Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Sosok

Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

M Tohir
31/08/2026
Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

Mahfud Ikhwan duduk lesehan di Kedai Mantri saat saya tiba. Dia mengenakan kaus oblong putih bersablon sampul buku Penembak Misterius karya Seno Gumira Ajidarma versi terbaru (Penerbit Pabrik Tulisan). Yakni sampul dengan desain seni cukil karya seniman Andre Tanama dari ilustrasi karya S. Malela yang dipakai untuk sampul edisi lama (penerbit Grafiti).

Saya pun menyapa ke beberapa teman yang saya kenal, baru kemudian menyalami Mahfud sembari memperkenalkan diri. Kulitnya tampak lebih gelap daripada 7 tahun lalu saat saya melihatnya (saya benar-benar hanya melihatnya saat itu sebab tak ingin mengganggu kegayengannya ngobrol dengan Anas AG di bawah pohon mangga) di acara Ngaostik Fest.

Kali ini, Sabtu 22 Agustus 2026, Mahfud datang lagi ke Bojonegoro. Ia menghadiri acara Menyelami Pikiran Mahfud Ikhwan yang diselenggarakan Perpustakaan Jenggala bersama Gramedia Bojonegoro

Acara dimulai pukul 15.11 WIB dan dibuka dengan penampilan baca puisi oleh Raihan Harva, seorang pelajar SMA. Saya mengenal anak itu sebagai seorang santri remaja masjid yang cenderung lembut dan pendiam. Kali ini saya menyaksikan dia tampil di muka banyak orang membacakan secara musikal puisi Apa Guna karya Wiji Tukul.

Saya ikut duduk lesehan pada karpet merah di deretan paling depan bersama Bias di samping kiri. Di samping kanan ada Elis Madina, seorang bookstagram yang bertalenta. Di dekat saya ada Ubay, perupa muda yang baru saja melaunching personal zine tentang sepeda. Menoleh ke belakang, ada sekitar dua puluh wajah muda-mudi yang saya banyak belum kenal. Sepertinya saya paling berumur. Mereka terlihat antusias. Nampak juga Yusab Alfa Ziqin, jurnalis Bojonegoro Raya duduk di pojok belakang bersama istrinya. Ada Impong Salasa juga, pegiat Relima Perpusnas RI.

Mahfud duduk lesehan di depan, di balik meja dengan sepiring buah salak di atasnya serta buku-buku karyanya yang berderet rapi. Zakiya bertindak sebagai moderator dan mengawali cerita pertemuannya dengan Mahfud Ikhwan sebelas tahun lalu melalui Kambing dan Hujan yang merupakan buku pemberian terakhir almarhumah ibunya. Saat itu dia masih SMA. Buku itu juga menjadi satu-satunya yang dia bawa saat kuliah di Semarang. Dia hanya bisa menangkap perihal kisah cinta dari novel itu. Pada pembacaan ulang saat beranjak dewasa, dia mulai bisa menangkap perihal isu sosial, masalah agama dan politik dari Kambing dan Hujan. Berangkat dengan satu buku, pulang saat lulus kuliah dia membawa 10 dus buku. Buku-buku Mahfud Ikhwan turut memantik pilihan bacaan-bacaannya.

***

Ketika Rudi Reading mengabari bahwa Mahfud Ikhwan bakal ke Bojonegoro pada Sabtu 22 Agustus 2026, saya langsung antusias menyatakan untuk datang. Saya mengajak istri saya, Bias, untuk datang. Dia bolos kerja dan saya absen acara tahlilan untuk ikut acara yang digelar Perpustakaan Jenggala bersama Gramedia Bojonegoro ini. Perpustakaan Jenggala ini sendiri merupakan situs gerakan literasi di Bojonegoro yang dikelola Rudi Reading. Acara dihelat di Kedai Mantri, Gang Dono, Desa Wedi Kecamatan Kapas.

Rudi Reading mengundang Mahfud Ikhwan ke Bojonegoro karena karya penulis asal Lamongan ini cukup relate dengan kondisi sehari-harinya.

“Saya sendiri suka lagu dangdut, meskipun banyak teman yang justru sering membully atau meremehkan dangdut sebagai musik yang dianggap kampungan atau tidak berkelas. Pengalaman orang tua saya yang dulu sering mendengarkan lagu-lagu Ida Laila juga ikut membentuk ingatan saya tentang dangdut. Jadi, ketika Mahfud banyak bercerita tentang Pantura, lagu India, film, dan berbagai hal yang dekat dengan pengalaman masa kecilnya, saya merasa cukup relate,” kata Rudi.

Apalagi, lanjut Rudi, pengalaman kepengarangan Mahfud juga banyak berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan di Pantura, termasuk lingkungan dan tempat tinggal kita sendiri. Mahfud mampu mengolah hal-hal yang sering dianggap biasa, remeh, atau bahkan kurang diperhatikan menjadi cerita yang punya makna.

“Bagi saya, itu yang menarik: membicarakan sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali justru kita lewatkan begitu saja,” ujar Rudi.

***

Berada di Bojonegoro, Mahfud tak bisa tidak menceritakan kedekatannya dengan Bojonegoro.  Ia memulai dengan menceritakan bagaimana ikatan emosialnya dengan Bojonegoro. Bojonegoro mengingatkannya dengan sahabatnya, Anas Abdul Ghofur atau Anas AG. Anas inilah yang menjadi teman Mahfud ketika di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Yogyakarta. Mereka punya hubungan yang cukup akrab. Saat itu, Mahfud belum punya cukup banyak bacaan, sementara Anas sudah sangat banyak. Dari buku-buku Anas itu Mahfud banyak membaca.

“Banyak buku-buku Anas yang menjadi teman pertama saya membaca novel, belajar sastra,” kenangnya.

Saat itu, kenang Mahfud, setiap kali menulis cerpen, pembaca pertamanya adalah Anas yang kritiknya bisa sangat jahat. Hal itu menyadarkan Mahfud pada kualitas karya. Anas bagi Mahfud adalah sejenis kritikus yang tidak tedeng aling-aling yang tidak peduli perasaan seorang teman. “Dia bisa salah. Tetapi dia menyatakan apa yang dia rasakan.”

Anas AG sendiri dikenal sebagai seorang jurnalis di Bojonegoro. Terakhir dia adalah pemimpin redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro dan juga ketua Aliansi Jurnalis Independen. Bersama beberapa kawan di Bojonegoro dia mendirikan banyak gerakan literasi, seperti Komunitas Suket di Baureno, Komunitas Sindikat Baca di Bojonegoro Kota, Djanggleng Institute, hingga menggagas Purnama Sastra Bojonegoro yang merupakan agenda perayaan sastra rutin tiap malam bulan purnama di Bojonegoro. Di Radar Bojonegoro dia mengelola satu halaman khusus untuk sastra yaitu Lembar Budaya. Dia sering menggerakkan orang untuk mengirim tulisan berupa cerpen atau puisi di sana. Di Lembar ini juga dia menulis catatan-catatan ringan tentang buku pada sub rubrik Serat Kalianyar. Beberapa tulisan pada Serat Kalianyar ini akan dibukukan oleh penerbit Nuntera.

Saat Anas AG meninggal pada tahun 2018 lalu, Mahfud berada di Yogya. Dia melayat sehari kemudian. Meninggalnya Anas jadi kehilangan paling berat bagi Mahfud. Dia mengaku trauma ketika melintasi Bojonegoro.

“Karena saya masih memiliki kedua orang tua, meninggalnya Anas adalah kehilangan paling berat bagi saya sejauh ini. Dan itu membikin saya bertahun-tahun tidak nyaman dengan Bojonegoro,” kata Mahfud.

Dia masih terkenang suasana ngobrol di warung kopi dengan Anas. Pertemuan terakhir di Bojonegoro adalah ketika mereka ngopi di warung Pak Doel Jalan MH Thamrin, saat menghadiri Ngaostik Fest pada tahun 2017.

Mahfud juga masih teringat ketika dia naik bus melewati Bojonegoro dia dikejar Anas dengan motor hingga di Terminal Lama (Taman Mliwis Putih). Anas memaksanya turun untuk ngopi dulu.

Kedekatan dengan Anas ini juga yang membayanginya ketika menulis Anwar Tohari Mencari Mati (Marjin Kiri, 2019), novel yang merupakan sekuel Dawuk (Marjin Kiri, 2017). Tokoh wartawan dalam novel itu dia bayangkan adalah Anas. Novel itu terang-terangan dia persembahkan untuk Anas, tertulis di lembar ketiga setelah halaman kredit.

“Saya tidak punya banyak teman wartawan. Hingga saat ini wartawan terbaik bagi saya adalah Anas,” katanya.

Berawal dari Menulis Hal-hal yang Dekat

Mahfud mulai menulis saat kuliah di usia 19 tahun. Saat itu dia bergabung dengan majalah kampus UGM, Balairung, bersama Anas AG. Saat itulah dia mengaku terlibat nulis bareng Anas. Bersama Anas juga, dia membentuk kelompok belajar menulis bernama Akar Angin. “Sebenarnya kosong saja namanya. Tapi saat orang nanya, Anas selalu bisa menjelaskannya secara filosofis,” kata Mahfud mengenang.

Novel pertama Mahfud berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia. Dia menulisnya mulai 2004. Saat itu dia tengah di Jakarta setelah meninggalkan Yogya. Dia lulus pada 2003. Di Jakarta dia bekerja di Utan Kayu. Di sanalah dia menemukan fasilitas untuk menulis secara memadai. Namun tak lama dia di Jakarta. Hanya satu tahun hingga kontrakannya habis. Anas menegurnya saat hendak balik ke Yogya.

“Dia bilang aku goblok, di Utan Kayu gak kenal siapa-siapa,” kata Mahfud mengenang teguran Anas AG.

Saat itu memang Mahfud tak pernah menyapa para penulis besar di Komunitas Utan Kayu (yang kelak menjadi Komunitas Salihara). Padahal ada Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Nirwan Dewanto dan para tokoh sastra lainnya. Mahfud merasa bukan siapa-siapa yang hanya mampu memandangi mereka dari kejauhan.

Setelah pulang ke Yogya dia bekerja di penerbitan buku sekolah dan Anas saat itu sudah pulang ke Bojonegoro. Di masa-masa itu Mahfud menulis buku-buku agama Islam seperti aqidah akhlak, sejarah kebudayaan Islam dan fikih sebelum akhirnya merampungkan novel pertamannya yang terbit pada tahun 2009. Novel itu terbit dan tidak membuatnya dikenal sebagai penulis. Tidak terjual serta tidak memberi uang sama sekali bagi Mahfud. Empat tahun dia menulis.

Meski demikian, kritikus sastra Katrin Bendel bilang Ulid tidak sama dengan semua novel yang sukses saat itu seperti Saman, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi. Jadi semua yang ada di sastra Indonesia pada waktu itu beda dengan Ulid. Ulid Tak Ingin ke Malaysia tidak termasuk dalam lingkaran sastra yang sedang trend saat itu yaitu antara sastra wangi dengan sastra islami. Ulid adalah cerita kecil dari desa. Ia kalah tapi tidak mengaku kalah.

Saat mengerjakan Ulid, Mahfud mengaku menulis hal yang dekat itu bagian dari hidupnya, yang terjangkau, yang ada di sekitar. Itu pula yang dia pegang untuk karya-karyanya yang lain. Dia bisa menulisnya dengan baik tanpa riset tertentu.

“Saya ada di dalam itu, saya mengalami, saya besar dan tumbuh dengan itu. Memasukkan semua hal yang akan dirasakan oleh anak yang seumuran Ulid, dan orang-orang di wilayah yang sama di mana Ulid berada.”

Selepas Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud mengerjakan novel kedua yang kelak melambungkan namanya. Tidak ingin mengalami nasib seperti Ulid, Mahfud membuat cerita yang agak mainstream, ngepop, ada cinta-cintanya. Harapannya cerita bisa dibaca anak SMA hingga ibu-ibu. Jangkauan pasar yang lebih luas. “Kelak Takmir Masjid juga akan baca,” katanya.

Kambing dan Hujan sebenarnya tidak serta merta meledak dan langsung nasibnya berubah. Itu tahun 2013. Pada mulanya penerbit menganggap masih banyak hal yang membuatnya tidak dianggap laku. Salah satunya kisah dalam novel itu dianggap kurang islami sebagai kisah religi. Misalnya ada adegan boncengan antara tokoh laki-laki dan perempuan. Itu tidak mencerminkan karakter Islami. Bahkan judul juga tak luput dari perhatian penerbit saat itu. Waktu itu judulnya Mif dan Fauzia. Kedua nama karakter itu kesannya sama-sama perempuan.

Naskah itu kemudian diikutsertakan dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014.  “Sekalian saya ubah judulnya. Sekalian tidak Islami, tidak cinta-cintaan, menjadi Kambing dan Hujan.”

Kambing dan Hujan melambungkan namanya dalam kancah sastra Indonesia. Meski begitu, novel itu tidak begitu laris. Setahun sepuluh ribuan. 0,0 sekian persennya Tere Liye. Setelah kambing dan Hujan orang kenal saya, pada 2015 saya menerbitkan ulang Ulid.”

Pada saat yang sama,  Mahfud menulis novel ketiganya, Dawuk. Dia mengaku terlalu cepat menulisnya. Bahkan novel selanjutnya, yang merupakan sekuel Dawuk, bisa dibilang juga terlalu cepat.  “Jarak Dawuk ke Anwar Tohari cepet banget. 1,5 tahun.”

Saat ini Mahfud telah menulis banyak buku dari yang fiksi hingga yang non fiksi. Yang non fiksi berupa esa-esai menyangkut tema sepak bola, film india dan musik dangdut. Total buku karya Mahfud adalah Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Kambing dan Hujan, Bek, Dawuk, Anwar Tohari Mencari Mati, Aku dan Film India Melawan Dunia, Dari Kekalahan ke Kematian, Setelah Argentina Juara: Delapan Catatan Sepakbola, Kumcer Belajar Mencintai Kambing, Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya, Melihat Pengarang Tidak Bekerja, Terkenang Nyona Risa-Riwayat Bacaan Buruk dan Pengalaman Menyenangkan Lainnya. Ulid terbit ulang edisi sepuluh tahun dengan sampul hard cover awal tahun 2026 ini.

Karya Mahfud Diterjemahkan Ke Bahasa Asing

Mahfud sah menjadi pernulis terkenal. Dia jadi penulis penuh waktu. Karyanya juga diterjemahkan bahasa Inggris hingga bahasa Arab. Akan tetapi itu tidak sepenuhnya menjadikan dia “aman” sebagai seorang penulis.

“Marjin Kiri cetakannya dikit dikit sekitar seribu. Saya rasa itu tidak aman untuk orang yang sepenuhnya menulis. Karena itu saya menulis banyak hal. Film india, sepak bola.”

Dangdut sering dianggap remeh, musik kampungan dan tidak punya tempat. Ketika Mahfud di Yogya dia merasakan itu. Begitu juga dengan film India. Hal itu memaksa Mahfud untuk harus menuliskannya. Lagu dangdut, lagu atau film India kerap mewarnai karya-karya Mahfud.

Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya adalah esai-esai Mahfud tentang dangdut.

Khusus film India dia menulis dalam blog Dushman Duniya Ka (www.dushmanduniyaka.wordpress.com). Tulisan-tulisan dalam blog itu kemudian dibukukan dalam dua jilid oleh EA Book dengan judul Aku dan Film India Melawan Dunia.

Mahfud mengaku tidak sepenuhnya membaca karya-karya bagus meskipun dia adalah pembaca yang rakus. Dia membaca banyak sekali buku. Karena rakus itulah tak hanya yang bagus yang dia baca. Mengenai itu Mahfud menceritakannya secara tegas dan penjang lebar di bukunya terbaru Terkenang Nyonya Risa dan Riwayat Bacaan-Bacaamn Buruk (Akal Buku 2026).

Melalui buku ini Mahfud menunjukkan kepada dunia bahwa bacaan-bacaannya buruk.  “Saya ingin sombong. Bacaan saya jelek tapi bisa begini.”

Yang ingin Mahfud tekankan sebenarnya proses membaca itu penting. Dalam proses membaca, kalau bisa bacaan bagus. Tapi kalau tidak bisa menemuinya maka bacaan buruk tidak apa-apa. Untuk seorang pembaca yang baik, bacaan yang buruk tak jadi masalah. Dan dalam hal-hal tertentu membaca buku-buku buruk itu ada baiknya.

“Kita nggak tahu bacaan yang baik kalau nggak tahu bacaan yang buruk kan?”

Tapi kalau ingin menulis orang harus baca bacaan bagus. Saya tidak percaya orang bisa menulsi bagus kalau bacaannya buruk.

Menurut Mahfud, kita harus punya standar. Seperti mie ayam yang disukai semua orang itu. Semua tahu mie ayam itu nggak bergizi banget. Tapi kita memakan mie ayam tidak terus-terusan. Ada jam-jam tertentu yang tidak baik untuk makan mie ayam. Kita harus tahu kita mau konsumsi apa. Sama seperti dalam makanan, di dalam sastra juga ada ahli gizinya yang kemudian menentukan standar. Kalau kemudian standar itu bermasalah, itu soal lain. Otoritas itu yang perlu ditolak, yang menekankan bahwa satu karya itu bagus secara mutlak.

“Ketika saya tahu sastra seperti sekarang, saya masih baca buku-buku buruk. Karena saya penulis novel saya bisa membacanya dengan mudah, ini ketemu ini, ketemu itu, kemudian saya buka bab terakhir. Nah persis (dugaan saya). Terlalu sederhana.”

Mahfud mengaku banyak membaca karya Seno Gumira Ajidarma. Dia cukup mengaguminya. Ceritanya yang surealis membuat Mahfud suka. Seno juga menulis tentang mitos atau cerita rakyat, orang-orang sakti seperti ki Ageng Selo. Seno banyak mengilhami Mahfud menulis yang hidup di masyakarat desa yang lekat dengan cerita-cerita mistis. Ada cerita Seno yang membekas tentang penumpang kereta api yang berjalan tapi tak pernah kembali dan menghilang. Itu cerita-cerita Seno yang coba diterapkan Mahfud di Dawuk.

Selain Seno, Putu Wijaya juga memberi dampak besar. Cerita-cerita Putu itu mengejutkan. Putu Wijaya menyebut gayanya bercerita itu menggedor dan membetot atau bahkan menggorok leher dalam artian mengusik pembaca. Cerita Putu Wijaya tentang orang yang naik bus kehilangan dompet, yang kemudian mencarinya dan tidak ketemu. Dia tanya kepada polisi tetapi saat ditanya identitasnya dia tidak bisa menjawab karena KTPnya turut hilang. Cerita Putu Wijaya memberi semacam kejutan-kejutan berpikir. Mahfud mengaku banyak kena dampak Putu Wijaya dalam membuat cerpen.

Mahfud dikenal dekat dengan karya Kuntowijoyo (almarhum). Skripsinya juga mengulas karya Kuntowijoyo. Bahkan saat novel Kuntowijoyo Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari diterbitkan pada 2025 lalu, penerbit menunjuk Mahfud memberikan kata pengantar.

“Cerita Kunto tidak desa banget seperti saya menulis Ulid atau Dawuk, tidak seperti Seno atau Putu yang kota banget. Kunto ini level kecamatan.”

Ada satu cerpen Kuntowijoyo yang cukup membekas bagi Mahfud. Cerpen itu berjudul Rumah yang Terbakar. Mahfud menceritakannya kepada kami. Cerpen itu bercerita tentang ketegangan dua desa berdampingan yang dipisahkan oleh hutan. Desa satunya kaum santri, sementara desa satunya adalah masyarakat abangan. Mereka dipisahkan oleh hutan. Di hutan itu ada sebuah rumah. Rumah itu awalnya sepi kemudian oleh salah seorang pengusahja desa bernama Bu Kasno di sulap jadi warung. Warung itu ramai kemudian jadi tempat judi hingga pelacuran. Ada kemaksiatan di tengah-tengah dua desa. Setelah Bu Kasno meninggal, rumah itu sepi. Tetapi kemaksiatan tetap berjalan. Anak-anak selalu pacaran di rumah kosong itu. Suatu hari ada ustadz muda penegak nahi munkar. Rumah itu adalah sumber kemaksiatan. Maka bagi sang ustadz rumah itu harus dibakar. Dia membakarnya sendiri di tengah malam kemudian ke desa. Selepas subuh santrinya melapor bahwa rumah di tengah hutan terbakar. Sang ustadz diam saja sambil memuji Tuhan. Si santri melanjutkan kabar bahwa ada dua orang hangus di dalamnya. Sang ustadz kaget. Ternyata ada anak desa santri dan anak abangan yang pacaran di rumah itu. Hubungan mereka tidak disetujui. Cerpen Kuntowijoyo itu sama baiknya dengan Clifford Gertz tentang agama Jawa. Cerpen Kunto mencakup gambaran ketegangan antara santri dan abangan.

“Nah saya mencoba mencakup ketegangan antara dua santri yang berbeda. Itu sebenarnya yang nanti menjadi Kambing Hujan.”

Tapi ada penulis lain yang membuat dia berani menulis novel. Yaitu penulis dari India timur berbahasa Bengal bernama Bhutibhushan Banerji. Novelnya berjudul Pater Pancali yang tergolong sangat telat diterjemahkan di Indonesia. Seting ceritanya seputar era kolonial di India oleh Inggris. Mahfud membacanya di tahun 2000an, yang dirasanya cukup telat untuk cerita yang dibuat pada tahun 1929. Novel itu mengisahkan seorang anak kecil yang sangat menyukai desa dan alam sekitarnya serta hal-hal yang sangat sederhana. Kisah itulah yang menyulut keberanian Mahfud untuk menulis Ulid Tak Ingin ke Malaysia.

“Aku iso nulis koyo ngene iki.”

Mahfud mengatakan, orang yang membaca Ulid dan pernah membaca Banerji akan merasakannya.

***

Acara ditutup sekira pukul 17.30 WIB. Kemudian akau menemani Yusab Alfa Ziqin dalam sesi wawancara. Mahfud menegaskan kembali ikatannya dengan Bojonegoro. Dia mengaku senang bisa kembali kembali ke Bojonegoro setelah bertahun-tahun dan melihat antusiasme anak-anak muda. Kedatangannya ke Bojonegro ini, kata Mahfud, adalah seperti pulang dalam cara tertentu.

Bertemu dengan anak-anak muda apalagi yang membaca karyanya bagi Mahfud adalah kemewahan seorang penulis. Suatu hal paling menggembirakan selain royalti dan memenangkan penghargaan.

“Itu perasan yang khusus bagi seorang penulis dan kreator.”

Mahfud memandang, generasi saat ini punya kesempatan yang lebih luas ketimbang generasinya. Cara bagaimana generasi sekarang sekarang menulis, menerbitkan buku, dan bagaimana menjadi dikenal lebih luas, generasi sekarang tidak harus mengalami apa yang dia alami di awal 2000-an.

Mahfud mengaku bahwa sebagian karyanya itu menyangkut Bojonegoro meskipun tidak secara langsung disebut. Apalagi saat menyebut masyarakat di tepi hutan, dalam bayangan Mahfud itu adalah masyarakat Bojonegoro, daerah yang masih banyak hutannya.

“Aku tidak bisa memikirkan sebagian setting Dawuk dan Anwar Tohari selain watu jago dan sekitarnya. Yang aku sangat akrab karena sering melewatinya.”

Sosok Anas AG, lagi-lagi tak bisa lepas terkait dengan Bojonegoro. Ketika Dawuk mendapatkan penghargaan Kusala Sastra pada 2017 silam, Mahfud justeru merasa penghargaan lebih tinggi datang dari Anas ketika dia memuji kisah Warto Kemplung itu. Sekuel Dawuk, Anwar Tohari Mencari Mati adalah hasil diskusinya dengan Anas.

Anas AG

***

Tidak ada sosok menonjol di dunia sastra dari Bojonegoro. Tapi bagi Mahfud itu bukan masalah. Sekat-sekat primordial itu, kata Mahfud, tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.  “Kalau di Bojonegoro nggak punya kayak aku, ambil saja aku. Aku tidak menulis atas nama Lamongan.”

Mahfud mengaku meski kerap diidentikkan dengan Lamongan, ia tak pernah merasa hanya mewakili satu wilayah itu. Batas-batas daerah pada dasarnya terbentuk oleh wilayah kultural yang jauh lebih luas daripada sekadar wilayah administratif.

“Ketika misalnya banyak orang baca Dawuk dan aku tidak secara spesifik menyebut itu di mana, orang bisa berebut bahwa itu ada yang menyebut di Bojonegoro, ada yang menyebut di Blora,” ungkapnya.

Sebagai penulis asal Lamongan, Mahfud mengaku jarang sekali menyebut nama Lamongan secara gamblang. Ia justru lebih sering menyebut Tuban, Bojonegoro, Gresik, hingga Surabaya. Wilayah-wilayah inilah yang membentuk karyanya.

“Secara administratif aku di Lamongan, tapi aku menghuni Gresik di timur dan Tuban di barat. Itu beda dengan Lamongan sebelah selatan. Sebenarnya akan sangat membingungkan menjelaskan cakupan dan representasi diriku atau karya-karyaku terhadap kabupaten.”

Kedekatan kultural ini kerap melampaui sekat provinsi. Mahfud mencermati bahwa pembaca di Pati, Kudus, maupun Jepara kerap merasa terhubung dengan karyanya, sementara wilayah lain di Jawa Timur seperti Malang atau Kawasan Tapak Kuda justru merasa kurang nyambung.

Karya sastra harus dinilai dari kedalaman gagasan yang dimilikinya, bukan berdasarkan domisili penulis. Seorang penulis Jakarta yang menulis warna lokal Jakarta, tidak serta merta menjadikan dia penulis lokal.

“Bagiku Yonathan Rahardjo adalah penulis nasional. Bukunya banyak, diterbitkan di Jakarta.”

***

Mahfud juga menyinggung tentang pentingnya kanon dalam sastra. Dalam cara tententu, kanon kadang menjemukan dan membuat kita terkungkung. Problemnya, apa yang dulu disebut kanon, yang kemudian dibaca sekarang, sepertinya tidak lagi. Novel yang dinyatakan sebagai kanon di tahun 80an atau 90an harus diganti atau diperiksa ulang. Meski demikian, menurut Mahfud, kanon tetap harus ada. Apalagi saat menyangkut pelajaran bahasa indonesia.

“Karena sastra Indonesia harus diajarkan di sekolah. Karena kalau enggak, kita nggak punya pintu masuk apapun untuk memasukkan sastra dalam pengetahuan umum masyarakat luas.”

Otoritas yang menentukan kanon dan tidaknya suatu karya tidak harus tunggal. Misalnya Kompas punya sendiri, Tempo juga punya sendiri. Juga yang lainnya.

Di pelajaran sastra indonesia sekolah kita masih berhenti di Seno Gumira. Itu tahun 95. Dan tentu saja hingga sekarang banyak karya yang bagus dan mungkin lebih bagus dari Seno di tahun-tahun belakang. Beberapa karya harus ada di sana. Terlepas selera kita apa. Khotbah di Atas Bukit, Pasar, Stasiun, Telegram. Afrizal malna harus dibaca sesulit apapun.

“Kalau kita nggak kenal itu susah. Apakah itu berguna atau tidak, ya itu guru bahasa indonesia urusannya.”

Mahfud sendiri pada tehun-tehun sebelumnya terlibat dalam agenda sastra masuk kurikulum. Itu semacam menentukan bacaan apa atau mana yang harus masuk dan tidak dalam kurikulum sekolah kita. Setiap waktu harus disusun karya-karya terbaik atau layak dibaca. Susunan itu, menurut Mahfud, dalam kurun waktu tertentu harus ditinjau ulang dan dibahas lagi siapa yang tetap siapa yang harus diganti.

“Menurutku diskusinya di situ. Orang kadang malas mendiskusikan itu dan menganggap diskusi itu tidak ada ukuran, mending ditiadakan saja.”

Mahfud memandang penting ukuran untuk menentukan kualitas karya. Kita harus punya ukuran mana pop mana sastra. “Terus apakah ada karya pop yang bagus ada, karya sastra yang jelek, ada. Sekarang Harry Potter itu sudah kanon, Tolkien sudah kanon.”

Tags: Anas AGBojonegoroMahfud IkhwanNovelsastrawan
Previous Post

Menko PMK Pratikno “Pulkam”, Bagikan T-Shirt Membangun Manusia Memajukan Kebudayaan

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Logo Bodjonegoro Dulu dan Kini, Catatan Singkat Sejarah

Kapan Bojonegoro Ikut Mengikrarkan Kemerdekaan Indonesia?

17/08/2026
Tips Nulis Asik ala Althamira Frishka, Penulis Buku Captive of Love: Tawanan Cinta di Lautan

Tips Nulis Asik ala Althamira Frishka, Penulis Buku Captive of Love: Tawanan Cinta di Lautan

21/08/2026
Luncurkan Pusgiri Baca, Cara Kreatif Perpustakaan Unugiri Dorong Minat Baca Mahasiswa

Luncurkan Pusgiri Baca, Cara Kreatif Perpustakaan Unugiri Dorong Minat Baca Mahasiswa

20/08/2026
Menko PMK Pratikno “Pulkam”, Bagikan T-Shirt Membangun Manusia Memajukan Kebudayaan

Menko PMK Pratikno “Pulkam”, Bagikan T-Shirt Membangun Manusia Memajukan Kebudayaan

28/08/2026
Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

31/08/2026
Perjalanan dan Kucing-kucing

Perjalanan dan Kucing-kucing

25/08/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023