DULU ADA adalah satu suguhan mastumapel.com untuk pembaca yang budiman, guna mengenang fakta masa lalu. Dan lebih dari itu, guna mengambil makna darinya.
***
Kini, orang terbiasa mengucapkan selamat ulang tahun, selamat idul fitri, selamat menempuh hidup baru, dan ucapan lainnya, cukup dengan lewat WhatsApp. Desain kartu ucapan juga bisa dipilih sendiri dari berbagai aplikasi tanpa ada kesulitan. Dikirimpun bisa sekali kirim ke banyak orang. Semua berjalan biasa saja. Tak ada yang spesial.
Tapi, kamu tahu enggak? Dulu, era ketika ponsel belum ada. Ketika media sosial belum ada, dan semua masih menggunakan kertas. Yakni tahun 1990 hingga 2000 an, beberapa “seniman jalanan” membuka lapak menjual kartu lebaran.
Kartu lebaran dari kertas tentu berbeda dengan poster atau ucapan yang dikirim lewat media sosial. Di sana ada kebersamaan, keguyuban, dan kerukunan. Saling berbagi cerita, pengalaman, dan teknik kesenirupaan.
Pada era sebelum tahun 2000 an, adalah rentang waktu subur dan bersinar bagi penjual kartu lebaran di Kabupaten Bojonegoro. Yakni ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kepiawaian melukis ditumpahkan. Media yang dipakai pun beragam. Mulai kertas undangan, kertas film, stik es krim, disket, dan–bahkan–memakai piring/tatakan cangkir (lepek). Cat yang dipakai water colour, tinta bak, juga cat poster. Ilustrasi yang diminati berupa gambar pemandangan (realis/surealis), kartun/karikatur, kaligrafi, vignet, dekoratif, hingga abstrak.
Beberapa nama perupa yang membuka lapak kartu lebaran adalah dua pelukis Bojonegoro, Sarwo Mudji dan S. Jhon.

Menurut Sarwo, peminat kartu lebaran waktu itu, mulai dari pelajar jenjang pendidikan, masyarakat umum, sampai instansi pemerintah. Kartu lebaran selain sebagai ajang silaturrahmi guna mengucapkan selamat berhariraya dan memohon maaf, belakangan fungsinya jadi beragam. Untuk mengucapkan selamat ulang tahun, sebagai kartu motivasi, bahkan untuk PDKT ke calon pacar atau kekasih.
“Jelang berbuka puasa banyak yang ngabuburit sambil menikmati karya senirupa dari para seniman jalanan,” terangnya.
Untuk harga kartu lebaran beragam. Rata-rata mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 10.000 tergantung media yang dipakai. Bahkan kalau pesan kartu yang unik, misal surat tempo dulu harganya sampai ratusan ribu rupiah.
Dulu, saat bulan Ramadan lapak kartu lebaran sangat digemari serta ditunggu-tunggu sebelum akhirnya perlahan-lahan hilang ditelan zaman. Namun, toh demikian, tetap menjadi kenangan indah yang melekat terpatri di hati.









