Penulis: Zoel
Mbah Mi, perempuan tua berusia 60 tahun ini sosok yang tangguh. Ia berjalan kaki berkeliling kampung membawa tas berisi aneka sayuran dan jajanan dari kebunnya untuk dijual. Seakan tak kenal lelah, warga Desa Simo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban ini, 3 hingga 4 kali jalan kaki keliling dalam seminggu.
Pagi itu, Rabu (21/10/2026), saya ketemu Mbah Mi di depan rumah tetangga, jaraknya hanya selisih satu rumah dengan tempat tinggal saya. Ia bercerita, pada hari jualan, ia berangkat pagi pukul 07.00 WIB dan baru akan pulang jika dagangannya habis. Biasanya menjelang asar. Dagangan yang dibawa berupa sayuran hasil dari kebunnya, diantaranya daun ubi jalar, kangkung, lumbu atau talas. Masing-masing diikat seukuran genggaman anak kecil dan dipatok harga Rp 500 per ikatnya. Tak melulu sayuran hasil kebunnya, terkadang dagangannya juga berupa makanan. Seperti olahan singkong yakni gethuk.
Mbah Mi mempunyai empat anak, satu laki-laki dan tiga perempuan. Semua anaknya sudah mentas atau telah berumah tangga semua. Dan Mbah Mi ikut anaknya yang ketiga, Bu Tin. Ia bercerita, sebenarnya anak-anaknya sudah beberapa kali melarangnya untuk berjualan keliling mengingat usianya yang sudah semakin tua. Tapi Mba Mi tetap berjualan, meski tidak setiap hari.
“Senang karena bisa bertemu dengan orang yang sebaya,” kata Mbah Mi saat ditanya alasan tetap keliling jualan di usia tuanya. Di usianya sekarang, Mbah Mi memang tampak masih kuat. Seusianya, sudah jarang orang berjalan mengelilingi desa sambil membawa beban.
Ternyata, kebiasaan Mbah Mi jualan keliling ini, dilakukannya sudah sejak ia muda. Dulu, malah bisa keliling hingga antar kecamatan. Hasilnya, kata dia, lumayan untuk menambah pendapatan. Ia bersyukur anak-anaknya mapan. “Alhamdulillah anak-anak saya sudah gede semua dan mapan. Cukup saya aja yang ngerasain susahnya dulu,” katanya.
Ia pun memberi nasihat “Pokok intinya kita harus sabar, karena orang sabar itu subur”. Maksudnya akan ada kebaikan yang muncul di balik kesabaran yang kita lakukan.









