Sabtu, 25 April 2026. Aku mengikuti acara Jurnalistik Trip (acaranya Mastumapel.com) ke rumah seorang penulis sastra Jawa di Padangan, ujung barat Kabupaten Bojonegoro.
Kami berangkat rombongan satu mobil. Ada Mas Nanang Fahrudin (Mastumapel.com), beliau yang nyetir. Ada Parto Sasmito (jurnalis), Nisa (jurnalis juga), Pak Andika (guru SMA), dan Tohir (tukang bikin sampul buku). Ada lagi satu peserta bernama Pita (mahasiswa), dia motoran sendiri beriringan dengan kami dari pertigaan Purwosari.
Perjalanan dari tengah kota hingga Padangan memakan waktu kira-kira 40 menit. Di tengah perjalanan naik mobil rombongan, sampai Padangan aku melihat banyak bangunan-bangunan tua. Memang tak sebanyak di Surabaya (by the way aku orang asli Surabaya dan besar di sana), tapi di Bojonegoro ini ada juga. Padangan ini adalah kota lamanya Bojonegoro.
Agak susah mencari gang masuk ke rumah Pak Hoery, penulis sastra jawa yang kami tuju. Sebab tak ada tanda khusus. Begitu sampai perempatan Padangan, mobil melaju pelan sekali memastikan tidak kebablasan atau keliru masuk gang. Begitu kami masuk gang dan sampai depan rumah, Pak Hoery menyambut kami. Beliau berdiri di teras dengan kaos dalam warna putih. Begitu kami keluar mobil dan beranjak ke teras, Pak Hoery sudah ganti pakaian mengenakan kaos warna merah, celana coklat gelap dan blangkon di kepala.
First impresionku, beliau adalah lelaki tua yang sehat dan cekatan. Kerutan pada kulit dan warna rambut memang tak bisa membohongi usianya yang sudah lanjut. Tapi sepanjang pertemuan dengan beliau, aku menyimpan sangsi bahwa beliau berusia 81 tahun.
Aku belum pernah mencari tahu beliau ini siapa. Aku hanya mendengar namanya disebut oleh beberapa kenalanku di Bojonegoro ini dengan nada kagum dan penuh hormat. Toh sebenarnya aku hanya ikut-ikutan di kegiatan ini. Tohir yang mengajakku dengan iming-iming ada buku banyak di rumah si tuan rumah. Aku teringat dengan rak-rak buku tua di beberapa perpustakaan yang kukunjungi.
Aku langsung merasakan aura semangat begitu masuk rumah. Terlihat komputer beliau yang masih menyala menampilkan halaman sebuah sampul buku. Beliau mengaku tengah mengerjakan sebuah buku kumpulan puisi bahasa Jawa (gurit).
Selanjutnya aku melihat puluhan piagam penghargaan yang terpajang di dinding. Dan aku baru tahu ejaan lengkap nama: J.F.X Hoery. Nama yang keren sebagai seorang penulis.
Kami duduk di ruang tamu. Mas Nanang menyampaikan maksud dan tujuan kami berkunjung. Ini adalah kegiatan Mastumapel rutin, mengunjungi sosok inspiratif untuk seterusnya kami buat tulisan. Kami ingin menggali semangat dan inspirasi dari Pak Hoery. Kira-kira begitu yang dikatakan Mas Nanang.
Kemudian Pak Hoery menceritakan pengalaman pertama kali menulis. Ceritanya mengalir. Tidak runtut karena menyesuaikan pertanyaan dari para peserta. Aku jadi bingung bagaimana mengurutkannya. Peserta yang namanya Pak Andika paling aktif bertanya. Dia sampai bawa buku tulis bersampul gambar The Flash (tokoh DC), setiap jawaban dari pertanyaannya dia catat di buku itu. Sementara aku hanya mengandalkan ingatan. Sekarang aku banyak yang lupa. Aku menulis berdasar ingatanku saja.
“Sejak kecil di bangku sekolah sudah menulis. Awalnya suka baca-baca kemudian tergerak untuk menulis,” kata Pak Hoery.
Sampai sekarang kata-kata itu masih terngiang di benakku dan menamparku, menggoyahkan percaya diriku. Orang kalau banyak membaca pasti bisa nulis. Aku memahaminya begitu. Nah sepertinya itu nggak berlaku di aku, karena aku merasa aku sampai sekarang belum bisa menulis. Tulisanku jelek. Aku membaca beberapa buku. Kebanyakan fiksi novel atau cerpen. Tapi aku nggak bisa menulis. Tapi di saat yang sama, kalimat itu juga membuat aku semangat buat belajar nulis.
Yang bikin kagum lagi, semangat membaca Pak Hoery ini luar biasa. Dan itu sudah sedari kecil.
“Pas waktu luang sebelum tidur aku baca. Baca apa saja yang bisa dibaca,” kata Pak Hoery.
Itu hal yang membuatku iri. Aku kadang malas membaca karena banyak distraksi di zaman sekarang ini. Aku sangat ingin punya semangat membaca seperti Pak Hoery.
Selanjutnya kami naik ke lantai dua rumahnya. Di tangga ada pigura gambar Yesus dengan kutipan al-kitab ayat Yohanes. Kutipan itu ada di film lama berjudul Shawsank Redemption yang belum lama ini kutonton.
Banyak buku-buku tertata rapi di rak. Ada kira-kira 9 rak buku di lantai 2 ini. Isinya tentu saja ribuan buku. Ada kliping-kliping majalah seperti Intisari, Bobo, Panjebar Semangat, Djoko Lodang, Mekar Sari, dan lain sebagainya. Arsip majalah-majalah itu terjilid sangat rapi dan tertata berurutan di rak. Buku-buku tua juga banyak sekali. Paling banyak berbahasa Jawa. Meskipun aku orang Jawa yang setiap hari berbahasa Jawa, aku kesulitan memahami bahasa jawa di buku-buku yang di rak Pak Hoery. Mungkin pakai bahasa jawa khusus yang tidak dipakai-pakai sehari-hari.
“Bahasa tulis ini adalah bahasa pakem,” kata Pak Hoery.
Melihat-lihat buku dan majalah berbahasa jawa itu membuatku berpikir ternyata semua itu masih diproduksi. Pikirku ini zaman modern, yang dipakai adalah bahasa inggris dan bahasa – bahasa modern dunia lainnya. Tulisan yang kubaca selama ini bahasa Indonesia, inggris dan sebagian Perancis atau Belanda (meski gak paham artinya). Bahasa Jawa hanya digunakan bicara sehari-hari. Ternyata ini ada bahasa Jawa dipakai untuk novel, cerpen dan puisi (gurit). Aku belum pernah melihatnya.
Pak Hoery juga menyodorkan sebuah buku terjemahan bahasa Inggris atas karya sastra Bojonegoro berbahasa Jawa. Seorang peneliti kebangsaan Australia bernama George Quinn adalah yang menerjemahkannya. Itu menebalkan fakta bahwa bahasa Jawa bukan bahasa sepele. Pak Hoery sendiri menyebut bahasa Jawa adalah bahasa rasa.
“Misalnya kata ndasmu. Itu kan mengungkapkan rasa marah. Kalau bahasa Indonesianya jadi kepalamu, rasanya sudah hilang,” kata Pak Hoery menjelaskan.
Pak Hoery merawat semangat bersastranya dengan berkomunitas. Namanya PSJB. Semacam pelestari sastra jawa. Anggotanya banyak. Komintas ini terbuka untuk umum, bukan hanya guru atau penulis saja. “Ada pegawai PMI yang ikut angota,” kata Pak Hoery. Siapapun bisa ikut bergabung di komunitas PSJB ini. Beliau mengatakan akan memberi kabar bila ada kegiatan PSJB.
Terakhir kami foto bersama. Pak Hoery menghadiahi kami buku setebal 500 halaman berjudul Pasewakan. Buku hasil dari pertemuan penulis satra Jawa dari berbagai daerah.
__
Penulis adalah penyiar radio. Suka ngobrolin film









