikan yang sangat kontekstual. Sekolah tidak berdiri sendiri. Sekolah menjadi bagian dari kehidupan desa. SMP Negeri Satu Atap Soko, sebagai satu-satunya sekolah jenjang SMP di kawasan pedalaman tersebut, mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat melalui cara yang nyata. Anak-anak yang biasanya belajar di ruang kelas mendapat kesempatan untuk berdiri di tengah masyarakat, mengambil tanggung jawab, dan menunjukkan bahwa mereka juga mampu menjadi bagian penting dari sebuah peristiwa desa.

Ada pula sisi sederhana yang justru membuat upacara ini terasa manusiawi. Ukuran bendera yang digunakan cukup besar dibandingkan dengan jangkauan tubuh para siswa SMP yang bertugas sebagai Paskibra. Ketika tiba saatnya membentangkan bendera, diperlukan usaha yang lebih besar. Gerakannya tidak selalu sesempurna pasukan pengibar bendera di Istana Negara.

Namun di situlah letak keindahannya. Mereka tidak sedang berlomba menjadi sempurna. Mereka sedang belajar menjalankan tanggung jawab. Dan ketika Sang Merah Putih akhirnya berkibar di lapangan kecil di pinggir hutan itu, rasanya tidak ada yang kurang dari makna kemerdekaan.

Lagu Indonesia Raya Menggema di Antara Pohon Jati

Upacara berlangsung dengan sederhana. Lagu Indonesia Raya, Hari Merdeka, Syukur, serta lagu-lagu perjuangan lainnya menggema di antara bukit dan pepohonan jati. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika lagu-lagu kemerdekaan dinyanyikan dalam suasana seperti itu. Bukan di lapangan kota yang luas. Melainkan di sebuah lapangan kecil di pinggir hutan, dengan tanah yang tidak sepenuhnya rata, dikelilingi bukit dan pepohonan, sementara anak-anak desa berdiri tegak di hadapan Sang Merah Putih.

Di sini, kemerdekaan bukan sekadar perayaan pada 17 Agustus. Kemerdekaan adalah ketika anak-anak di kawasan hutan memiliki ruang untuk berdiri, belajar, tampil, dan dipercaya. Kemerdekaan adalah ketika sekolah dan desa tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan.

Di Guyangan, di Desa Soko, di pedalaman Kecamatan Temayang, Merah Putih tetap berkibar. Tidak semegah di Istana Negara. Tidak seramai di pusat kota. Tetapi ia berkibar dengan cara yang penuh makna.

Makan Bersama: Merawat Keguyuban Usai Upacara

Yang tak kalah menarik dari rangkaian peringatan kemerdekaan di Desa Soko adalah momen makan bersama. Setelah seluruh rangkaian Pemerintah Desa Soko menyediakan makanan berupa nasi. Para siswa, para pemuda, dan anggotanya Perguruan mendapatkan makanan. Para petugas, para guru, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama diajak makan bersama sederhana, tetapi terasa hangat.

Makan bersama itu menjadi bentuk ungkapan terima kasih Pemerintah Desa Soko kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Lebih dari sekadar makan, momen tersebut menjadi ruang untuk merawat keguyuban. Orang-orang yang sejak pagi berdiri dalam barisan upacara, menjalankan tugas masing-masing, mengatur jalannya kegiatan, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, hingga para siswa yang bertugas sebagai Paskibra.

Saya melihat bahwa peringatan kemerdekaan di pedalaman bukan semata-mata tentang seremoni pengibaran bendera. Ia juga tentang bagaimana sebuah desa membangun rasa memiliki, merawat hubungan sosial, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong.

Barangkali inilah wajah kemerdekaan yang sederhana, tetapi sesungguhnya sangat fundamental: kemerdekaan yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Di tengah keterbatasan fasilitas, Desa Soko menunjukkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak selalu ditentukan oleh kemewahan tempat dan besarnya acara. Ia tumbuh dari kesediaan untuk hadir, mengambil peran, bekerja bersama, kemudian duduk bersama sebagai sesama warga.

Dari lapangan kecil di pinggir hutan itu, kemerdekaan akhirnya tidak hanya dikibarkan melalui Sang Merah Putih. Ia juga hadir melalui kebersamaan.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

___

*) Prawoto adalah Kepala SMPN Satu Atap Soko, Temayang, Bojonegoro

Tags: BojonegoroHUT RIHutan Temayang
Previous Post

Kapan Bojonegoro Ikut Mengikrarkan Kemerdekaan Indonesia?

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Merayakan HUT ke-81 RI, Ketika Lagu Indonesia Raya Menggema di Antara Pohon Jati Hutan Temayang

Merayakan HUT ke-81 RI, Ketika Lagu Indonesia Raya Menggema di Antara Pohon Jati Hutan Temayang

17/08/2026
Logo Bodjonegoro Dulu dan Kini, Catatan Singkat Sejarah

Kapan Bojonegoro Ikut Mengikrarkan Kemerdekaan Indonesia?

17/08/2026
Obrolan Minggu Malam Mastumapel: Ke Mana Arah Jalan Radio di Era TikTok?

Obrolan Minggu Malam Mastumapel: Ke Mana Arah Jalan Radio di Era TikTok?

27/07/2026
Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

12/08/2026
Mengenal Sosok Titie Said, Jurnalis dan Novelis asal Bojonegoro yang 2 Periode Pernah Jadi Ketua LSF

Mengenal Sosok Titie Said, Jurnalis dan Novelis asal Bojonegoro yang 2 Periode Pernah Jadi Ketua LSF

20/07/2026
Mancing, Ngopi, Ngulek Sambel, dan Makan Besar

Mancing, Ngopi, Ngulek Sambel, dan Makan Besar

26/07/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023