Penulis: Mella Nindya Purnama, Melly Nanda Purnama, Fatimatus Soleha, Nafiq Lailatul Fahma
Lilik Budi Witoyo, warga Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro, berhasil mencatatkan inovasi baru dalam pengembangan kopi di dataran rendah. Di tengah tantangan tanah vertisol dan suhu ekstrem Bojonegoro, Budi sukses membudidayakan empat jenis kopi: arabika, liberika, robusta, dan excelsa, di lahan seluas 520 meter persegi sejak 2019.
Budi, yang kemudian membuat kebun kopi, memulai proyek ini dengan berbagai tantangan. Tanah vertisol yang kurang subur membutuhkan pengelolaan khusus. Ia menggunakan kompos, pupuk, dan bahan organik untuk meningkatkan kandungan unsur hara tanah. Suhu panas khas Bojonegoro juga menjadi kendala utama, sehingga Budi menanam pohon-pohon peneduh seperti pule, durian, cempedak, jambu air, mangga, alpukat, dan jeruk madu.
“Awalnya kami menyiram tanaman setiap hari selama satu tahun tiga bulan pertama. Setelah itu, penyiraman hanya dilakukan saat musim kemarau,” tutur Budi, dalam kegiatan Jurnalistik Trip #1 yang digelar Mastumapel.com, Sabtu (18/1/2025).

Kepada para mahasiswa peserta Jurnalistik Trip #1, Budi menjelaskan, ia mempelajari kebutuhan kopi dari pengalamannya di Gunung Ringgit dan Gunung Prigen, sebelum akhirnya memulai budidaya ini. Bibit kopi yang digunakan pun berasal dari lokasi-lokasi unggulan, seperti Gunung Ringgit, Batu, Kendal, dan Gunung Merapi.
Setelah mulai berbunga pada 2020, tanaman kopi di kebun ini menunjukkan hasil yang memuaskan. Meskipun luas tanah hanya 520 meter persegi dengan 150 pohon kopi, kualitasnya dianggap baik untuk konsumsi sendiri.
Saat ini, Budi juga tengah mencoba mengembangkan kopi di lokasi lain, tepatnya di Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, yakni Kokobo Forest yang bekerjasama dengan Perhutani.
Tantangan hama seperti kutu daun yang sempat mengganggu kini telah berkurang drastis. “Namun, akhir-akhir ini hama dan kutu daun juga mulai berkurang, bahkan hampir tidak ada,” tuturnya.
Keberhasilan ini menjadi inspirasi bahwa kopi dataran rendah memiliki potensi besar jika dikelola dengan tepat. Meskipun saat ini hasilnya hanya untuk konsumsi pribadi, inovasi Budi membuka peluang bagi pengembangan kopi di dataran rendah Bojonegoro untuk skala yang lebih besar di masa depan.

__________
Penulis merupakan mahasiswi IKIP PGRI Bojonegoro, peserta Jurnalistik Trip #1









