Lilik Budi Witoyo, laki-laki usia 41 tahun tersebut merupakan seorang pecinta alam. Ia menyukai mendaki gunung. Namun, ketika kegemarannya terkendala beberapa hal, ia pun berkeinginan membuat miniatur hutan.
Pencinta lingkungan asal Desa Tlogohaji Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro ini dikenal sebagai peneliti kopi dataran rendah Bojonegoro. Sabtu (18/01/2025) lalu, saya dan teman-teman mahasiswa mengikuti Jurnalistik Trip #1 yang digelar Mastumapel.com di kebun kopi milik Budi. Suasana yang sejuk serta santai dengan angin semilir menyelinap di setiap obrolan kami. Lebih asyik lagi sambil ditemani secangkir kopi dan teh.
“Kebun ini sebagai riset, apakah kopi bisa tumbuh di dataran rendah, apa tidak? Khususnya di Bojonegoro,” ucap Budi mengawali obrolan.
Laki-laki yang waktu itu mengenakan kaus biru muda itu mengatakan bahwa tanah di Bojonegoro termasuk tanah yang vertisol. Tanah vertisol adalah jenis tanah liat yang memiliki sifat mengembang dan mengerut. Tanah Bojonegoro yang retak saat kemarau dan lengket saat hujan.
“Tanaman kopi dinilai tidak cocok dan sulit tumbuh di wilayah Bojonegoro yang cenderung beriklim panas, dengan suhu rata-rata 34 derajat celcius,” terang laki-laki sarjana hukum tersebut.
Namun, ia mencoba mematahkan anggapan umum itu. Kopi pun ditanam di Tlogohaji. Jenis kopi yang ditanam Budi, berupa robusta, arabika, liberka dan ekselta. Bnayak tanaman kopi yang ada di kebunnya, yakni 120 pohon. Dia berkeyakinan bahwa selain tanaman kopi ada berbagai tanaman dataran tinggi yang bisa ditanam di dataran rendah.
Budi bercerita beberapa jenis tanaman dataran tinggi pernah ditanam, dan tumbuh, termasuk teh, namun harus mati. Dari kesenangannya dengan alam, setiap naik gunung, dia belajar mempelajari bagaimana karakter tanah dan suhu sebagai proses mempersiapkan diri sebelum memulai menanam kopi.
Awal menanam kopi, Budi terkendala proses pengolahan lahan. Dia menjelaskan, lahan jika tidak diolah terlebih dahulu, tanaman kopi akan banyak tantangannya. Kopi bisa tumbuh, namun tidak berbuah.
“Ketika lahannya belum cukup unsur hara dan suhu, ya mati, kita harus ubah dulu. Kita perbanyak unsur haranya dengan kompos, baru bisa ditanami kopi,” terangnya.

Dia menambahkan, ketika menanam tumbuhan kopi di dataran rendah ada dua treatment. Yaitu diberi kompos sebagai penambah unsur hara dan peneduh sebagai pengatur suhu.
Perawatan tanaman kopi dilakukan dengan melakukan pemupukan secara rutin dengan menggunakan pupuk organik yang mudah didapat dari sekitar rumah. Tanaman kopi disiram ketika awal penanaman saat musim kemarau, dua kali seminggu. Walau begitu dia menjelaskan bahwa bisa saja hama dan penyakit menyerang. Hama tanaman kopinya berupa kutu daun atau biasa disebut indrak.
“Saya menggunakan insektisida organik buatan teman,” jawabnya ketika ditanya strateginya menangani hama. Soal masa panen terbaik buah kopi yang sudah matang, dikatakan Budi ketika bulan Juni sampai September.









