Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Sastra

Manusia Kamar dan Kita Hari Ini

Nanang Fahrudin
19/10/2026
Manusia Kamar dan Kita Hari Ini

Seno Gumira Ajidarma menulis cerpen ‘Manusia Kamar’ tahun 1980. Tapi kalau kita baca hari ini, kok rasa-rasanya relate banget ya. Bingung melihat dunia, lalu muak dengan kekacauan dunia, dan dengan sadar memilih untuk membuat garis batas dengan dunia. Garis batas itu berupa kamar dengan tembok tertutup rapat. Menyisakan sebuah lobang kecil, untuk kebutuhan tukang pos membantunya memperoleh segala yang dibutuhkannya.

“Masih jenuh melihat manusia?”

“O tentu, tentu. Di toko buku tadi banyak orang sok pintar. Ada orang mborong ensiklopedi. Melihat tampangnya sih cumabuat pajangan ruang tamu. Sialan! Dasar gombal semua orang-orang model begini”

Begitulah percakapan itu sebelum si tokoh memutuskan mengurung diri di kamar. Ia seorang penulis. Honornya ditransfer. Uang diambil tukang pos, dan kebutuhan-kebutuhan bahan makanan, minum dan semuanya dibantu tukang pos. Transaksinya hanya lewat satu lobang itu saja. Tanpa ada lainnya.

Si tokoh dalam cerita pendek tersebut benar-benar tidak mau bertemu orang. Hanya sesekali menelpon tokoh “aku” dan bahkan hingga bertahun-tahun kemudian tak ada kabarnya. Apa dia mati di kamar? Atau sudah keluar dan pindah? Tokoh “aku” pun tak mengetahuinya.

***

Aku merasakan, cerpen ini begitu tajam mengkritik manusia modern. Manusia yang hanya mementingkan citra diri. Tak penting substansi, karena terpenting adalah bungkusnya. Tokoh manusia kamar telah muak melihat kepura-puraan. Tapi ia tak bisa melakukan apapun. Sehingga pilihannya adalah menyendiri di kamar, membacai buku dan menulis.

Setidaknya ada dua arah kritik yang bisa kutangkap. Kritik pertama tentang perkembangan dunia dewasa ini. Hari ini adalah hari, di mana kebenaran bisa dibentuk, salah satunya lewat algoritma. Semua orang bisa membuat “dunia” sendiri yang dibangunnya lewat konten di media sosial. Kamu yang “A” bisa mudah terlihat sebagai “B”. Kita “B” bisa mudah terlihat “C”. Seterusnya dan seterusnya. Dunia simulakra.

Dunia kepura-puraan itulah yang sangat dibenci oleh tokoh dalam cerpen “Manusia Kamar” karya Seno. Dan bukankah dunia macam begitulah yang terjadi hari ini? Anda boleh percaya boleh tidak.

Arah kritik kedua adalah pada sikap hidup tokoh dalam cerpen. Ini penggambaran ekstrem, orang yang muak melihat kepura-puraan, yakni memisahkan diri dari masyarakat. Seakan-akan sudah tak mau melihat sisi positif dari dunia ini. Ia begitu membencinya. Sikap tak lagi mempercayai dunia yang dipenuhi orang-orang munafik.

Kalau kita amati dunia hari ini, bukankah dua hal itu mudah diiyakan karena memang begitulah kenyataannya. Meski tentu saja, dunia luar yang penuh kemunafikan dan sikap hidup yang menyendiri di kamar, tidak perlu aku maknai seekstrem begitu, tapi aku mengiyakan dua hal tersebut terjadi hari ini.

Banyak orang memandang dunia dengan kacamata tokoh “Manusia Kamar”. Hanya saja sikap hidupnya yang berbeda-beda. Apakah dia menyelinap dalam kamar lalu menyendiri sebagai sikap protesnya. Atau ia turun ke ruang publik dan menggedor-gedor untuk mengubah dunia. Atau malah menikmati dunia kini. Itulah sikap kita. Manapun yang dipilih.

***

Manusia Kamar adalah kumpulan cerpen terbit tahun 1988 oleh penerbit Haji Masagung. Ada 16 cerpen dalam buku ini. Salah satu cerpen di buku ini berjudul “Matinya Seorang Penari Telanjang”. Sehingga di kemudian hari, kumcer ini terbit lagi dengan judul Matinya Seorang Penari Telanjang. Mungkin judul Manusia Kamar kurang nendang.

Aku memang dari dulu suka buku-bukunya Seno. Aku membayangkan, Seno begitu nyaman saat menulis. Karena ceritanya mengalir, seperti orang membual, yang kita akan terkesima dengan caranya bercerita, yang pada akhirnya baru tersadar lagi ketika cerita itu tiba-tiba selesai. Dan Manusia Kamar ini aku beli ketika masa-masa mengumpulkan buku begitu menyenangkan. Mendatangi toko buku bekas, mengamati tumpukan buku, dan menemukan harta karun buku. Terkadang, memelototi postingan penjual buku online, dan berharap menemukan harta karun dengan harga murah.

Selain Manusia Kamar, aku mengoleksi Kitab Omong Kosong (cover lama), Penembak Misterius (versi sampul lama dan baru), Iblis Tak Pernah Mati, Kalatidha (novel), Wisanggeni, Trilogi Insiden, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Kematian Don Osmond, dan tentu saja buku Sepotong Senja untuk Pacarku.

Bahkan, aku juga mengoleksi buku-buku nonfiksinya, Kentut Kosmopolitan hingga buku berjudul Antara Tawa dan Bahagia. Sepertinya masih ada beberapa judul, tapi bukunya ketlisut entang di mana.

Bagaimana, kamu sudah membaca buku-bukunya Seno?

—–

Omah GangKecil, 18 Oktober 2026

Tags: Manusia KamarSastraSeno Gumira Ajidarma
Previous Post

Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Manusia Kamar dan Kita Hari Ini

Manusia Kamar dan Kita Hari Ini

19/10/2026
Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

12/10/2026
Gampang-gampang Susah Jadi Penulis dalam Workshop Literasi IKIP PGRI Bojonegoro Bareng Mastumapel

Gampang-gampang Susah Jadi Penulis dalam Workshop Literasi IKIP PGRI Bojonegoro Bareng Mastumapel

08/10/2026
Sekolah Jurnalistik Mastumapel #1 Segera Dimulai, Gabung Yuk!

Sekolah Jurnalistik Mastumapel #1 Segera Dimulai, Gabung Yuk!

23/09/2026
Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

28/09/2026
Sekolah Jurnalistik Mastumapel Dimulai, Materi Pertama tentang Cara Melawan Algoritma

Sekolah Jurnalistik Mastumapel Dimulai, Materi Pertama tentang Cara Melawan Algoritma

26/09/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023

imunify-bot-check