Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Timur

Sunan Blongsong: Mengasingkan Diri Karena Ada Konflik di Kerajaan

Nono Warnono
07/09/2026
Sunan Blongsong: Mengasingkan Diri Karena Ada Konflik di Kerajaan

Makam Sunan Blongsong/Foto: Nono Warnono

Masuknya Islam di Bojonegoro tak lepas pula dari pengaruh wilayah timur yakni Kecamatan Baureno. Sunan Blongsong menjadi bukti adanya pergerakan penyebaran Islam. Menurut sumber catatan di buku Bunga Rampai Sejarah Bojonegoro, pada abad ke-17, Kadipaten Jipang yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan Yogjakarta terbagi atas tiga wilayah. Yakni wilayah barat di Padangan, tengah di Rajekwesi, dan timur di Bahuwerno atau Bowerno (Baureno).

Eksistensi Baureno di masa lampau juga diperkuat tulisan J. Nordyun yang berjudul “Further Topographical Notes on The Ferry Charter of 1358, with Appendices on Djipang and Bodjanegara” dalam Bijdagren of De Tol Land end Volkenkunde 124, 1968 nomor 4 halaman 474.

Disebutkan bahwa pada masa masuknya pemerintahan Inggris di tengah kolonialisme Belanda, Jipang yang semula di bawah kekuasaan Kesultanan Yogjakarta bergabung dengan Kabupaten Rembang pada Januari 1816. Adapun pusat administrasi sempat dipindahkan ke Bowerno. Meski begitu, bukti sejarah akan peradaban masa lampau di Baureno tergolong minim dan sulit ditemukan. Namun adanya makam Sunan Blongsong cukup sebagai bukti peradaban masa lampau, khususnya pergerakan serta penyebaran Islam di ujung timur Bojonegoro.

Sunan Blongsong memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di Baureno. Ditengarai Sunan Blongsong juga merupakan orang pertama yang mengajarkan dan menyebarkan Islam di daerah Blongsong dan sekitarnya. Sosok Sunan Blongsong yang juga memiliki nama lain Banu Sumitro itu menurut juru kuncinya, Mohamad Syafii, masih minim rujukannya. Informasi yang didapat dari penuturan juru kunci sebelumnya. Tidak ada bukti peninggalan bersejarah berupa benda maupun tertulis.

Juru kunci Mohamad Safii yang juga Ketua Pengurus Ranting Blongsong MWC NU Baureno menceritakan, kedatangan Sunan Blongsong ke Desa Blongsong diperkirakan sekitar tahun 1600-an. Ki Banu Sumitro atau Sunan Blongsong berasal dari kerajaan Mataram Islam yang sedang dalam rangka mengasingkan diri karena ada konflik internal di kerajaan. Terkait dengan perpecahan antara pihak yaang pro dan anti Belanda.

Sunan Bonang termasuk pihak yang anti pemerintahan Belanda, sehingga ketidakcocokan dan adanya pergolakan di dalam kerajaan membuatnya memilih untuk mengasingkan diri sekaligus menyebarkan agama Islam.

Masjid dan Istana Kecilnya Terbakar

Lokasi makam Sunan Blongsong/Foto: Nono Warnono

Sunan Blongsong punya cara tersendiri dalam menyebarkan agama Islam. Perjuangannya cukup berdampak dalam mengajarkan dan menyebarkan Agama Islam. Memang Mbah Sunan berniat untuk untuk mrnyebarkan agama Islam. Sebab dipercaya beliau juga merupakan putra dari Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga memang tidak asing, sebab termasuk wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Terlebih ikhtiar tersebut memang sesuai dengan akulturasi budayanya. Versi asal usul dan nama asli Sunan Blongsong beragam. Salah satunya menyebutkan Sunan Kalijaga memerintahkan salah satu putranya bernama Raden Said Murdonegoro untuk menjadi bupati di Kabupaten Bowerno. Sehingga sosok tersebut memiliki gelar Kanjeng Adipati Banu Sumitro. Adapun pusat penerintahannya berada di Dusun Sayang Desa Blongsong.

Kembali ke kisah jejak kedatangannya, Sunan Blongsong tidak sendirian. Namun datang bersama delapan orang. Terbukti di dalam kompleks makam Sunan Bonang terdapat sembilan orang bersemayam. Sebagai pembeda, makam Sunan Blongsong dibalut kain kafan putih. Masih menurut juru kunci, setibanya di Desa Blongsong, Sunan Blongsong segera mendirikan kediaman atau istana kecil beserta masjid di depannya. Masjid tersebut menjadi pusat kegiatan untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat sekitar.

Perihal masyarakat sudah atau belum menganut Islam saat itu? Yang pasti Sunan Blongsong sudah menjadi sosok yang memiliki pengaruh dalam perkembangan Islam di Desa Blongsong dan sekitarnya. Masyarakat sekitar datang bebondong-bondong ke masjid tersebut untuk belajar Islam. Sudah barang tentu tempat tersebut menjadi saksi saat Sunan Blongsong memberikan wejangan tentang Islam.

Namun sayang, karena pergerakannya yang melawan Belanda, masjid dan istana kecilnya tempat berdakwah hangus terbakar. Dan bukti peninggalan bersejarahnya saat ini tidak dapat ditilik dan ditapaktilasi. Yang sedikit tersisa di lokasi hanya empat tiang pendek yang diduga merupakan bekas bangunan masjid. Masjid dan kediaman Sunan Blongsong, berada di lokasi pemakaman umum dan Balai Desa Blongsong. Adapun mushalla Sunan Blongsong yang saat ini berada di sebelah kompleks makam Sunan Blongsong merupakan hasil swadaya masyarakat, bukan bangunan asli masa lampau.

Kisah Sunan Blongsing tak dapat dipisahkan dengan pergerakannya melawan Pemerintah Belanda. Kediamannya menjadi tempat mengatur strategi untuk melawan penjajah. Hingga masjid dan kediamannya menjadi sasaran amukan penjajah.

Mbah Sunan memiliki karomah bisa menghilang atau tidak terlihat, sehingga penjajah sering mrngincar dan mengejar meski tidak sampai tertangkap.

Terlepas dari segala misteri asal-usul, nama serta rekam jejak, Sunan Blongsing merupakan salah satu pionir penyebaran Islam di wilayah timur Bojonegoro. Sekaligus sebagai pejuang yang getol melawan penjajahan Belanda di masa lalu.

Tags: BaurenoBojonegoroSejarahSunan Blongsong
Previous Post

Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

Catatan dari Pinggiran Hutan Jati: Menyalakan Api Cita-Cita Anak di SMPN Satu Atap Soko Temayang

12/08/2026
Logo Bodjonegoro Dulu dan Kini, Catatan Singkat Sejarah

Kapan Bojonegoro Ikut Mengikrarkan Kemerdekaan Indonesia?

17/08/2026
Sunan Blongsong: Mengasingkan Diri Karena Ada Konflik di Kerajaan

Sunan Blongsong: Mengasingkan Diri Karena Ada Konflik di Kerajaan

07/09/2026
Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

04/09/2026
Menko PMK Pratikno “Pulkam”, Bagikan T-Shirt Membangun Manusia Memajukan Kebudayaan

Menko PMK Pratikno “Pulkam”, Bagikan T-Shirt Membangun Manusia Memajukan Kebudayaan

28/08/2026
Tips Nulis Asik ala Althamira Frishka, Penulis Buku Captive of Love: Tawanan Cinta di Lautan

Tips Nulis Asik ala Althamira Frishka, Penulis Buku Captive of Love: Tawanan Cinta di Lautan

21/08/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023