Mastumapel
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita
No Result
View All Result
Mastumapel
No Result
View All Result
Home Destinasi

Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

M Tohir
10/10/2026
Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

Jalan sekitaran kantor Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Kamis malam, 8 Oktober 2026, tak seperti biasanya. Pemerintah Kecamatan sedang punya gawe Festival Ledre 2026. Festival ini menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349. 

Festival Ledre ini baru pertama digelar. Ditempatkan di Desa Purwosari Kecamatan Purwosari. Kecamatan Padangan memang menjadi pelopor, akan tetapi Purwosari merupakan tempat paling masif produksi ledre.

Malam itu, ada banyak tenda UMKM di sepanjang kanan-kiri jalan yang menuju pangung utama. Jarak mulai dari gerbang masuk lokasi hingga panggung kira-kita sekitar 100 meter. Beragam produk dipamerkan di tenda-tenda itu, mulai kerajinan tangan hingga makanan dan minuman. Yang istimewa tentu saja ledre. 

Benar saja, pada malam itu sekitar 50 pengrajin ledre dari desa setempat duduk berderet rapi memamerkan proses pembuatan makanan khas Bojonegoro ini. Mereka duduk dalam naungan tenda mini yang telah ditata oleh panitia. Di depan mereka ada wajan yang tertata pada kompor dengan nyala api kecil. Pada wajan itu mereka menuangkan adonan cair yang terbuat dari tepung, air, dan santan. Setelah dituang pada permukaan wajan adonan itu diratakan dengan sepotong kayu pipih seukuran telapak tangan. 

Awalnya saya mengira itu kuas, ternyata kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa. Ada bagian pegangan dan ada bagian pipih yang dipakai untuk meratakan adonan pada permukaan wajan. Setelah rata tipisnya, adonan itu ditempong dengan potongan pisang raja yang yang kemudian diuleg agar lembut di permukaan adonan. Setelah adonan dengan balutan pisang matang kemudian dipotong rapi menggunakan kapi lalu diletakkan pada telenan. 

Di permukaan telenan tangan-tangan para pengrajin itu dengan cekatan menggulung adonan yang masih panas dan belum mengeras itu. Proses menggulung harus cepat berburu dengan adonan yang semakin mengeras kering. Agar bisa cepat harus tahan panas.

Ditemani peneliti sejarah lokal, yang kebetulan kawan baik, Ahmad Wahyu Rizkiawan, saya berkeliling dari satu perngrajin ke pengrajin lain. Selama beberapa hari terakhir ini, dia melakukan riset menarik bersama Bojonegoro Raya tentang ledre, kuliner khas Bojonegoro tersebut. Riset itu menjadi satu bundel bacaan utuh sepanjang 48 halaman.

“Di Padangan malah masih ada yang bertahan pakai anglo,” katanya sambil meruntuhkan keraguan saya untuk mencicipi ledre yang masih hangat itu.

Pengunjung memang bisa mengicipi ledre hangat hasil tangan para pengrajin itu dengan gratis. Saya memang bukan penggemar makanan manis. Tapi bukan berarti anti. Saya menjumput ledre hangat dari salah satu meja pengrajin kemudian mengelus tekstur luarnya lalu melesakkannya ke mulut.

“Enak,” kata lidah saya.

Wahyu menghentikan langkahnya di stand seorang pengrajin yang sedang jeda membuat ledre. Aku mengikutinya. Kompor ibu pengrajin itu sudah mati. Saat saya sentuh wajannya, terasa masih lumayan hangat. Tampaknya dia baru saja selesai bekerja. Namanya Siti Maryam. Tertulis pada meja kerjanya. 

Wajahnya menguarkan keramahan dan kedamaian. Saat kami tanya kenapa tidak membuat ledre, dia menjawab sudah capek. ‘Sudah dapat enam bungkus,” katanya.

Kalau satu bungkusnya ada 20 gulung, berarti dia sudah membuat 120 gulung ledre. Belum termasuk yang disantap pengunjung secara gratis. Dia mengaku tidak ngoyo. Setiap hari juga demikian. Memproduksi ledre, mengemasnya dalam plastik dan menyetorkannya ke pengepul di Padangan. Sebisa dan semampunya saja. Itu prinsipnya selama ini.

Siti Maryam sudah bisa membuat ledre sejak usianya 20 tahun. Saat itu dia adalah perempuan muda Desa/Kecamatan Kasiman. Dia belajar pada para pesohor ledre di kawasan Pecinan Padangan. Lama dia belajar di sana. Berpindah tiga tempat, salah satunya belejar ke Min Tjie yang menjadi legenda ledre itu. Dia kemudian menikah dan menetap di Desa Purwosari dan mengajarkan kemampuannya membuat ledre pada kerabat-kerabatnya.

“Sekarang saya sudah enam puluh lima tahun,” katanya sembari mencoba menghitung berapa lama dia jadi pembuat ledre.

Para pengunjung juga bisa mencoba ikut praktik membuatnya. Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah yang datang untuk membuka festival sembari menetapkan desa ini sebagai Kampung Ledre, juga sempat mencoba membuat ledre. Sembari tertawa, Bu Nurul-sapaan akrabnya-menunjukkan hasil ledre buatannya ke orang-orang yang mengerumuninya. Bentuknya tak sempurna. Tapi dia santap juga sembari tersenyum.

Nurul Hidayati, salah satu pengunjung asal Desa Korgan yang tak jauh dari Desa Purwosari juga dipersilakan menggantikan tempat duduk salah seorang pengrajin. Tangannya nampak cekatan ketika menyiram adonan ke wajan, meratakannya dan membaluri dengan pisang raja. Begitu matang dan dipindah ke telenan tiba saatnya untuk proses menggulung.

Di situ baru menjadi masalah buat Nurul Hidayati. Tangannya tak tahan panas. Beberapa kali tangannya lepas dari adonan yang sudah jadi pipih dan panas itu. Hasilnya tak tergulung sempurna. Memang dibutuhkan kecepatan dan tahan panas dalam proses itu. 

“Ini harus tahan panas. Harus cepat. Kalau nggak ya nggak jadi,” kata ibu pembuat ledre yang mempersilakan Nurul Hidayati praktik di meja kerjanya. “Lebih mudah tanam padi saja,” kata Nurul Hayati sembari tertawa.

Ada setidaknya 59 pembuat ledre di Desa Purwosari sebagaimana yang terdata dalam acara pameran atau demonstrasi pembuatan ledre di lokasi festival malam ini. Sebagian besar mereka adalah pembuat yang ketika selesai produksi akan menyetorkan hasil produknya ke penjual atau pedagang di Padangan. Mereka mengemasnya dalam plastik bening tanpa merek. Biasanya produk mereka diambil oleh pengepul dari Padangan, atau kalau tidak diambil ya diantar. 

Pengepul dari Padangan itu kemudian menyortir dan mengemasnya dalam kotak dengan mereka sendiri. Produk itu kemudian siap dipasarkan di jaringan toko-toko baik di Padangan, Bojonegoro kota, dan lainnya. Yang paling besar adalah yang di Moro Tresno, pojok timur perempatan Padangan, arah ke Ngawi. Tempat oleh-oleh itu kerapkali jadi jujugan rombongan wisatawan karena letaknya yang strategis. 

Hanya sebagian kecil yang menjual produknya sendiri. Di antaranya Ledre Premium Sultan, Ledre Persitara, Ledre Liulil Albab dan Ledre Maharani. Produk ledre tersebut sudah dipatenkan mereknya, diurus izin edarnya, dan didapat sertifikat halalnya. Produk dengan merek sendiri itu didistribusikan mereka sendiri. Tidak masuk pasar Padangan.

Hal itu diceritakan oleh pemilik Ledre Premium Sultan, Rumiati. Rumi mengaku sudah sejak tahun 2022 punya merek dan menekuni pemasaran produknya sendiri. Dibantu sembilan karyawan, dia bisa memproduksi dalam jumlah banyak. Produknya juga punya beragam varian mulai dari rasa, ukuran, hingga kemasan. Untuk rasa dia punya varian cokelat dan stroberi. Untuk ukuran dia punya yang ukuran panjang seperti umumnya dan punya yang pendek. Sedangkan untuk kemasan, dia punya varian boks dan toples. 

Produk Ledre Sultan miliknya punya jalur distribusi sendiri di luar jaringan pasar Padangan. Memang lebih susah dan tidak sebesar pasar distribusi Padangan, tetapi Rumi memilih membuka jalur sendiri. Dengan merek sendiri, Rumi mengaku bisa lebih leluasa dalam mengenalkan produknya ke jaringan-jaringan UMKM dan pasar baru. “Yang paling ramai adalah di Jalan Sunan Kalijogo, Bojonegoro Kota,” kata Rumi.

***

Capek keliling sambil icip-icip, akhirnya kami memutuskan mengempaskan diri di Deulleuda Coffee. Wahyu mengajakku beli kopi khas di Deulleuda Coffee yang harus dicoba. Hanya saja nasib baik sedang tak berpihak. Semua varian kopi jualan Deulleuda Coffee sudah ludes.

Pemilik Deulleuda Coffee, Anang Ma’ruf, mengaku memang tidak membawa banyak persediaan. Itu membuat dagangannya cepat ludes. Dan dia hanya membawa menu Ledre Series di acara ini. Ada Kopi Susu Ledre, Cokelat Ledre dan Matcha Ledre. Dia hadir di festival ini atas undangan khusus dari penyelenggara. Anang Ma’ruf ini juga asli warga Desa Purwosari.

Anang Ma’ruf memang seorang pencipta. Kopi Ledre adalah karyanya. Dan itu istimewa karena belum ada yang menyamainya. Kopi Ledre hasil temuan Anang Ma’ruf  bukan kopi yang disandingkan ledre dalam penyajiannya. Bukan pula sekadar tempelan nama. Kopi Ledre buatannya adalah hasil eksperimennya yang memadukan rasa kopi dan rasa ledre.

Saya sebenarnya sudah mencoba Es Kopi Susu Ledre pada sore sebelumnya. Tapi kurang bisa menikmatinya karena tubuh saya tengah terpanggang oleh sisa panas matahari kemarau yang masih ganas. Segelas Kopi Susu Ledre ludes dalam beberapa kali teguk saja seperti es teh. Dan itu bukan cara yang sahih menikmati kopi.

Saya juga bukan sekali dua kali datang ke kedainya di Gang Jiken Nomor 1. Hanya saja setiap kali datang ke sana, saya pasti memesan menu bernama Kopi Deulleuda yang tak bukan adalah kopi hitam. Tak pernah yang lain. Istriku yang seringnya pesan varian Kopi Ledre.

Saya tahu nama kedai Deulleuda sebelum kedai ini resmi buka di Bojonegoro. Saya tahu dari kawan saya, Sarwo Mudji, yang saat itu terlibat dalam desain interior kedai. Dia mengerjakan dinding dan menginstall hiasan taman air di dalam ruangan. Dia juga memajang beberapa lukisan karyanya di dinding-dinding. Lukisan wayang duduk di ruang barista area itu juga goresan tangan Sarwo Mudji. Ceritanya saat itu saya tengah menanyakan keberadaannya dan dia menjawab sedang bekerja di Deulleuda. Saya tidak tahu apa itu Deulleuda saat itu. Baru kemudian ketika kedai ini buka saya baru tahu itu adalah sajian kopi.

Saya ngobrol dengan Anang Ma’ruf kira-kira 7 menit. Tentang nama Deulleuda. Tentang keresahan nasib minuman daerah yang tidak seberuntung makanan. Tentang perjalanan Kopi Ledre. Saya berencana akan membuat tulisan khusus tentang Kopi Ledre beserta Deulleuda di lain kesempatan. 

Di tengah obrolan yang agak seru itu, tiba-tiba Anang dipanggil Wakil Bupati yang tengah pidato memberi sambutan di panggung. Bu Nurul menyebut nama Anang Ma’ruf, mendorongnya agar mematenkan merek dan mengurus izin. Bu Nurul juga akan berusaha menjadikan Kopi Ledre sebagai sajian wajib bagi tamu-tamu luar daerah yang datang ke Bojonegoro. Kopi Ledre akan diusahakan menjadi minuman selamat datang.

Tags: BojonegoroFestival LedreKuliner Lokal
Previous Post

Gampang-gampang Susah Jadi Penulis dalam Workshop Literasi IKIP PGRI Bojonegoro Bareng Mastumapel

DOWNLOAD BULETIN MASTUMAPEL

KONTEN POPULER

Sekolah Jurnalistik Mastumapel #1 Segera Dimulai, Gabung Yuk!

Sekolah Jurnalistik Mastumapel #1 Segera Dimulai, Gabung Yuk!

23/09/2026
Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

Beringin Kurung dan Alun-alun Bojonegoro Tempo Doeloe

28/09/2026
Sekolah Jurnalistik Mastumapel Dimulai, Materi Pertama tentang Cara Melawan Algoritma

Sekolah Jurnalistik Mastumapel Dimulai, Materi Pertama tentang Cara Melawan Algoritma

26/09/2026
Gampang-gampang Susah Jadi Penulis dalam Workshop Literasi IKIP PGRI Bojonegoro Bareng Mastumapel

Gampang-gampang Susah Jadi Penulis dalam Workshop Literasi IKIP PGRI Bojonegoro Bareng Mastumapel

08/10/2026
Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

Festival Ledre, Kopi Ledre, dan Cerita Ledre-Ledre Lainnya 

10/10/2026
Pameran Temporer Hadirkan Linimasa Sejarah Bojonegoro

Pameran Temporer Hadirkan Linimasa Sejarah Bojonegoro

14/09/2026

Mastumapel.com adalah situs berita online yang menyajikan karya jurnalistik dan fokus pada sejarah, seni, budaya, ekonomi, serta sisi-sisi kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Alamat email: [email protected]

© 2023 mastumapel.com

  • Tentang & Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Konten
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Destinasi
  • Mitos & Sejarah
  • Pendidikan
  • Sastra
  • Sosok
  • Crita

© 2023

imunify-bot-check