Sore itu, alun-alun yang biasanya dipenuhi orang lalu-lalang berburu takjil, kini agak berbeda. Warga berhenti di tepi jalan. Menatap ke arah Pendapa Malowopati Kabupaten Bojonegoro.
Di depan bangunan itu, ada orang mengenakan kostum garuda sebagai simbol Bhinneka Tunggal Ika. Tangan garuda itu dipasang infus yang dibuat tampak begitu menyakitkan. Di sebelahnya, laki-laki bermakeup tebal, membawa topeng dan gitar ikut berorasi: betapa sakitnya garuda Indonesia di tahun 2025.
Tak jauh dari itu, di sebelah sisi utara dua laki-laki itu, terbentang kanvas bergambar garuda, tikus dan babi. Pelukis asal Bojonegoro Eko Peye dan Fathorraya mulai mengekspresikan keresahan mereka melalui berbagai macam warna cat di atas kanvas.
Ya, dua pelukis itu, dan para seniman Bojonegoro sedang merayakan Hari Teater Sedunia (Hatedu), Kamis (27/3/2025).
Para seniman itu, diantaranya adalah 11 aktor teater dari Sagiwon, Sandur Sedhet Srepet dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lintang Giri Unugiri. Mereka menyebar di seluruh penjuru alun-alun. Pentas teater yang biasanya diadakan dalam satu panggung dan dipandu pembawa acara, kini disajikan dengan berbeda, yakni di seluas alun-alun kota.
“Kalau pentas biasanya palingan yang nonton ya teman-teman dari teater sendiri. Kalau dibuat konsep menyebar seperti ini kan jangkauan penontonnya lebih luas,” terang Dicky selaku ketua pelaksana Hatedu.
Melalui pentas teater tersebut, para aktor menyajikan kisah masing-masing yang lahir dari keresahan paling dekat. Penonton cukup menikmati tanpa harus didikte makna apa yang tersirat dari semua pementasan. Penonton diberi ruang agar bebas menafsirkan apa yang sedang mereka lihat.
“Kami tidak membelenggu penonton dengan narasi-narasi. Biarkan mereka bebas memaknai pertunjukan yang kami gelar,” jelas Dicky.
Pentas yang merogoh kantong sendiri untuk segala persiapannya itu, mendapat antusiasme tinggi dari penonton yang kebanyakan merupakan masyarakat Bojonegoro sendiri. Dua orang penonton berkomentar bahwa mereka menyukai acara yang digelar para seniman Bojonegoro itu.
“Suka sama acara seperti ini,” ujar Kanifa.
Sementara teman di sampingnya berkomentar pentas-pentas yang disuguhkan selain sebagai pertunjukan, ia juga menangkap pesan upaya mengkritik kebijakan pemerintah melalui karya. “Ada nyindir pemerintahnya juga,” jelas Re.
Penonton lainnya memaknai pementasan tersebut sebagai upaya menyuarakan suara rakyat yang seringnya tidak didengar oleh jajaran pemerintahan.
“Meskipun massanya tidak banyak, tetap semangat. Karya yang mereka tampilkan dengan maksimal terlihat dari keseriusan mereka membentuk ekosistem dan memupuknya lewat event nirlaba yang terlaksana tadi,” ucap Hadi.
“Peran-peran, lukisan dan penampilan lainnya juga banyak menyuarakan suara rakyat yang kian hari tidak terwakilkan oleh yang katanya Dewan Perwakilan Rakyat. Nilai-nilai yang dimuat merupakan nilai yang relevan dengan rakyat sehingga bukan sekadar pertunjukan hiburan tanpa makna, tapi membangun solidaritas bersama rakyat di ruang-ruang kecil yang akan meluas nantinya menjadi gotong-royong Nusantara membangun jiwa raga berkemanusiaan,” terangnya.

Bojonegoro Hatedu, Lampu Kuning: Terabaikan
Menilik tiga warna di lampu merah yang biasanya menduduki perempatan atau pertigaan jalan raya, lampu kuning sering kali dikucilkan, tidak dianggap dan disepelekan. Orang-orang cenderung hanya memerhatikan lampu merah dan hijau yang menjadi simbol untuk berhenti dan lanjut.
Itulah penampilan teater Lutviar berjudul Lampu Kuning. Beberapa orang mengalami nasib seperti lampu kuning: terabaikan. Dari keresahaan pemainnya, Lutviar, drama teater itu digelar. Setidaknya melalui drama itu, orang-orang akan lebih memerhatikan lampu kuning, memerhatikan persiapan dan utamanya memerhatikan orang di sekitar tanpa memandang status sosial.
Fragmen Tertindas
Jika aktor lain menyebar ke seluruh penjuru alun-alun, Imam Nasrul yang menjadi pemain di Fragmen Tertindas ini justru mengelilingi alun-alun dengan menabur bunga mawar sebagai simbol duka.
Penindasan yang kerap kali terjadi pada kaum-kaum kecil, orang-orang berbeda, ternyata masih menjadi budaya yang masih terus lestari. Taburan bunga mawar sepanjang jalan menyuarakan rintihan-rintihan fragmen yang tertindas. Lewat aksinya, ia berharap ada telinga yang mendengar, mata yang terbuka lebar, hati yang luluh dan tangan yang mengulur.
Nemen
Nemen merupakan kosa kata Bahasa Jawa yang berarti kebangetan. Cerita pertunjukan teater Nemen yang dibawakan oleh Fikri Pragos ini mencoba menumpahkannya. Cerita bermula dari keresahannya yang melihat fenomena banyaknya orang hanya berfokus pada android dan menjadi kecanduan.
Mengenakan kostum sobek-sobek dan mata ditutup dengan android, ia menyuarakan bahwa interaksi sosial itu perlu. Ngobrol dengan keluarga atau teman menjadi penting tanpa harus memerhatikan benda pipih canggih itu. Apalagi jika terlilit judi online dan game online.

Stereotype
Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBII), stereotipe merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Bagus Indra C. yang seorang penari laki-laki sebagai aktor dari Stereotype sering kali mendapat komentar pedas bahwa laki-laki yang menari adalah ban*i.
Mengenakan kaos putih yang bebas dicoret apapun oleh penonton, ia menari mengenakan selendang hitam. Ia menari melestarikan budaya-budaya yang ia warisi. Ia menari untuk mematahkan pandangan bahwa laki-laki yang menari adalah ban*i.
Pukul Ingatan
Drama yang dipentaskan oleh seorang petinju di dalam kubangan air dan lumpur ini lahir dari keresahan anak-anak yang hidup dan tumbuh di pinggiran Bengawan Solo, Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk. Dicky sebagai aktornya. Ia mengaku kehilangan tempat bermain di sepanjang bengawan akibat pasirnya yang terus diambil untuk pembangunan-pembangunan.
Saban tahun, rumahnya menjadi langganan banjir karena tanah samping bengawan yang terus roboh dimakan arus dan truk pengeduk pasir.
Ngeratu
Pentas teater berjudul Ngeratu dibawakan aktor Gempur W. Teater ini mengisahkan bahwa orang-orang kecil tidak bisa melakukan apa-apa untuk sebuah kebijakan maupun perubahan. Mereka hanya bisa terus berkata iya, dan yang bisa dilakukan hanya bernyanyi. Karena itulah yang dibawa Gempur adalah gitar kecil dan topeng warna merah.
KIP-K untuk Apa?
Kartu Indonesia Pintar Kuliah atau KIP-K yang diperuntukkan untuk mahasiswa yang katanya aktif dan pintar melahirkan banyak pertanyaan. Sebenarnya fungsi utamanya apa? Sasaran yang tepat siapa? Itulah tema teater yang dibawakan aktor Albar.
Mengamati beberapa fenomena yang terjadi, Albar yang membawa peralatan belajar memerankan kisah ini. Bermula dari beberapa penerima KIP-K yang jusrtu menggunakan dananya tidak untuk pendidikan, memilih joki tugas dan tidak aktif pada kegiatan universitas, maka drama ini dipentaskan.
Danser Partout
Pada dasarnya, manusia yang penuh aturan ini selalu terkekang oleh norma, dogma, dan lainnya yang menjadi tembok mengespresikan diri. Begitu menurut salah satu pelaku teater Dion Sagoro.
Dion mengenakan topeng wajah bergambar kepala tengkorak. Melalui pentas ini, ia mencoba membawakan bahwa sejatinya manusia bebas berekspresi dan berkarya.
Tuhan, Info Loker
Loker atau lowongan kerja, seringkali ditanyakan orang. Karena betapa susahnya mencari pekerjaan dan minimnya lapangan pekerjaan. Mengenakan setelan jas rapi ala-ala jajaran pemerintahan, Mamat Bayhaqi menenteng kamera dan papan tulis kecil bertuliskan ‘Gratis foto asal sambat’.
Jasa gratis Mamat cukup laris. Terlebih para pentonton bisa sambat atau mengeluh apa saja di papan itu. Konsep itu, menurut Mamat, mencerminkan betapa menyenangkannya menjadi pemerintah, tinggal foto-foto saja, pulang, terus gajian.
Kidung Panulak
Jika semua drama yang disuguhkan pada Bojonegoro Hatedu adalah tentang kritik sosial, maka Kidung Panulak yang dibawakan Oky Dwi C menjadi harapan-harapan baru agar bumi pertiwi senantiasa terlindungi dan berkelimpahan.
Mengenakan pakaian khas Suku Samin Bojonegoro, Oky melantunkan kidung dengan beribu doa yang dipanjatkan. Aman dan damai untuk Pertiwi.
Garuda Sakit

Pada hari yang sama Bojonegoro Hatedu digelar, sebagian masyarakat Bojonegoro yang tergabung dalam Aliansi Veteran Memanggil menyuarakan hak mereka dalam demokrasi dengan menentang beberapa kebijakan pemerintah yang dianggap begitu merugikan rakyat, seperti Undang-undang Tentara Negara Indonesia (UU TNI).
Indonesia, yang akhir-akhir ini terus berdengung berita-berita duka, digambarkan Imam Plangton dengan penampilan Garuda Sakit. Pakaian Garuda itu tampak begitu berani, tapi ia lemah-letih dengan selang infus bertengker di tangannya.
Teater Media Berekspresi

Rata-rata orang yang tergabung dalam teater, menurut Dicky, agak sedikit susah mengungkapkan emosi melalui pembicaraan. Lewat pentas-pentas yang digelar, mereka bebas berekspresi baik dengan suara maupun dengan gerak tubuh saja.
Dari pentas-pentas yang diusung di Bojonegoro Hatedu, Dicky dan teman-teman lain berharap tetaer semakin dikenal dan teman-teman semakin menghargai diri sendiri.
“Kita sama-sama menghargai diri sendiri bahwa kita juga punya perasaan, punya emosi, punya rasa ingin curhat gitu untuk kita ungkapkan. Ya kayak semacam teater itu kan sebenarnya semacam media untuk curhat kan ya,” terangnya.
Curhat itu, kata Dicky, terkadang hanya perlu didengarkan. Sama seperti pentas tersebut, penonton cukup melihat, menikmati dan merasakan. Selebihnya hak tiap penonton ingin menafsirkannya.









