Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Bojonegoro Kota

Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

Nanang Fahrudin
28/09/2026
Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

Peta lawas alun-alun Bojonegoro

Seperti apa rupa alun-alun Bojonegoro di masa lampau? Tentu saja berbeda dengan alun-alun kini. Apalagi, pada 2026 ini, alun-alun sedang direnovasi, akan makin berubah wajahnya.

Di semua daerah di pulau Jawa, alun-alun memang memiliki makna mendalam sebagai pusat kota. Pusat peradaban. Alun-alun itu akan dikelilingi oleh masjid, kantor pemerintahan, pasar, dan penjara. Dan satu lagi, alun-alun di jawa bercirikan dua pohon beringin kurung. Salah satu yang masih lestari adalah di alun-alun Yogyakarta.

Beringin kurung dulu ada di alun-alun Bojonegoro. Tapi tidak disebut secara detail, apakah beringin kurung itu berada di sisi selatan yang kini berdiri tiang bendera, atau di titik lain. Setidaknya, gambaran alun-alun itu disebutkan dalam buku Perjalanan Arya Purwalelana Mengelilingi Jawa (1860-1875), Kisah Perjalanan Pertama yang Ditulis oleh Orang Jawa dengan Gaya Prosa (2024). Buku ini karya R.M.A.A. Candranegara V yang merupakan Bupati Kudus dan Brebes. Di buku ini, ia menggunakan nama Arya Purwalelana.

Arya Purwalelana memberi gambaran wajah alun-alun Bojonegoro yang sempat disinggahinya. Alun-alun cukup luas, membentang hingga mendekati Bengawan Solo di sisi utara. Namun, sisi utara tersebut tak terawat dan hanya ditumbuhi semak belukar. Hampir tak ada orang yang berani lewat.

Sementara, kata Arya beringin kurung di alun-alun terlihat sangat kurus. Ia dan para pelancong lain enggan datang ke Bojonegoro karena kurang begitu menyenangkan. Kesan yang ia tangkap, Bojonegoro begitu tak terawat dan terkesan sebagai kota pelosok.

Setelah gambaran alun-alun Bojonegoro sekitar tahun 1860 an itu, tak banyak dokumen yang bisa saya temukan berkaitan dengan alun-alun. Namun, ada catatan menarik dari karya Titie Said dalam sebuah novelnya berjudul Bayang-bayang Kehidupan (1982). Titie yang seorang penulis kelahiran Bojonegoro itu menggambarkan cukup detail tentang alun-alun Bojonegoro semasa kolonial Belanda, tepatnya beberapa tahun sebelum Jepang datang.

Digambarkan bahwa alun-alun Bojonegoro cukup indah. Di sisi utara, Siti (tokoh dalam novel) kecil sering bermain di alun-alun waktu sore. Ia bersama teman-temannya bermain layang-layang di sekitar beringin kurung. Alun-alun juga banyak ditumbuhi pohon tunjung, dan anak-anak kecil akan memetik bunganya yang indah. Alun-alun begitu indah, hijau dan asri.

Di sisi barat, masjid Agung Darussalam berdiri kokoh, dan di sisi selatannya terdapat makam Kebo Ijo. Titie menggambarkan alun-alun di depan masjid itu selalu dipenuhi warga. Banyak tukang obat menjajakan dagangan di alun-alun.

Meski gambaran ini berada di karya sastra, tentu bisa menjadi referensi melihat alun-alun Bojonegoro. Apalagi, Titie Said memang menghabiskan masa kecil di Desa Kauman yang berada di belakang masjid agung. Titie kemudian pindah ke Malang, lalu ke Jakarta dan menjadi tokoh nasional.

Ada satu lagi sumber yang bisa digunakan melihat alun-alun. Yakni sebuah peta yang dikeluarkan pemerintah pada tahun 1946. Peta itu menggambarkan alun-alun Bojonegoro dan bangunan-bangunan yang ada di sekitar alun-lun, serta jalan-jalan wilayah kota. Jika kita bandingkan dengan kondisi kini, tentu saja sudah banyak berubah.

Dalam peta tersebut, alun-alun Bojonegoro memiliki jalan diagonal membujur dari ujung selatan Jalan Mastumapel hingga ujung utara seberang Gedung Wanita kini. Selain itu, ada jalan lurus dari arah masjid menuju kantor Pemkab Bojonegoro, sehingga jika dilihat di peta, jalan itu membelah alun-alun menjadi dua bagian: utara dan selatan. Jalan itu kini masih ada. Namun, yang menarik titik lokasi gedung Pemkab Bojonegoro sudah berubah. Karena sesuai gambar di peta, gedung Pemkab berada di Jl AKBP M Soerko kini. Atau tepatnya di utara SMAN 4 Bojonegoro kini. Hanya saja, dulu kantor Pemkab adalah bangunan tusuk sate. Artinya jika kita jalan dari arah Jl AKBP M Soeroko, akan mentok di kantor Pemkab, dan jika jalan ke barat akan sampai ke masjid Agung dengan melewati jalan yang membelah alun-alun. Konon bangunan pemkab itu dihancurkan pasukan Belanda saat agresi militer tahun 1948-1949.

Seiring waktu berjalan, wajah alun-alun ters berubah. Jika dulu ada beringin kurung, maka kini ada beberapa ikon yang “dipasang” di alun-alun. Diantaranya kayu berukuran besar yang dikenal dengan Mbah Balok.

Dikutip dari laman Pemkab Bojonegoro, kayu jati raksasa itu mulai dipindahkan pada 7 Nopember 2015. Awalnya kayu jati berada di Tempat Penampungan Kayu (TPK) milik Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Perhutani di kawasan Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, Bojonegoro, Jawa Timur.

Prosesi pemindahan kayu dibuka dengan kesenian gendruwonan, serta suara cemeti yang menyemangati 15 pasang pria yang bertugas memikul kayu jati bernama Mbah Balok tersebut. Di bagian belakang, tetabuhan gending yang diwarnai dengan tembang tulak kala yang dinyayikan oleh belasan remaja berpakaian hitam menjadi penutup iring-iringan perjalanan Mbah Balok.

Pemindahan Mbah Balok ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kemeriahan peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-338. Perjalanan membawa batang kayu yang ditemukan di dasar sungai Bengawan Solo pada 1994 lalu itu membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Kayu Mbah Balok diperkirakan mempunyai berat sekitar 3 ton.

Selain ada Mbah Balok, juga ada batu yang cukup besar. Posisinya ada di sisi timur bedekatan dengan Jalan Mas Tumapel atau gedung Pemkab Bojonegoro. Batu tersebut dikenal dengan sebutan Watu Semar. Ukurannya cukup besar dan bentuknya mirip semar. Meski sebenarnya enggak mirip-mirip juga. Namun, karena ukurannya super besar itu lah masyarakat menamai sebagai watu semar.

Watu Semar awalnya berada di kaki Gunung Pandan, kawasan desa pinggir hutan di Desa Sambongrejo Kecamatan Gondang. Lalu dipindahkan ke alun-alun Kota Bojonegoro pada awal 2015. Pemindahan atas instruksi Bupati Bojonegoro Suyoto atau biasa akrab disapa Kang Yoto.

Wilawaty dari Universitas Airlangga Surabaya pernah melakukan penelitian tentang Watu Semar. Hasilnya dipublikasikan di Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 21 No 3 tahun 2019. Titik tekannya adalah pada refleksi pemikiran dan budaya lokal masyarakat Sambongrejo, Bojonegoro.

Dari hasil penelusuran Milawaty, mitos Watu Semar berakar dari cerita Punakawan, sekelompok tokoh dalam cerita pewayangan, termasuk di dalamnya Semar yang memiliki rencana untuk mendirikan sebuah gunung di lokasi asal Watu Semar. Dalam proses pembangunan gunung ini, konon ada kekuatan ghaib yang turut membantu menyelesaikan proyek tersebut.

Namun, para Punakawan tak berhasil menyelesaikan gunung sebelum matahari terbit. Akhirnya, untuk menghindari jejak, batuan-batuan yang seharusnya menjadi bagian dari gunung dihancurkan dan tersebar ke segala penjuru, membentuk lautan batu. Salah satu batu dalam lautan tersebut adalah Watu Semar, dinamai demikian karena bentuknya menyerupai tokoh Punakawan, Semar.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat mulai mempercayai bahwa batu ini dihuni oleh Mbah Semar, sesuai dengan cerita awal dan bentuk batunya. Watu Semar bagi masyarakat sudah dimaknai sebagai saudara atau sedulur. Sehingga, oleh masyarakat batu besar itu sangat dihormati.

Inisiatif pemindahan datang dari Bupati Suyoto. Menurut dia, batu tersebut melambangkan sesuatu yang kokoh, suatu tekad yang kuat. Sehingga Bupati ingin masyarakat Bojonegoro seperti batu yang kokoh. Untuk mengangkat dan memindahkan Watu Semar dari Kecamatan Gondang ke alun-alun, diperlukan waktu 16 hari. Juga mengerahkan 6 unit alat berat, 2 crane serta dua truk trailer. Maklum, watu tersebut punya bobot 80 ton. Dana yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 300 juta.

Cerita kesakralan Watu Semar sebenarnya sudah turun temurun. Salah satunya, setiap ada semacam selamatan desa, dipusatkan di batu tersebut. Bahkan, dulu setiap warga yang lewat hendak ke pasar akan menaruh kembang atau lainnya di atas batu besar tersebut.

Ada satu mitos yang diceritakan tumur temurun oleh warga. Alkisah, pada zaman kerajaan Majapahit, Watu Semar tadi dibuat duduk oleh tiga Adipati, yakni Adipati Nganjuk, Adipati Madiun, Adipati Bojonegoro. Ketiga adipati itu bersidang menentukan batas wilayah. Tapi kini, Watu Semar telah dipindah ke alun-alun Bojonegoro.

Selain itu, di alun-alun Bojonegoro terdapat patung pahlawan Lettu Suyitno. Juga ada tugu TRIP (Tentara Republik Indoenesia Pelajar) yang berada di sisi utara.

 

Tags: Alun Alun BojonegoroSejarah
Previous Post

Sekolah Jurnalistik Mastumapel Dimulai, Materi Pertama tentang Cara Melawan Algoritma

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

28/09/2026
Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

Mahfud Ikhwan di Bojonegoro, Terkenang Anas AG dan Cerita-cerita Perjalanan Menulis

04/09/2026
Sunan Blongsong: Mengasingkan Diri Karena Ada Konflik di Kerajaan

Sunan Blongsong: Mengasingkan Diri Karena Ada Konflik di Kerajaan

07/09/2026
Pameran Temporer Hadirkan Linimasa Sejarah Bojonegoro

Pameran Temporer Hadirkan Linimasa Sejarah Bojonegoro

14/09/2026
Relima Perpusnas RI Gelar Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi 

Relima Perpusnas RI Gelar Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi 

07/09/2026
Sekolah Jurnalistik Mastumapel Dimulai, Materi Pertama tentang Cara Melawan Algoritma

Sekolah Jurnalistik Mastumapel Dimulai, Materi Pertama tentang Cara Melawan Algoritma

26/09/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023