Di tengah kemajuan layanan kesehatan modern, dukun pijat bayi ternyata masih punya tempat khusus di hati masyarakat. Itulah yang dirasakan Mbah Sulingah, yang sudah menekuni profesi sebagai dukun pijat bayi. Di usia 71 tahun, ia masih cekatan memijat bayi, dari usia 0 tahun hingga 6 tahun.
Warga Ledok Kulon, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro ini telah memijat bayi selama 40 tahun lebih, tepatnya saat ia berusia 30 tahun. Sebelumnya, Mbah Sulingah menghabiskan waktu berjualan bubur. Namun, hidup kemudian membawanya menekuni pekerjaan yang kemudian menjadi bagian penting dari kesehariannya, yaitu memijat bayi dan anak-anak. Ia mendapat keterampilan ini dari keluarganya. Setelah itu, ia memperdalam pengetahuan dan keterampilannya lewat pendidikan dan mendapat sertifikat pijat bayi.
Sejak ia memutuskan menjadi tukang pijat bayi di usia 30 tahun, banyak orangtua yang memercayakan anaknya untuk dipijat olehnya. Semangat yang tak pernah pudar itulah yang membuat Mbah Sulingah terus memberi layanan pijat bayi.
Hari-hari Mbah Sulingah dimulai sejak pagi pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, ia menerima pasien di tempat praktiknya yang juga kediamannya. Setelah beristirahat pada siang hari, ia kembali menerima pasien mulai pukul 15.00 hingga 20.00 WIB. Di tengah kesibukan itu dia juga suka jalan-jalan dan terus aktif ikut berbagai kegiatan, salah satunya adalah pengajian.
Salah satu hal yang membuat Mbah Sulingah berbeda adalah caranya menentukan biaya jasa. Ia tidak memasang tarif khusus bagi orang tua yang membawa anaknya untuk dipijat. Hal inilah yang menjadi salah satu ciri yang membuatnya tetap dikenal dan menjadi langganan bagi banyak orang. Bagi sebagian keluarga, keberadaannya bukan sekedar tempat untuk memperoleh layanan pijat tradisional, melainkan juga sosok yang sudah mereka kenal dan percaya sejak lama.
Cara Mbah Sulingah memijat pun memiliki ciri tersendiri. Sebelum memulai, pakaian pasien anak biasanya dilepas, sementara popok dan celana tetap dikenakan. Setelah itu, ia melafalkan bacaan yang diyakini sebagai bagian dari praktik tradisionalnya, yaitu mantra. Tangannya kemudian mulai bekerja dari bagian kepala, berlanjut ke tubuh, hingga ke kaki. Gerakan pijatan lentur yang dilakukan secara menyeluruh, dengan posisi tubuh anak yang sesekali diubah. Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, teknik tersebut mungkin terasa aneh. Tetapi bagi pasien yang sudah terbiasa datang, itulah bagian dari pengalaman mereka ketika anaknya dipijat oleh Mbah Sulingah
Cerita tentang “kemanjuran” pijatan Mbah Sulingah menyebar dari mulut ke mulut. Beberapa orang tua mengatakan bahwa anak mereka merasa dan terlihat lebih baik setelah mendapat pijatannya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa demam anaknya langsung turun setelah selesai dipijat. Pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian dari cerita para pasien yang ikut mempertahankan popularitas Mbah Sulingah hingga sekarang.
Kehadiran Mbah Sulingah menunjukkan bagaimana pengetahuan tradisional tetap hidup lewat keluarga, pengalaman, dan keyakinan warga setempat. Di tengah perubahan zaman, Ia tetap menjalani kebiasaan yang telah ditekuni selama puluhan tahun.
Pasien yang datang tidak hanya berasal dari Bojonegoro bahkan pulau yang berbeda. Namanya masih dikenal meskipun layanan kesehatan terus berkembang. Pada usianya yang ke-71 tahun, Mbah Sulingah masih menjalani aktivitas dengan penuh semangat. Ia tetap membuka praktik, berinteraksi dengan para orang tua, dan mengikuti kegiatan keagamaan. Rutinitas panjang yang dijalaninya menjadi gambaran tentang ketekunan seseorang dalam mempertahankan pekerjaan yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Kisah Mbah Sulingah tidak hanya tentang memijat bayi, tetapi juga menceritakan perjalanan hidup, warisan keluarga, serta kepercayaan yang terbangun di tengah masyarakat. Di balik tangan yang telah bekerja selama puluhan tahun, tersembunyi kisah perempuan yang terus menjalani pilihan hidupnya, meski usianya kini tak lagi muda.
—
Penulis adalah peserta Sekolah Jurnalistik Mastumapel









